Europe on Screen 2013: Les Geants

by Joedi Dance

Europe on Screen 2013: Les Geants
EDITOR'S RATING    

Sebuah kisah coming of age yang perih, emosional, namun memiliki keindahan tersendiri.

Sutradara : Bouli Lanners
Pemeran : Zacharie Chasseriaud, Martin Nissen, Paul Bartel, Karim Leklou,

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar nama Belgia? Bagi saya hanya satu: praline chocolate. Negara ini memang sangat terkenal dengan kualitas cokelatnya, sehingga kadang-kadang menyebut Belgia tidak cukup dengan Belgia saja, tetapi Belgium Praline Chocolate. Padahal, Belgia lebih dari sekedar coklat. Terdapat banyak hal lainnya dari Belgia, salah satunya adalah keindahan alamnya,  yang kebetulan sebagian saya intip ketika menonton The Giants (atau Les Geants), sebuah film yang diputar di festival Europe on Screen 2013.

Film ini berkisah mengenai kakak beradik Seth (Nissen)dan Zak (Chasseriaud) yang menjalani hari-hari mereka di musim panas tanpa kehadiran orang tua mereka. Bersama sahabat baru mereka, Danny (Bartel), mereka berpetualang untuk merasakan kehidupan orang dewasa: menyetir, mengisap ganja, minum alkohol, dan lain sebagainya. Lalu kemudian, ketika mereka tidak memegang uang sepeser pun lagi, keadaan menjadi sulit. Mereka kemudian memutar akal dengan cara menyewakan rumah peninggalan kakek mereka untuk menjadi tempat penanaman ganja kepada Beef. Sayang, apa yang mereka rencanakan jauh dari kenyataan.

Dalam Europe on Screen 2013, yang dilaksanakan lebih cepat tahun ini, film ini masuk ke dalam kategori Discovery, yang merupakan film-film pilihan yang memberikan kita pemahaman mengenai isu-isu yang ada di negara asal film tersebut. The Giants pertama kali tayang di Cannes Film Festival pada tanggal 20 Mei 2011, sebelum akhirnya tayang di negaranya sendiri, Belgia, pada tanggal 12 Oktober 2011. Dan walaupun hanya berdurasi 84 menit, bersiap-siaplah untuk menyaksikan sebuah petualangan yang dibalut dengan keindahan negara Belgia.

Lanners yang menyutradarai dan menulis naskahnya bersama dengan Elice Ancion ini tidak lantas membuat sebuah film drama petualangan biasa. Ini adalah sesuatu yang lebih daripada itu. Kedalaman cerita dibangun dengan cara yang mengalir seperti air. Penonton akan mendapatkan perasaan tidak menonton tiga sekawan ini di layar, tetapi menjadi bagian dari trio ini, ikut dalam petualangan-petualangan gila nan jenaka khas anak-anak, yang semuanya terasa begitu natural tapi sekaligus miris. Miris melihat anak-anak seusia mereka sudah lepas ke jalanan, hidup sendiri tanpa dipedulikan oleh orang tua mereka. Sesuatu yang tidak benar, tapi Lanners bisa mengarahkan penonton untuk tertawa bersama mereka, tanpa harus menjadi preachy atau menghakimi. Yang ada hanyalah sebuah suguhan realitas yang tampil apa adanya. Sebuah kejujuran yang menyakitkan, karena sangat relevan, bukan hanya di negara asalnya tapi juga di Indonesia... di seluruh dunia.

Poin lain yang harus disorot adalah keindahan landscape dari kota kecil Ardennes dan juga negara Luxembourg tempat film ini syuting. Menampilkan sebuah bentuk kesunyian dan nuansa kebertahanan hidup di tengah alam bebas yang begitu murni tak tersentuh modernisasi. Jean-Paul De Zaeytijd berhasil menangkap esensi dari filmnya dan menghasilkan gambar-gambar panorama keindahan lain dari Belgia yang jarang diekspos.

Dan setelah tadi disinggung masalah ‘alami’, hal ini juga berlaku untuk para pemain utamanya. Mereka tidak terlihat seperti sedang memerankan peran, mereka bagaikan sedang memainkan diri mereka sendiri. Keceriaan dalam menjalani hari-hari yang serba tidak pasti dan pastinya sangat sulit dibayangkan kita semua, pandangan kosong mereka yang menerawang jauh, semuanya sangat meyakinkan. Mereka mengajak penonton untuk turut menjadi teman seperjuangan mereka, turut dalam petualangan yang semakin mendewasakan mereka, tanpa harus ada satupun adegan menye-menye dan dipaksa emosional yang sering kita lihat di banyak sinetron dan FTV di Indonesia. Terkhusus untuk Zacharie Chasseriaud yang memerankan Zak yang paling muda diantara mereka bertiga, sosoknya sebagai yang paling ceria, usil, dan jahil, namun memiliki karakterisasi paling dalam dan kompleks. Ternyata, walaupun terlihat bebas dan bahagia, Zak menyembunyikan kerinduan yang dalam kepada sang ibu, dimana hal ini disimbolkan dengan telepon seluler yang tak pernah lepas dari tangannya.

Les Geants memang tidak menampilkan sebuah konklusi yang bisa memuaskan banyak pihak. Film ini memiliki sebuah ending yang tidak bisa dikatakan happy atau sad ending. Akan tetapi sebagai sebuah film bertemakan coming of age, ini adalah film yang nyaris sempurna. Indah, namun menyakitkan.

Bagi kalian yang ketinggalan, film ini masih akan tayang sekali lagi tanggal 8 Mei di Istituto Italiano Jakarta dan tanggal 9 Mei di AF Medan.

Artikel Terkait