Bad Boys: Ride or Die - Aksi Bela Atasan yang Disajikan Secara Stylish

by Redaksi

Bad Boys: Ride or Die - Aksi Bela Atasan yang Disajikan Secara Stylish
EDITOR'S RATING    

Aura Michael Bay sangat kental di film ini

Nasib Bad Boys bisa dibilang seperti Fast and Furious. Dulu dibuat layaknya film aksi biasa yang memperlihatkan dua orang polisi berkulit hitam memberantas narkoba di jalanan Miami, kini film terbarunya dibuat jauh lebih stylish dan gila. Namun, tentunya tidak ada parade mobil mewah yang super cepat atau adegan absurd terbang keluar angkasa. Meski naik level, Bad Boys tetap "down to earth" dengan tidak meninggalkan akar cerita awal mereka. Kini, duet bapak-bapak ini kembali di film keempat yang mendapat subjudul Ride or Die dan merupakan sekuel langsung dari film sebelumnya.

Kali ini, Detektif Mike Lowrey (Will Smith) dan Marcus Burnett (Martin Lawrence) menghadapi rintangan berat saat berupaya membersihkan nama mendiang Kapten Conrad Howard yang dituduh menjadi perantara antara Kepolisian Miami dengan jaringan kartel. Namun, kasus ini ternyata melebar semakin cepat dan berbalik menjadikan Lowrey dan Burnett buronan. Mereka harus berpacu dengan waktu, bukan hanya untuk membersihkan nama baik Kapten Howard, tapi juga melindungi orang-orang yang mereka cintai. 

Secara cerita, Bad Boys: Ride or Die tidak menyajikan hal yang istimewa. Siapa "orang dalam" yang bekerja sama dengan kartel pun rasanya bisa ditebak dengan mudah karena formulanya sudah sering dipakai di film-film sejenis. Namun, duet sutradara Adil El Arbi dan Bilall Fallah berhasil mengemas hal-hal klise di dalamnya menjadi khas Bad Boys: penuh ledakan, aksi intens, dan jangan lupakan mulut bawel Martin Lawrence. Film ketiga yang mereka pegang sebelumnya jelas dipandang sukses besar karena meraup pendapatan hingga $426.5 juta dengan bujet produksi hanya $90 juta. Karena itu, wajar jika mereka kembali dengan suntikan bujet yang cuma naik sedikit. Meski begitu, hasilnya jelas bakal disukai para pencinta Bad Boys atau penyuka film-film aksi. 


Will Smith dan Martin Lawrence memang punya chemistry yang kuat sebagai rekan polisi. Salah satu buddy cop yang bisa dibilang legendaris, selain beberapa nama lainnya seperti Jackie Chan-Chris Tucker (seri Rush Hour) atau Mel Gibson-Danny Glover (seri Lethal Weapon). Selain dua nama ini, tentunya beberapa karakter yang mencuri perhatian di film ketiga kembali dihadirkan, seperti Vanessa Hudgens, Alexander Ludwig, dan Paola Núñez. Mengecilnya tim AMMO yang membantu Lowrey dan Burnett di film ketiga membuat setiap karakter mendapat screentime yang cukup sehingga tidak sekadar tempelan semata. 

Satu hal yang menonjol dari Bad Boys: Ride or Die ini adalah penggunaan kameranya yang dinamis. Aksi drone yang mengambil adegan dari atas lalu menukik tajam untuk kemudian mengangkasa lagi mengingatkan kita pada gaya kamera Michael Bay, entah di Transformers atau Ambulance. Sayangnya, terkadang, penggunaan kamera dinamis ini terasa berlebihan terutama di adegan pertarungan cepat. Penonton seakan tidak diberi jeda beberapa detik untuk melihat apa yang terjadi di layar karena adegan berpindah dengan sangat cepat. Bikin pusing untuk yang posisi duduknya cukup dekat dengan layar saat menontonnya. Namun, di adegan tembak-tembakan, Adil dan Billal menghadirkan treatment yang menarik dan memberi warna yang baru serta segar di dunia Bad Boys. Alih-alih memakai sudut pandang orang ketiga, penonton dibuat seakan-akan sedang bermain game dengan menghadirkan POV orang pertama. 

Dengan homage kepada Michael Bay di film ini melalui gerakan kamera, ledakan, dan gaya sinematografinya yang stylish, Bad Boys: Ride or Die jelas tidak boleh sampai dilewatkan mereka yang besar dengan menonton Detektif Lowrey dan Burnett beraksi. Memang, film ini tidak menghadirkan middle atau ending credit scene yang menyiratkan bahwa akan ada lanjutannya. Namun, kalau hasilnya mampu menyamai bahkan melebihi film ketiga, siapa sih yang tidak tergiur untuk melanjutkan?