Babylon: Chaos, Liar, Glamor, dan Terlalu Lama

by Redaksi

Babylon: Chaos, Liar, Glamor, dan Terlalu Lama
EDITOR'S RATING    

Gambaran Hollywood di era 1920-an.

Film yang mengetengahkan glamornya dunia bisnis hiburan di Hollywood sudah sering kali diangkat. Sebelumnya, ada Once Upon a Time in Hollywood yang disutradarai Quentin Tarantino dengan fokus Hollywood pada 1960-an. Lalu, mundur sedikit ke tahun 2011, ada The Artist, film hitam-putih yang mengambil latar belakang era film bisu dan bicara. Sekarang, ada Babylon dengan mengangkat era yang sama, yaitu 1920-an dan 1930-an, saat Hollywood berada di ujung kejayaan era film bisu dan memasuki masa-masa keemasan film bicara. Uniknya, dua bintang utama film ini juga bermain di film Once Upon a Time in Hollywood, yaitu Margot Robbie dan Brad Pitt.

Kita dibawa melihat Hollywood dari tiga sudut pandang: Jack Conrad (Pitt), aktor yang mulai berumur dan flamboyan; Nellie LaRoy (Robbie), gadis yang bermimpi menjadi bintang; dan Manuel "Manny" Torres (Diego Calva), pekerja kasar yang ingin terlibat di dunia film suatu hari nanti. Garis hidup mereka bertemu di satu pesta dan menjadi pembuka ke kehidupan Hollywood yang tidak hanya mewah dan bercahaya, tapi juga punya sisi buruk dan penuh kegelapan.

Dengan durasi tiga jam lebih, Damian Chazelle mencoba memaparkan terang-gelapnya pusat industri perfilman dunia ini dengan caranya sendiri. Kita dibawa melihat pesta yang riuh, glamor, dan liar, di mana apa pun bisa terjadi di sana. Bahwa, inilah yang dilihat orang-orang selama ini dan membuat siapa pun silau ingin bergabung di dalamnya. 


Chazelle pun memasukkan sebuah insiden besar yang terjadi dan hingga kini disebut-sebut sebagai "lahirnya skandal di dunia perfilman Hollywood", yaitu saat seorang aktris muda bernama Jane Thornton tewas karena OD ketika sedang berhubungan intim dengan Orville Pickwick. Meski tahun dan lokasinya dibuat berbeda, tapi ini seakan reka ulang dari apa yang terjadi pada aktris muda Virginia Rappe yang juga meninggal saat sedang berhubungan intim dengan Roscoe "Fatty" Arbuckle, salah satu aktor ternama di tahun 1920-an.

Robbie sebagai aktris utama film ini berhasil memberikan penampilan yang cukup memukau. Mulai dari menjadi gadis ambisius yang berusaha masuk ke Hollywood, menjadi bintang utama yang terkenal di mana-mana, hingga akhirnya terpuruk karena utang judi. Uniknya, ada dua adegan yang memperlihatkan karakter Robbie harus berakting berulang-ulang demi mendapatkan adegan yang diinginkan sutradara atau sesuai naskah. 

Meski seandainya dibuat 1-2 kali penonton sudah mengerti, tapi Chazelle ingin memperlihatkan bahwa seperti inilah situasi yang terjadi di tempat syuting: adegan yang harus diulang berkali-kali karena dianggap kurang memuaskan, permintaan tidak masuk akal sutradara, sampai kematian di tempat kerja karena kondisi yang buruk.


Durasinya memang terasa sangat panjang. Ada beberapa adegan yang sebenarnya bisa dipadatkan. Bagi yang tidak biasa menyaksikan drama panjang tanpa adegan aksi, mungkin akan kelelahan dan bosan di pertengahan. Untungnya, Chazelle menyelipkan adegan-adegan yang bisa mengundang tawa, baik itu yang memang murni lucu atau dark comedy.  Kita juga tahu bahwa peralihan aktor atau aktris film bisu ke film bersuara, ternyata tidak mudah. Suara mereka belum tentu enak didengar, bahkan bisa menjadi bahan tertawaan yang malah berdampak pada menurunnya karier si artis atau putus asa yang mendalam dan berujung pada kematian.

Menyaksikan Babylon jelas akan memberikan pengalaman tersendiri. Chaos, riuh, gemerlap, gelap, tertawa, dan menangis menjadi gambaran film ini sekaligus situasi di Hollywood sana. Tidak manis seperti La La Land, tapi liar dan sulit diduga.