Saksikan di bioskop dengan layar terbaik dan super besar
Ang Lee memang dikenal sebagai sutradara yang jenius. Ia kerap
menghasilkan karya-karya yang memorable
dalam dunia perfilman. Semua orang pasti tahu Brokeback Mountain dan Life of
Pi yang sensasional. Namun, di luar kecemerlangannya itu ada juga film-film
yang patut dilupakan seperti Hulk. Gemini Man mungkin masuk ke kategori
yang kedua. Film aksi terbaru Ang Lee ini mengisahkan Henry Brogan (Will Smith)
yang harus menghadapi kloningannya sendiri. Sebuah premis sederhana dengan
kisah yang juga sederhana dan deretan pemain yang seperti seadanya saja.
Begitulah film ini, semua serba sederhana. Jika ada yang digembar-gemborkan, mungkin
tingkat kejernihan film ini yang direkam dengan format 3D dan frame rate 120 HFR. Menontonnya seperti
melihat film di TV UHD super besar.
Film ini terasa sepi, aktor yang terlibat maupun extras yang ada di lokasi terasa sangat
sedikit. Beberapa adegan terlihat kosong padahal sedang ada aksi kebut-kebutan
di tengah kota, ke manakah orang-orang? Terasa sekali jika lokasi syutingnya
ditutup dan hanya ada beberapa figuran. Adegan aksinya lumayan, tapi bukan
sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Will Smith melawan Will Smith
muda bukanlah sesuatu yang membuat tercengang, kecuali ada The Rock versus The
Rock. Mungkin hasilnya akan lebih wah dengan efek yang lebih memukau.
Gambarnya yang super terang dan jelas membuat efek 3D-nya sangat
bagus. Warna-warnanya jelas dan bening. Layar bioskop tidak ubahnya seperti TV
Super Ultra HD yang sangat besar, namun ini membuat feel cinematic-nya menjadi hilang. Kita seperti benar-benar melihat film
di TV layar besar. Pernah kan jalan-jalan ke mall dan melihat barang-barang
elektronik lalu ada TV keluaran terbaru dengan layar super besar dan jernih
sedang menayangkan film dengan kualitas 4K/8K? Nah, begitulah perasaan kita saat
menonton Gemini Man.

Smith memamg bukan aktor kacangan. Ia mampu membawakan dua
karakter dengan mudah. Yang kurang meyakinkan justru dua aktor ternama lainnya,
yaitu Mary Elizabeth Winstead dan Clive Owen yang berakting ala kadarnya.
Dengan Lee di kursi sutradara, harusnya mereka bisa lebih meyakinkan, tapi
sepertinya Lee tidak mau repot-repot mengurusi akting pemainnya dan fokus pada
gimmick 120 HFR.
Film ini tergolong film medioker, apalagi jika kita tidak menyaksikan di medium yang menggunakan efek 3D dan mendukung resolusi tinggi untuk gimmick-nya. Hasilnya adalah film aksi Will Smith yang sudah pernah kita lihat untuk kesekian kalinya.
