A Big Bold Beautiful Journey: Healing Journey Dua Orang Dewasa Pencari Cinta

by Redaksi

A Big Bold Beautiful Journey: Healing Journey Dua Orang Dewasa Pencari Cinta
EDITOR'S RATING    

Percaya GPS dan sedia payung sebelum hujan!

Tahun 2025 sudah masuk perempat akhir, cukup banyak deretan film romance dengan script original yang tayang di bioskop. Setelah beberapa waktu lalu kita dibuat baper lewat Pretty Crazy dan The Materialists, kini hadir A Big Bold Beautiful Journey. Digarap oleh Kogonada yang dikenal luas lewat film drama keluarga berbumbu sci-fi, After Yang (2021) dan penulis naskah Seth Reiss, film ini digambarkan sebagai romance comedy yang eye pleasing lewat warna-warni menarik dan cerita yang magical. Namun, secara keseluruhan, apakah film ini cukup mewakili premis ajaib yang sudah digembar-gemborkan?

A Big Bold Beautiful Journey mengisahkan David (Colin Farrell) dan Sarah (Margot Robbie), dua orang asing yang berkenalan di satu acara resepsi pernikahan. Sama-sama dewasa, keduanya berinteraksi lewat obrolan singkat sambil sedikit flirting. Sarah yang carefree mendeskripsikan diri sebagai perempuan yang sulit berkomitmen dan tukang selingkuh. Sementara, David tumbuh dari orang tua rukun dan penyayang, berharap bisa menikah dan punya anak di masa depan. Merasa bertolak belakang, keduanya pun menyudahi obrolan.

Secara mengejutkan, keesokan harinya mereka kembali bertemu saat pulang dari pesta pernikahan. Saat kejadian aneh selanjutnya terjadi, barulah mereka sadar bahwa pertemuan ini ‘diatur’ oleh alat GPS aneh berbasis AI yang dipasang perusahaan penyewa kendaraan. Perjalanan pulang ke rumah pun jadi perjalanan lintas waktu dan memori. David dan Sarah "diantar" menuju 5 jenis pintu, yang secara ajaib menghubungkan keduanya dengan masa lalu, kenangan getir, dan sumber trauma dalam hidup masing-masing.


Premis powerful dan menjanjikan ini sayangnya dieksekusi dengan gaya dan penceritaan yang aneh. Mungkin, itu kalimat yang pantas untuk mendeskripsikan A Big Bold Beautiful Journey. Berbeda dengan romance fantasy yang membuat penonton (dan karakter dalam film) tercengang, atau mata terbelalak oleh segala keajaiban, berbagai hal besar dalam film ini malah dihadapi dengan datar oleh David dan Sarah. Rasanya seperti menyaksikan pertunjukan teater. Dialog yang diucapkan terdengar bagus, bermakna, cocok dikutip untuk dijadikan life quotes atau mood board di Pinterest. Namun interaksi Sarah dan David seakan terpisah tembok yang kasat mata. Indah, menyentuh, namun di sisi lain terasa jauh.

Perjalanan mereka, meski dilakukan berdua, sama sekali tidak terasa ‘berjalan bersama’ layaknya soulmate yang berpetualang bersama. Dengan banyaknya hal tidak masuk akal yang terjadi di dalam film, akting Farrell dan Robbie bisa dibilang tidak terlalu berkesan. Emosi keduanya kurang digali, interaksinya pun minim chemistry. Saking minimnya, banyak adegan yang rasanya seperti dua orang yang direkam di waktu berbeda lalu diedit menjadi satu frame.

Adanya pintu ajaib yang bisa menembus ke masa lalu juga ditanggapi dengan ekspresi dan dialog datar oleh David dan Sarah. Padahal, kalau di dunia nyata, apalagi di dunia orang dewasa, siapa pun pasti akan tercengang dengan adanya pintu semacam ini. Ditambah lagi begitu pintu dibuka, kita langsung dihubungkan dengan satu peristiwa dan lokasi yang membuat trauma. Perjalanan besar sejauh ratusan kilometer yang didefinisikan sebagai ‘big bold beautiful journey’ pun jadi terasa anyep dan biasa saja. Musik dari Joe Hisaishi, yang biasanya membuat terhanyut lewat film Ghibli, di sini tidak terasa magisnya. Bahkan, saat lampu teater menyala, tidak ada nada musik yang tertinggal di telinga.


Untungnya, film ini dibalut dengan sinematografi dan dominasi warna kontras yang apik. Munculnya Kevin Kline dan Phoebe Waller-Bridge sebagai petugas penyewaan mobil dengan selera humor yang aneh cukup menghibur, adanya panggung musikal saat David masuk ke masa SMA juga menyenangkan saat ditonton. Proses ‘healing’ David dan Sarah bertemu keluarga masing-masing juga berhasil jadi penyelesaian konflik yang menghangatkan hati. Rasa penasaran, tidak dianggap dan diabaikan yang selama ini menghantui langsung terobati.

Pada akhirnya, A Big Bold Beautiful Journey adalah perjalanan masing-masing individu untuk menemukan alasan dasar, penyelesaian, dan obat dari rasa resah dan sakit yang selama ini sulit dideskripsikan di dalam hati. Semua rasa tidak enak yang dirasakan sampai hampir berusia 40 tahun ini ternyata berasal dari diri sendiri. Memaafkan, memaklumi, dan mulai menjalani hidup tanpa rasa marah adalah satu-satunya jalan keluar untuk bisa melanjutkan hidup dengan langkah ringan.

Untuk pencinta film romance komedi yang ringan dan menyentuh dengan karakter dewasa seperti Bridget Jones, Eat Pray Love, atau The Materialists, film ini mungkin akan sedikit bikin mengerutkan dahi. Cukup ingat kata Kogonada saat konferensi pers. A Big Bold Beautiful Journey adalah film romansa dengan bumbu tragic comedy yang absurd.