DreamWorks Animation merilis film animasi keduanya tahun ini setelah The Croods. Mampukah Turbo menyamai kesuksesan The Croods?

Sutradara : David Soren
Pengisi Suara : Ryan Reynolds, Paul Giamatti, Samuel L. Jackson, Bill Hader, Michael Pena, Snoop Dogg
Dalam industri kreatif, imajinasi nyeleneh dan tak biasa itu adalah sebuah keharusan. Terutama ketika kita bicara mengenai film. Inspirasi apapun, seaneh apapun, merupakan surga yang bisa digali-gali untuk menciptakan sebuah film utuh, dan bisa jadi merupakan sebuah sumber jualan yang benar-benar baru. Dreamworks sejak awal memang dikenal sebagai studio film animasi yang mengambil pendekatan yang berbeda dengan Disney ataupun Pixar. Ide-ide yang selalu nyeleneh namun anehnya fresh, dengan sentuhan komedi yang tepat, membuat banyak film-film keluaran Dreamworks selalu berhasil di pasaran. Lihat saja Shrek yang banyak memparodikan kisah-kisah dongeng, atau geng kebun binatang yang kabur lintas-benua di Madagascar, hingga Panda lucu yang jago Kung-fu di Kungfu Panda. Sukses dibuat sekuel, spin-off, hingga serial TV. Di tahun 2013 ini, setelah di awal tahun merilis The Croods, jagoan mereka untuk summer movies ini adalah Turbo.
Alkisah, hiduplah seekor siput kebun bernama Theo/Turbo (Reynolds) yang sangat terobsesi dengan mobil balap. Dia selalu berlatih dengan keras untuk meningkatkan rekor kecepatannya, namun obsesinya ini menjadi cemoohan di koloninya. Hanya kakaknya Chet (Giamatti) yang selalu membelanya. Namun berkat obsesinya ini, Turbo kemudian tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan super yang membuatnya bisa melesat dengan sangat cepat. Sayang, mereka kemudian harus diusir, dan mereka tiba-tiba sampai di sebuah kompleks mall yang sangat kumuh dan sepi. Disana mereka lalu diambil oleh Tito (Pena), seorang pria tambun polos yang menjalankan kedai Taco bersama sang kakak. Setelah mengetahui potensi Turbo, Tito berpikir bahwa Turbo bisa membawa keuntungan untuk kompleks pertokoan mereka yang mati suri. Maka berangkatlah Tito bersama Turbo dan gang Siput pembalap yang dipimpin Whiplash (L. Jackson) untuk bertanding di kejuaraan balap Indy 500 dan melawan pembalap tercepat Guy Gagne (Hader). Berhasilkah Turbo?

Sesungguhnya Turbo adalah sebuah kisah sederhana tentang zero to hero. Dan secara sekilas, kita tahu pasti bahwa film ini adalah usaha Dreamworks untuk mencari-cari calon film lain untuk dibuat franchise sukses. Bukan masalah sebenarnya, tapi sayangnya penampilan awal Turbo ini berantakan. Bayangkan saja bahwa Turbo adalah sebuah mash up film genre superhero dengan film bertemakan balapan seperti misalnya Fast and Furious dan Cars. Lalu ironi mengenai siput-mobil balap yang saling bertabrakan dan berbeda 180 derajat mengingatkan saya kepada karya Pixar lain, Ratatouille. Selain hal-hal tersebut, apalagi yang membuatnya berantakan?
Pertama, filmnya terlalu banyak memiliki sub-plot. Turbo yang dreamer (saya menyebutnya delusional) lalu tiba-tiba bagaikan mendapatkan durian runtuh bisa jadi super cepat. Lalu ada drama antara kakak-beradik Chet-Turbo yang terasa sangat dipaksakan. Karakter Tito yang tidak cukup meyakinkan turning pointnya hingga tiba-tiba harus mengikuti kejuaraan balap mobil. Sampai ke gank siput pembalap yang terasa hanya sekedar tempelan, menyia-nyiakan nama terkenal seperti L. Jackson dan Snoop Dogg (ehem, Lion).
Saya tahu, dalam genre animasi, film dengan ide-ide nyeleneh itu tidak masalah. Namun ide nyeleneh jika dieksekusi dengan baik pada akhirnya akan menghasilkan tontonan yang baik pula. Dan di situlah letak masalah Turbo, eksekusi ide nyeleneh ini sendiri benar-benar terasa flat. Memang ada momen-momen menggelikan yang mengocok perut, tapi itu tidak lebih dari sekedar sempilan, sementara keseluruhan filmnya sendiri ya hanya begitu-begitu saja. Dan Ryan Reynolds tidak cukup tangguh untuk menanggung beban sebagai lead voice actor dalam karakter Turbo. Tidak memorable dan standar saja. Dan sungguh, melihat banyak sekali nama terkenal yang mengisi suara di filmnya terasa sebagai mubazir. DreamWorks Animation memang selama ini terkenal menjual filmnya dengan menggunakan voice talents mereka yang tenar. Namun Turbo adalah sebuah contoh di mana nama terkenal bisa saja tersia-siakan.

Walau begitu, Turbo masih bisa sedikit dimaafkan, dengan adanya adegan konyol plus soundtrack yang sangat menghentak dan mengajak kita bergoyang. Selain itu Turbo masih sempat menyisipkan kritik sosial yang menggambarkan betapa cintanya kita semua dengan underdog, dan kadang dunia bisa jadi sangat 'kejam' dalam memperlakukan dreamers. Dengan caranya yang aneh dan nyeleneh, lewat climax scene yang menegangkan, Turbo mengajak kita untuk tidak pernah menyerah dalam impian kita, dan mempergunakan semua potensi yang ada.
Jadi begitulah, kalau memang kalian butuh sebuah film ringan untuk segala kalangan umur, pastikan menonton Turbo. Ajak adik, anak, atau keponakan kalian, dan nikmati saja segala kekonyolan yang dihadirkan dan juga warna-warni yang disajikan. Turbo memang mampu menjadi pembalap yang bergerak cepat. Namun sayang, dua tema utama mengenai “mengejar impian” dan drama “Kakak-beradik” yang diusungnya, tak mampu menggerakkan hati para penontonnya sedikitpun.