Teror kepada Dan Torrance masih berlanjut.
PERINGATAN:
Ulasan
ini mengandung spoiler bagi yang belum menonton The Shining.
Di tantangan kedua dalam Ready Player One, Wade dan kawan-kawannya masuk ke dunia The Shining dengan bermodalkan kalimat “The creator who hates his creation.”
Meski banyak dianggap sebagai salah satu film horor terbaik, namun Stephen King
sendiri tidak suka dengan adaptasi The
Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubrick. Menurutnya, banyak adegan
yang berbeda dengan bukunya dan juga karakterisasi yang berubah. Terlepas dari
ketidaksukaan King pada adaptasi The
Shining, sekuel berjudul Doctor Sleep
kini telah rilis di bioskop-bioskop.
Meski sekuelnya terpaut jarak 39 tahun, namun kisahnya
sendiri dimulai hanya beberapa minggu (atau bulan) dari kejadian di The Shining. Danny Torrance, alias Dan,
berusaha menaklukkan ketakutannya terhadap makhluk-makhluk dari Hotel Overlook.
Dibantu mendiang Dick Hallorann, mantan koki yang dibunuh ayahnya, Dan berusaha
mengunci ingatan itu dan memendam kemampuannya yang disebut “shine”. Ternyata, selain Dan, berbagai
anak di seluruh Amerika juga memiliki kemampuan ini. Namun, mereka semua tidak
aman karena sekelompok gipsi pengembara bernama True Knot “memakan” kemampuan
yang disebut “Steam” tersebut untuk memelihara
kekuatan dan usia mereka agar bisa hidup panjang. Awalnya cuek, kini Dan dewasa
harus berhadapan dengan True Knot dan pimpinannya, Rose The Hat, yang mengincar
Abra, seorang gadis kecil dengan kekuatan “shine”
yang luar biasa.
Sebagai sutradara dan penulis naskah, Mike Flanagan (kreator
dan sutradara serial Netflix The Haunting
of Hill House) sukses menghadirkan kisah yang sama mencekamnya dengan The Shining. Meski pembangunan karakter
dan konfliknya cukup perlahan, namun penonton tidak akan merasa bosan, malah
penasaran menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa adegan cukup disturbing meski pun tidak banjir darah.
Flanagan menyerahkannya kepada para penonton untuk berimajinasi dan menempatkan
diri mereka ke posisi korban True Knots.

Berusaha membangun feel
bahwa ini merupakan sekuel dari The
Shining, musik yang dipakai pun masih bernuansa sama sehingga sesekali
penonton akan terbayang-bayang dengan film pertamanya. Apalagi, saat penonton
dibawa mengunjungi Hotel Overlook kembali. Meski tidak menghadirkan interior
megah hotel secara keseluruhan, namun beberapa ruang ikonik seperti The Gold
Room atau pun kamar 237 kembali dihadirkan, lengkap dengan “penghuninya”.
The
Shining (1980) memiliki perbedaan dengan bukunya, di mana
Hotel Overlook masih berdiri. Padahal, di akhir bukunya, King meledakkan hotel
tersebut sebagai upaya Jack Torrance menyelamatkan istri dan putranya.
Perbedaan tersebut dengan cerdik diaplikasikan oleh Flanagan sehingga Doctor Sleep tidak hanya menjadi sekuel
dari The Shining versi film, namun
juga memperbaiki perubahan yang dilakukan Kubrick.

Ewan McGregor dan Rebecca Ferguson jelas adalah dua ujung
tombak film ini. Aktingnya keduanya sangat memikat. Meski mereka baru
berhadapan menjelang film berakhir, namun adegan yang menampilkan keduanya
terasa intens. Membuat penonton dijamin tidak mau melewatkan sedikit pun jalinan
kisah Doctor Sleep bahkan untuk ke
toilet sekali pun.
Dengan kesuksesan IT
dan kini Doctor Sleep, rasanya
tinggal menunggu novel-novel horor King yang lain diadaptasi ke layar lebar
atau bahkan remake dari film-film
lamanya dihadirkan kembali dengan sentuhan yang lebih modern. Doctor Sleep jelas sebuah sekuel yang
tidak boleh dilewatkan, apalagi jika Anda penggemar The Shining.