World War Z: Perang Dunia Melawan Zombie

by Joedi Dance

World War Z: Perang Dunia Melawan Zombie
EDITOR'S RATING    

Bersiaplah untuk masuk ke dalam wahana 'World vs Zombie', kencangkan sabuk pengaman, karena akan ada banyak guncangan dan kejaran dari Zombie-zombie yang siap menyantap daging segarmu!

Akui saja, zombie kini memang merupakan salah satu komoditi bisnis paling menggiurkan di industri film, terutama sekarang setelah hingar bingar vampire kemarin selesai. Tidak kurang dari film dan serial TV dibuat, dengan berbagai genre yang dikawin-silangkan dengan genre zombieini, mulai dari horor, komedi, survival, hingga drama. Namun semuanya memiliki satu aura yang sama : era post apocalyptic. Era dimana manusia menjadi langka karena menjadi buruan, untuk digigiti dan dimakani oleh para undead, yang tak bisa mati. Penyebabnya macam-macam, tapi kebanyakan berupa virus.

Di tahun 2006, seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Max Brooks menulis sebuah buku berjudul World War Z, yang merupakan dari sekuel The Zombie Survival Guide. Novel bergenre horror fiksi ini kemudian menjadi hits karena bisa dengan sukses menggambarkan kejadian epidemik zombie di berbagai negara, dengan pendekatan sejarah,  teknologi, politik, ekonomi, budaya, taktik militer yang benar-benar ada. Semuanya fakta...kecuali zombie-nya. Di tahun 2007 kemudian Plan B Entertainment milik Brad Pitt membeli hak cipta novel ini, bersama dengan karya zombie milik Brooks lainnya. Kemudian Marc Foster, yang sudah kita kenal lewat Finding Neverland dan Quantum of Solace berhasil digaet di kursi sutradara. Setelah mendapatkan sutradara, Matthew Michael Carnahan diminta untuk menulis skrip yang sebelumnya ditulis oleh Michael Stracznski, kemudian dibantu oleh Damon Lindelof dan Drew Goddard untuk third act-nya.

Kehidupan terasa begitu tenang dan damai bagi Gerry Lane (Pitt), seorang pensiunan PBB, yang hidup sebagai seorang ayah rumah tangga bagi istrinya Karen (Enos) dan keduanya putrinya Rachel dan Constance, walau berita mengenai kekacauan dunia sudah mulai disiarkan di TV. Hingga suatu pagi di tengah perjalanan mereka yang terhalang macet total, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan serangan yang tak teridentifikasi ditambah dengan histeria massal. Lane kemudian memperhatikan bahwa sesungguhnya serangan tersebut datang dari zombie, yang entah datang darimana, tapi dengan sangat cepat menyerang manusia dan membuat mereka terinfeksi hanya dalam waktu 10-12 detik saja. Iya, kalian tidak salah baca, dalam waktu 10-12 detik saja. Bayangkan betapa cepatnya pergerakan dari serangan ini, mengubah ribuan hingga jutaan manusia menjadi zombie. Lane kemudian berhasil menyelamatkan keluarganya sampai ke tempat pengungsian dan dihubungi oleh Thierry (Mokoena), temannya yang bekerja untuk PBB. Lane kemudian dipaksa untuk mengawal seorang ahli virus Dr. Fassbach (Gabel) untuk menyelidiki awal mula epidemik virus ini dan menemukan penyembuhnya, namun di tengah serangan zombie yang begitu buas ini, dengan resiko tak selamat yang begitu besar, bisakah Lane berhasil?

Untuk ukuran genre zombie sendiri, World War Z memang tidak menawarkan sesuatu yang baru, semuanya mengikuti pakem bagaimana cara manusia bertahan hidup dari segala kondisi, terutama di era serangan zombie. Tapi toh kita semua tahu apa yang harus diharapkan dari genre ini, dan WWZ melakukan tugasnya dengan sangat baik. Diawali dengan opening credit yang mencekam, kita seolah dibawa masuk ke dalam sebuah wahana dimana kita tahu bahwa kita akan merasa begitu tegang menonton, tapi kita tidak tahu bahwa kita benar-benar terasa terlibat dalam sebuah petualangan bersama Lane, dengan banyak momen-momen yang sangat menegangkan, membuat adrenalin kita terpacu kuat, dan teriakan-teriakan ketakutan menggema dari kursi penonton. Ada momen-momen dimana Saya, sebagai penonton, menjerit dan menutup mata keras-keras, berpikir bahwa Saya tidak akan selamat dalam petualangan bersama Lane. Dalam hal ini, WWZ harus diacungi jempol karena berhasil melakukan tugasnya sebagai sebuah film bergenre zombie yang benar-benar menegangkan dan menakutkan bagi penonton.

Dengan mengambil fokus pada tokoh Gerry Lane, sebagai seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya, kita benar-benar diajak untuk merasa dekat dan personal dengan Lane, dimana kita melihat semua serangan zombie dari sudut pandang Lane, yang tidak banyak bicara dan sangat efektif, dan acapkali beruntung di banyak situasi. Dan sebagai fokus utama, karakter yang dimainkan oleh Brad Pitt ini benar-benar likeable. Saya teringat dengan sosok John McLane yang legendaris dari Bruce Willis, sama-sama sulit untuk 'mati', tapi McLane mungkin adalah sosok sial yang selalu berada di tempat dan waktu yang salah, sementara Lane adalah sosok 'The Lucky Bastard' yang bisa selamat dari banyak serangan zombie. Seolah, siapapun yang terjebak dalam situasi serangan zombie ingin menjadi, atau setidaknya, memiliki sosok Lane di dekat mereka. Dan peran Lane ini mungkin bukan peran paling memorable dalam karir panjang milik Pitt, tapi toh, dia berhasil membuat penonton percaya bahwa kita semua bisa selamat dan tetap hidup.

Digawangi dengan Marc Foster, WWZ juga berhasil membangun atmosfer mencekam yang begitu putus asa, menggambarkan keadaan di berbagai dunia saat serangan zombie. Dibawah ketidaksiapan manusia dalam melawan epidemik mengerikan, ditambah dengan scoring mencekam dari Matthew Bellamy, pentolan grup musik Muse, WWZ bisa jadi merupakan film paling roller coaster di summer movies tahun ini. Foster benar-benar tahu bagaimana caranya menghajar tensi penonton dengan taktik tarik-ulur, naik lalu turun, semuanya begitu berirama bagaikan arus yang mengalir deras. Pace-nya sudah sangat tepat, ditambah dengan sinematografi dari Ben Seresin, dengan banyak shot-shot yang menggambarkan keganasan zombie, WWZ hadir dengan gigi-gigi yang tajam untuk menyaingi si manusia baja.

Satu lagi kekuatan WWZ terletak di tangan para zombie-nya. Sebagai sang bintang utama, zombie disini digambarkan layaknya anjing doberman yang begitu ganas dan haus darah. Dengan waktu infeksi hanya 10-12 detik, dengan kecepatan berlari dan juga melompat dalam memburu mangsa, zombie-zombie di WWZ digambarkan nyaris tak terkalahkan. Ya iyalah ya, zombie yang berjalan lambat saja sulit untuk membidik kepalanya, apalagi zombie yang satu ini berlari dengan kecepatan yang mengerikan, membuatmu percaya bahwa kalian akan berakhir dalam hitungan detik saja. Kekurangannya mungkin ada di porsi darah yang tidak terlalu banyak ditonjolkan, seolah-olah jadi terlihat 'bersih'. Tapi toh dengan segala bencana zombie yang begitu masif, kekurangan ini bisa dengan mudah dimaafkan ;).

Jadi, apakah kalian memang pecinta genre zombie, atau hanya ingin menikmati film jenis apapun, WWZ bisa dijadikan alternatif pilihan yang tepat. Ajak kekasih, teman, dan keluarga, karena semakin ramai menontonnya, semakin seru juga rasanya. Karena Foster dan Pitt mengajak kalian masuk ke dalam sebuah wahana 'Zombie Survival', dimana kalian akan diajak naik dan turun, berteriak dan ketakutan bersama, dan kemudian lega ketika akhirnya lampu kembali dinyalakan.

Artikel Terkait