Yang satu penyanyi tampan, yang satu lagi sutradara ganteng dan wajah Batman yang baru. Seharusnya jadi film yang sangat menjanjikan, namun ternyata malah membosankan dan seolah kehilangan arah, di tengah keindahan Costa Rica yang eksotis. Baca ulasan review editor kami disini!

Bagi kebanyakan dari rakyat Indonesia, judi bukanlah hal yang lumrah dan lazim ditemui. Mungkin karena prakteknya yang lebih sering sembunyi-sembunyi, di berbagai lapisan masyrakat dari bawah hingga ke atas. Tapi di luar negeri, praktek perjudian tentu saja merupakan hal yang dilegalkan. Ada banyak juga film yang mengangkat tema ini, you can easily find it. Dan kini ada Runner Runner, film yang memiliki jajaran cast yang terlihat begitu menjanjikan.
Seorang mahasiswa Princeton, Richie Furst (Timberlake) yang mencari uang kuliahnya dari judi poker online mengalami kekalahan sebesar 17 ribu dolar. Richie lalu menemukan fakta bahwa ia telah ditipu dan bertekad untuk mendapatkan uangnya kembali. Segera terbang ke Costa Rica dan menemui pemilik situs judi online, si kaya Ivan Block (Affleck). Bukan hanya menerima uangnya kembali, Richie kemudian malah ditawari untuk bekerja dengan Ivan, mendapatkan uang yang berlimpah. Ditambah lagi dengan kehadiran rekan kerja Ivan yang cantik, Rebecca Shafran (Arterton), membuat Richie semakin larut kedalam kebahagiaan. Sampai tiba saatnya ia dicegat oleh Agen Shavers (Mackie) yang mengancamnya untuk bekerja sama untuk menangkap Ivan atau ia tidak akan pernah bisa kembali masuk ke AS. Richie pun menghadapi dilema : apakah Ivan yang sangat dihormatinya itu memang sejahat apa yang dikatakan Shavers? Kalaupun iya, haruskah ia mempertaruhkan peruntungan baiknya demi nurani?

Seperti yang sudah saya katakan di awal tadi, dilihat dari jajaran cast, Runner Runner sebenarnya sangat menjanjikan. Si tampan Justin Timberlake yang sedang sangat naik daun dengan album terbarunya plus Ben Affleck yang namanya sedang menanjak naik dengan karir menjanjikan sebagai sutradara (dan tentu saja, sebagai Batman yang baru!). Sebagai pemanis yang ditugaskan menengahi keduanya dan femme fatale ada Gemma Arterton yang memukau. Dan track record Furman sendiri pun cukup meyakinkan dengan The Lincoln Lawyer di tahun 2011. Ditambah dengan naskah yang ditulis Koppelman – Levien yang sebelumnya menulis naskah Ocean's Thirteen, di atas kertas seharusnya Runner Runner bisa menjadi sebuah film yang baik, namun pada kenyataannya malah membosankan.
Padahal di paruh awal filmnya sendiri, Furman membawa kita secara cepat dan intriguing ke dalam ceritanya yang lumayan cepat dan menghentak, membuat penonton agak sedikit kesulitan untuk memahami istilah dalam dunia perjudian online. Namun kemudian malah keteteran sekali ketika memasuki second act dan third act terasa begitu terburu-buru dan 'nanggung'. Sedikit kejutan di akhir memang, tapi tidak cukup mengatasi keseluruhan filmnya.
Hal ini kemudian ditambah dengan akting Timberlake yang terasa biasa saja dan tidak mampu memberikan performa prima sebagai leading actor. Karakternya terkesan tidak konsisten dan turn overnya pun tidak meyakinkan. Dan entah kenapa, saya merasa Affleck terasa miscast dalam perannya sebagai Ivan yang charming namun berbahaya. Mungkin karena Affleck terbiasa dengan karakter protagonis sehingga kurang cukup 'jahat', entahlah. Gemma Arterton cukup apik memainkan porsinya sebagai pemanis. Menurut saya, Anthony Mackie justru cukup mencuri perhatian sebagai Agen Shavers, yang walau tipikal dan terlihat seperti prototype Denzel Washington sebagai 'bad cops', memberikan hentakan yang penonton butuhkan.

Toh bukan berarti tidak ada poin plus yang diberikan Runner Runner. Kekuatannya ada sinematografi yang diarahkan oleh Mauro Fiore yang dengat sangat cakapnya menangkap keindahan Costa Rica yang terlihat bagaikan surga dengan segala keeksotisannya dan kekumuhannya, dengan warna warni khas karnaval yang begitu terang dan vivid dan terkadang dengan arahan kamera yang shaky di beberapa scene action. Dan dengan bantuan Cristophe Beck yang menggarap scoringnya, kita seolah diajak untuk ikut serta berpesta bersama di Costa Rica.
Pertaruhan adalah ketika kesempatan ada di persentase 50 : 50, dan yakinlah bahwa Runner Runner adalah sebuah kasus dimana di atas kertas kemungkinan kemenangan lebih dari 50%, persis seperti apa yang dialami Richie. Tapi secara keseluruhan, Runner Runner bagaikan kehilangan arah di balik segala bakat besar berpotensi di dalamnya. Dan kesempatan itupun berbalik arah, menuju "kekalahan".