Europe on Screen 2013: The Fourth State

by abn

Europe on Screen 2013: The Fourth State
EDITOR'S RATING    

Sebuah pembuka festival dengan naskah yang cukup cerdas dan penuh aksi.

Setelah membuat film vampire stylish berjudul We Are The Night, Dennis Gansel mempertimbangkan untuk kembali dan membuat film European thriller dengan gaya dan premis yang tak jauh berbeda dengan film-film Bourne. Dengan memasang nama-nama yang lumayan dikenal di Hollywood, seperti Moritz Bleibtreu (Run Lola Run) atau Kasia Smutniak (From Paris With Love), The Fourth State sendiri menjadi film pembuka Europe on Screen 2013 yang diselenggarakan mulai 3 sampai 12 Mei 2013. Lalu, bagaimana dengan filmnya sendiri?

Paul (Moritz Bleibtreu) adalah seorang jurnalis khusus untuk kolom gosip selebriti. Setelah dia bercerai dengan istrinya, Paul pindah ke Moscow untuk pekerjaan barunya yang meliputi dunia malam dan kultur pop ataupun fesyen ala Rusia. Paul sendiri tidak tahu menahu mengenai Rusia, sehingga partner kerjanya, Onegin (Rade Serbedzija) bersedia memandunya di kota asal Syrniki tersebut. Semua terlihat lancar sampai ketika dia menemui Katja (Kasia Smutniak), seorang jurnalis yang juga bekerja disitu. Gadis itu ingin mempublikasikan artikel mengenai seorang jurnalis yang baru saja ditembak di depan publik karena kritikannya atas pemerintahan Rusia sendiri, namun artikel itu ditolak oleh editornya. Paul pun menawarkan diri mempublikasikan artikel di itu di kolomnya untuk bisa mendekati Katja. Sayang sekali, tindakan itu malah berbuahkan banyak malapetaka pada Paul bagaikan kotak Pandora yang dibuka. Setelah dicurigai atas tindakan terorisme yang meledakkan sebuah stasiun kereta, Paul ditahan di penjara yang dikenal sebagai "Little Chechenia" selama tujuh bulan tanpa mampu membela diri. Disana, dia belajar banyak mengenai kebenaran dari terorisme di kota itu dan juga skandal dibaliknya. Disinilah titik dimana Paul harus menunjukkan keberanian dan kemampuannya menulis, seperti yang ayahnya juga miliki, di dalam menulis sebuah artikel untuk kebenaran yang harus publik tahu. Itupun masih banyak lagi kejutan yang menantinya di luar sana.

Gansel patut mendapatkan apresiasi tinggi di dalam film ini. Menggabungkan akting yang berkualitas dari para cast dan kemampuannya mengarahkan film thriller ini, semuanya sangat membantu sekali. The Fourth State sendiri bersettingkan di di Moscow. Mengingat kota ini mempunyai sejarah panjang dalam skandal politik, semuanya digambarkan dengan intimidasi yang dingin melalui lighting dan set design yang menggambarkan tiap adegan dengan indahnya. Dan juga karena banyak sekali pergerakan di film ini, plotnya yang sudah sangat ketat dimanfaatkan Gansel untuk menciptakan ekspektasi tinggi di dalam penemuan tiap kepingan puzzle yang ditemukan, sehingga pace-nya yang thrilling juga mampu membuat durasi 115 menit tidak terasa begitu lama.

Nilai plus juga patut diberikan pada protagonisnya. Paul bukanlah seorang agen mata-mata, superhero, ataupun vampire sekalipun. Dia pun mampu menimbulkan simpati dan proses identifikasi pada penonton karena situasinya yang berada di tempat dan waktu yang salah. Kita diberikan protagonis yang rapuh, meyakinkan dan gampang mengambil perhatian kita karena keberadaan dirinya yang berada di tengah konspirasi yang membingungkan. Kisah perjalanannya pun menjadi mata penonton di dalam mencari tiap kepingan puzzle. Karakter yang cocok sekali untuk Euro thriller yang solid ini.

Walau naskah yang cukup cerdas dan cukup banyak aksi di dalamnya, tidak ada yang baru dan fresh di dalam ceritanya. Mengingat bahwa premisnya yang mengenai terorisme itu cukup bagus, namun sayangnya semua elemen yang mengelilinginya tidak mendapat perlakuan yang sama. Plotnya yang bertahap dengan gaya naratif Hollywood pun tidak begitu rumit untuk diikuti. Malahan, skripnya sendiri lebih menggunakan elemen "kebetulan" di dalam merangkai hubungan sebab-akibat yang logis. Dan fakta bahwa semua orang yang Paul pernah temui mampu berbahasa Inggris dengan fasih, itu semacam merusak konsistensi dari production design yang sudah dirangkai seperti Moscow sendiri.

Sebagai film pembuka Europe on Screen sendiri, The Fourth State cukup menggugah hati penonton untuk mengecek jadwal mereka dan melihat film lain yang lebih berkualitas dan sekaligus menghibur setelah disuguhi oleh rangkaian plot yang cukup menegangkan untuk diikuti. Pada akhirnya, semua orang patut mencoba dan menonton thriller flick asal Jerman ini. Tapi tetap saja, harusnya Gansel bisa lebih baik dari ini.

Artikel Terkait