Kick-Ass 2 : Not So Kick To The Ass... Or Balls

by Chewbacca

Kick-Ass 2 : Not So Kick To The Ass... Or Balls
EDITOR'S RATING    

Menghilangkan banyak elemen yang membuat film pertamanya sukses, membuat Kick Ass dan Hit Girl tak mampu berbuat banyak menyelamatkan film ini.

Ada tipe penonton film yang merasa bahwa anak gadis 15 tahun yang doyan menyumpah seperti Samuel L. Jackson itu sangat lucu untuk disaksikan. Atau melihat organ tubuh terpotong dengan gampangnya maupun menyaksikan sepuluh polisi dibantai segampang itu. Bukannya saya punya masalah dengan immoralitas semacam itu. Tapi sekuel ini tidak mendapat tempat yang layak saja sebagai adaptasi dari graphic novelnya yang lima kali lebih gila dan kurang ajar.

Kick-Ass (2010) menjadi sensasi menghebohkan sebagai film superhero yang terlepas dari gaya konvensionalnya pada waktu itu. Kombinasi antara ultra-violence dan selera humor yang cerdas membuat filmnya sangat mudah dinikmati penonton. Statusnya sebagai cult film tidak hanya menaikkan reputasi Matthew Vaughn, namun juga menjadi sesuatu yang dilihat Millar sebagai potensi besar; sebuah trilogi. Dan kali ini, di bawah penanganan Universal (sebelumnya Lionsgate), Jeff Wadlow dipilih sebagai penulis sekaligus sutradara oleh Vaughn sendiri. And voila! Dengan hilangnya sub-title "Balls To The Wall", Kick-Ass 2 sudah siap disaksikan fansnya setelah penungguan selama tiga setengah tahun. The result?

Dave Lizewski (Aaron Taylor-Johnson) kini pensiun dari alter-egonya, Kick-Ass, dan kembali ke dalam kehidupan menjadi senior SMA. Sementara itu Mindy Macready (Chloe Grace Moretz) berjuang untuk menjadi gadis normal seumurannya dan berjanji untuk menanggalkan kostum Hit-Girl selamanya. Barulah setelah Chris D'Amico aka. Red Mist kembali untuk membalaskan dendam ayahnya yang wafat kepada duo itu sebagai 'The Motherfucker', Kick-Ass dan Hit Girl dibutuhkan kembali.

Apa yang membuat Kick-Ass (2010) berhasil di mata penonton adalah karena penyampaian temanya yang bahwa realita ini bukan buku komik. People get killed and die. Nah, film kedua ini mencoba hal yang sama di dalam sudut pandang para super-villain. Tentunya Wadlow mencoba untuk menaikkan intensitas dari sisi vulgar dan kekerasannya dan mencoba untuk menunjukkan arti dari "realita" secara teoritis, dimana banyak orang juga ingin melampiaskan energi negatifnya sebagai super-villain. Sayangnya, film ini tidak sesukses graphic novelnya. Semua bagian yang eksplisit dan emosional itu hilang tanpa jejak, dan yang tersisa hanyalah humor awkward yang sangat rendah seleranya. Bahkan berbagai adegan yang harusnya sangat intens dan penting dibuat begitu kid (or teen) friendly. Yah, tentunya banyak remaja yang tidak akan merasa ngeri menonton film ini. Okelah, itu bisa dimaafkan. Apalagi jika mereka mempertahankan adegan kontroversial itu ke dalam final cut filmnya, kelompok PETA ataupun Kak Seto pun bisa mengamuk. Tapi tetap saja, Kick-Ass yang dulu saja mempunyai momen yang emosional sekaligus mengharukan menyangkut karakter Nicholas Cage. Kita tidak mempunyai adegan semacam itu disini. Oke, mungkin ada. Tapi tidak semoody seperti yang dibuat Vaughn dahulu. Keputusan yang bodoh, semua untuk kepentingan hiburan.

Bukannya film ini tidak mempunyai hal yang bagus. First arc dari plotnya itu sudah cukup terbangun dan mampu membangun perkembangan karakter akan apa yang diinginkan dari ketiga karakternya (Kick-Ass, Hit Girl, The Motherfucker). Bahkan Moretz, x-factor dari franchise ini, tetap menjadi yang paling super dari jajaran cast. Lepas saja wig ungu dan double-bladed knife itu. Dia tetap yang terbaik. Bahkan jika penulisnya mencoba mengubah subplot Mindy menjadi sekuel Mean Girls yang bahkan sangat lemah dan begitu cliche, cara Moretz berekspresi dalam hal-hal kecil (berjalan, menggigit bibir, terguncang) tetap mendapat perhatian penuh kita di sekuel mengecewakan ini.

Sisanya? Taylor-Johnson sudah terlalu tua dan tampan untuk memerankan karakter remaja yang harusnya culun, cengeng, dan punya mental selembek tahu. Satu adegan emosional yang melibatkan perasaan titular character ini pun cuma sepercik saja yang kita rasakan, and boom! Menghilang begitu saja untuk, sekali lagi, kepentingan hiburan. The worst of all? Chris D'Amico. Kembali sebagai alter ego 'The Motherfucker', dia gagal di segala sisi untuk tampil keji dan mengancam di depan banyak korban maupun banyak kroninya. Padahal pembangunan karakternya sudah bagus. Namun begitu dia bergabung dengan anak buahnya, mereka tampil sangat konyol dan begitu mengganggu (kecuali mungkin Mother Russia). Sama konyolnya dengan kumpulan penjahat di serial televisi Batman yang dulu itu. Minus text-nya yang sangat alay.

Satu dari sedikit nafas film ini sukses disampaikan oleh kelompok yang menyebut dirinya 'Justice Forever'. Dipimpin oleh Colonel Stars and Stripes, mereka ini adalah sekumpulan jiwa terluka yang mencoba membalikkan dunia yang sudah irasional ini. Orang-orang baik tersebut merepresentasikan ide utama graphic novelnya: bahwa heroisme itu bisa dilakukan dengan menolong sesama yang membutuhkan, tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk menghajar para penjahat. Tapi konsep menarik itu dihancurkan oleh perubahan fatal dari climaxnya. Pergantian setting lokasi membuat akhir klimatiknya menjadi seperti sekumpulan costumed freaks yang hendak tawuran. Mungkin itu salah pre-production yang sangat rendah kualitasnya, but they could've done better. Terutama dengan endingnya yang terlalu pengecut dan cuma berani main aman saja.

Kick-Ass mungkin bukan masterpiece dari genrenya. Tapi setidaknya Vaughn berani untuk menyampaikan konsep superhero di dalam realita dunia yang kerasnya sudah seperti neraka. Malahan sekuelnya ini lebih murahan, tidak berani jujur, dan semacam ripoff dari film-film komedi Adam Sandler. Untuk alasan apapun itu, orang-orang dibalik Kick-Ass 2 terlalu takut untuk menunjukkan apa yang dibanggakan oleh tema graphic novelnya. Tentu, mereka masih mempertahankan brutalitas khasnya itu. Tapi semua itu terasa seperti softporn version dari materi aslinya. Tadinya ini merupakan karya seni yang harusnya menjadi provokasi publik, dan malahan menjadi makin provokatif karena Wadlow yang begitu pengecut di dalam visi personal artistiknya. What a disappointment!

Artikel Terkait