Perjalanan mengantar anak ke sekolah jadi menegangkan
Meski sudah memasuki usia senja, namun kebintangan Liam Neeson belumlah padam. Kariernya di dunia perfilman pun belum hilang sama sekali. Ia secara konstan tampil di film-film aksi kelas B yang tidak berbujet besar, tapi tetap seru ditonton. Kali ini, ia tampil dalam Retribution, sebuah remake dari film Prancis-Spanyol El desconocido yang juga pernah diadaptasi Korea Selatan dengan judul Hard Hit.
Matt Turner, seorang penasihat finansial, suatu hari diminta sang istri mengantar kedua anaknya ke sekolah. Meski enggan karena harus melakukan telepon penting, Matt tetap melakukannya. Di tengah jalan, sebuah ponsel berbunyi. Si penelepon mengatakan bahwa ia menaruh bom di bawah kursi mobil dan akan meledak jika salah satu penumpang keluar atau kalau Matt menghubungi polisi. Dengan nyawa dirinya dan kedua anaknya di bawah ancaman, Matt terpaksa mengikuti permainan si penelepon gelap sambil mencari akal untuk menyelamatkan keluarganya.
Retribution membangun ketegangan secara perlahan dengan hanya memanfaatkan ruangan di dalam mobil. Karena itu, tidak butuh banyak adegan aksi seperti di John Wick atau The Equalizer. Dengan begitu, cukup cari aktor senior yang bisa tampil meyakinkan sebagai ayah yang terancam dan harus memutar otak untuk menyelamatkan keluarganya. Liam Neeson adalah pilihan tepat. Usianya memang sudah 71 tahun dan mungkin kemampuan berkelahinya di depan layar akan terlihat seperti John Wick di film keempat atau Indiana Jones di film kelima, lambat dan terlihat lelah, tapi untuk tampil sebagai ayah yang tertekan karena diancam bom, akting Neeson jelas tidak perlu diragukan lagi.

Secara cerita, tidak ada yang istimewa dari Retribution. Kalau sudah menonton film originalnya atau versi Korea Selatan mungkin sudah tahu ending-nya akan seperti apa (meski dibuat sedikit berbeda). Twist yang dihadirkan di ujung cerita pun juga tidak membuat penonton terkejut karena mungkin sudah bisa menebak dari awal. Yang membuat penonton penasaran adalah menonton Matt Turner "disetir" sedemikian rupa hingga berkeliling kota dan melihat kematian rekan-rekan kerjanya serta menantikan akhir film untuk tahu maksud si pelaku.
Sayangnya, ketegangan dan misteri yang sudah dibangun sejak awal hingga 3/4 film, ditutup dengan konklusi yang terlalu mudah. Setelah ancaman sepanjang film, sang pelaku membongkar kedoknya begitu saja dan membeberkan alasannya membuat Turner kelabakan sepanjang film. Alasannya pun terasa rumit untuk dipahami jika dibandingkan dengan versi Korea-nya.
Terlepas dari premis yang cukup klise, di mana keluarganya terjebak dalam situasi antara hidup dan mati (hanya berbeda latar saja), akan selalu ada penggemar setia Liam Neeson yang menunggu film-filmnya hadir di layar lebar. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa ia sudah tidak sejawara saat Taken dirilis 15 tahun yang lalu, tapi gaharnya Neeson tetap terasa.
