Mungkin film ini ditunggu hanya karena nama Quentin Tarantino
Tarantino memang sudah dikenal dengan film-film yang tidak biasa dan selalu menyimpan kejutan. Bahkan, ia terkenal akan teknik pengambilan gambar yang tidak biasa serta cerita yang kadang nyeleneh. Kali ini, sutradara Pulp Fiction ini mencoba menceritakan kisah kehidupan para aktor di dunia Hollywood dalam mempertahankan kariernya yang mulai merosot. Rick Dalton diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan rekannya seorang stunt double Cliff Booth dimainkan oleh Brad Pitt. Dua aktor papan atas main di film Tarantino tentu sangat menjanjikan.
Kita memang disajikan kejadian-kejadian saat Rick dan Cliff menjalani hari-hari mereka, namun ternyata kejadian-kejadian ini tidak ada tujuannya hingga akhir. Hanya satu pertemuan Cliff dengan wanita hippie cantik yang akhirnya membawa kita pada klimaks di akhir film. Namun, itu pun tampak seperti plot yang ditambahkan. Yang paling tidak jelas lagi adalah peran Margot Robbie sebagai Sharon Tate, tetangga Rick Dalton. Kehadirannya sama sekali tidak memiliki tujuan hingga di akhir penghujung film, itu pun hanya secuil. Film ini benar-benar hanya menyajikan sepotong alur kehidupan masing-masing karakternya tanpa alur cerita yang jelas.
Namun, Tarantino tetaplah Tarantino. Kita dibuat penasaran akan apa yang akan terjadi sepanjang film sehingga mata tetap tertuju ke layar walau ujung-ujungnya tidak terjadi apa-apa. Film ini juga memamerkan teknik pengambilan gambar yang banyak menggunakan pergerakan kamera sehingga terasa dinamis dan penonton pun tidak bosan. Selain itu, banyak referensi karakter terkenal Hollywood yang diparodikan di film ini. Tentu saja yang sudah kita tahu ada Bruce Lee yang digambarkan sombong, tapi tidak bisa apa-apa.

Waktu 2 jam 40 menit tidak akan terasa membosankan saat menonton film ini. Klimaks film ini juga sangat khas Tarantino. Brutal, kejam, dan tidak terduga, namun mengandung unsur komedi. Setidaknya, kebosanan yang mulai hinggap setelah dua jam tidak terjadi apa-apa langsung hilang dengan klimaks ini. Tapi, ini bukan tipikal film yang bisa hanya sekali ditonton. Mungkin di kali kedua, kita baru bisa menikmati film ini. Penonton awam mungkin akan bingung dan bosan dengan film ini, tapi para pemuja Tarantino akan suka, membahas semua keunggulan film ini, dan mencoba menafsirkan semua adegan film, bagaikan kritikus festival.
Tarantino memang spesial, ia salah satu sutradara Hollywood yang tidak bisa diatur oleh studio. Semua filmnya dirilis sesuai kemauannya, tapi ia juga tidak pernah gagal memberikan kejutan di setiap filmnya. Sulit rasanya ada sutradara lain yang bisa diberi keleluasaaan membuat film dengan cerita seperti ini selain Tarantino. Bagi Anda pecinta Tarantino, jangan lewatkan Once Upon A Time In Hollywood di bioskop.
