Saat nyawa generasi muda hanya seharga hitungan kilometer
Tahun ini, tercatat sudah dua film yang diangkat dari karya Stephen King. Maret lalu, kita dibuat merinding lewat adegan gore dari The Monkey yang diadaptasi dari cerita pendek. Kemudian, lewat penayangan terbatas di Indonesia, menyusul The Life of Chuck yang merupakan adaptasi novel pendek berjudul sama. Kini, tayang The Long Walk yang dinanti cukup banyak orang, terutama generasi milenial pembaca setia novel karangan King. The Long Walk sendiri merupakan novel pertama yang dibuat King (dengan nama pena Richard Bachman) saat masih duduk di bangku kuliah. Dari segi cerita, memang terasa sekali emosi mentah yang tertuang di dalamnya, baik dari alur sampai penggambaran karakter. Begitu versi filmnya rilis, banyak review positif menyebut ini adalah film adaptasi terbaik dari karya King.
The Long Walk mengambil setting satu masa di Amerika, saat negara diambil alih dan dipimpin secara penuh oleh pihak militer. Untuk membangun patriotisme dan semangat kebersamaan, digelar acara tahunan Gerak Jalan Jauh (The Long Walk). Remaja laki-laki dari berbagai wilayah diminta mendaftar, lalu berkumpul di titik start di hari dan jam yang telah ditentukan. Seperti lomba lainnya, pemenang hanya satu. Bedanya, di lomba Gerak Jalan Jauh ini, tidak ada titik akhir. Semua peserta harus terus berjalan dengan kecepatan stabil 3 mil per jam. Tidak boleh lebih ataupun kurang karena setiap langkah melambat, akan muncul peringatan. Sekali berhenti, nyawa peserta langsung melayang. Pemenang akan otomatis ditentukan saat tersisa satu orang di jalan paling ujung, dengan besaran hadiah yang tak terhingga. Di sisi lain, semua yang terjadi ditampilkan lewat siaran langsung untuk ditonton warga lainnya.
Hal paling menyeramkan dari film horor adalah saat premisnya terasa believable dan nyata. Ketika hak hidup, harapan, dan rasa bahagia yang seharusnya ada di dalam diri manusia jadi sesuatu yang sulit diraih. Ide cerita penuh agony seperti ini memang Stephen King jagonya. Francis Lawrence yang sudah berpengalaman menyutradarai saga The Hunger Games kembali menunjukkan tangan dinginnya saat menggarap The Long Walk. Sepanjang durasi 1 jam 48 menit, hampir 90 persen adegan diambil saat peserta melakukan lomba Gerak Jalan Jauh. Berhasil mewujudkan visualisasi dari versi novel? Jelas berhasil. Apakah membosankan? Bisa iya, bisa juga tidak.

Karena bergenre horor distopia, mood film ini jelas tidak meriah atau penuh sorot lampu. Wajah muram, pilihan wardrobe yang dominan earth tone, plus lanskap dan jalur perjalanan yang selalu lurus beraspal bisa membuat penonton jenuh, bahkan mengantuk. Ditambah lagi, film ini memang padat dialog dan sering disisipi white noise suara derap langkah kaki. Akan tetapi, di sisi lain, justru dialognya-lah yang menjadi kekuatan nomor satu dari The Long Walk.
Untuk yang pernah membaca versi novelnya, dipastikan ada rasa haru tiap ada dialog yang familiar terutama dari Raymond Garraty si peserta nomor #47 (Cooper Hoffman), Peter McVries #23 (David Jonsson), dan Hank Olson #46 (Ben Wang). Harapan dan impian akan masa depan, humor, optimisme, sampai adu mulut terus terucap di sepanjang perjalanan. Karakter tiap peserta juga dibuka secara bertahap, membuat kita berkenalan, ikut merasa akrab, dan akhirnya simpatik terhadap semuanya. Kita juga bisa dibuat marah, tersinggung, sampai patah hati lewat karakter Gary Barkovitch #5 (Charlie Plummer) dan Stebbins #38 (Garret Wareing). Dan juga, semua penonton dijamin merasakan emosi plus rasa mual yang sama terhadap Sang Mayor (Mark Hamill) karena berhasil mewujudkan karakter diktator yang gelap mata.

Satu kekurangan dari film ini mungkin di menit-menit terakhir saat ending. Emosi yang sudah dibangun di sepanjang durasi rasanya terlalu flat jika diakhiri dengan adegan sesimpel itu. Plus, lagi-lagi bagi yang sudah membaca novelnya, bersiaplah menghadapi akhir yang berbeda. Tidak terlalu mengecewakan, namun tidak mengejutkan juga. Yang pasti, akting total semua cast dalam menggambarkan lelah fisik dan mental akibat jalan kaki yang amat jauh patut diacungi jempol.
Secara keseluruhan, The Long Walk memang jelas menggambarkan betapa menyedihkannya nasib warga yang hanya dijadikan tontonan dan pemuas ego pemerintah. Di sisi lain, optimisme, persahabatan, dan ikatan kuat yang terbentuk dari tiap peserta membuat kita percaya bahwa seburuk apa pun situasi dunia, tetap ada manusia baik yang tetap memperlakukan sesama seperti layaknya manusia. Tambahan lain, pastikan tidak ada anak-anak yang menonton karena film ini diberi rating 17+ dan banyak memperlihatkan adegan sadis yang eksplisit.
