Java Heat: Tidak Sepanas Judulnya

by dr. kawe

Java Heat: Tidak Sepanas Judulnya
EDITOR'S RATING    

Java Heat siap tayang 18 April mendatang. Baca dulu ulasan kami di sini.

Proyek Java Heat sudah lama terdengar gaungnya dari sejak tahun lalu. Hal ini tentu saja berkat partisipasi Kellan Lutz yang terkenal sebagai Emmet Cullen dalam saga Twilight dan Mickey Rourke yang berhasil masuk nominasi Oscar sebagai Best Actor dalam The Wrestler. Keduanya memang bisa menjadi daya tarik, khususnya untuk pasar internasional, selain kehadiran aktor dan aktris lokal, seperti Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Astri Nurdin, Tio Pakusadewo, dan Rudy Wowor.

Seorang pria berkebangsaan asing bernama Jake Wilde (Lutz) menghadiri sebuah pesta di Keraton Yogyakarta. Namun, di tengah-tengah keramaian, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah bom bunuh diri yang menewaskan Sultana (Hasiholan). Dianggap sebagai saksi mata yang potensial, Jake pun dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi oleh Letnan Hashim (Bayu). Fakta mengejutkan menyeruak kala Jake dan Hashim pergi ke kamar mayat untuk mengidentifikasi mayat Sultana. Ternyata, seseorang telah menukar Sultana dengan PSK yang memiliki cap harimau di pahanya. Itu berarti, Sultana belum mati dan kalung seharga $7 juta yang dipakainya juga ikut raib dengan keberadaan Sultana. Di tengah-tengah penyelidikan keduanya, mereka harus bersilang jalan dengan Malik (Rourke), seorang asing yang ada hubungannya dengan hilangnya Sultana. Apakah Jake dan Hashim dapat menemukan Sultana dan menghentikan apapun usaha Malik?

Ceritanya mungkin terdengar biasa, tapi dengan kehadiran Lutz dan Rourke yang sudah mendunia, bisa dibilang film ini naik ke level yang berbeda dan penonton mengharapkan sesuatu yang lebih, baik dari segi cerita, akting, dan juga aksi. Sayangnya, Java Heat tidak dapat memberikan semua itu dengan kadar 100% yang memuaskan. Akting Lutz mungkin bisa dikatakan cukup menarik dengan pamer otot di sana-sini dan juga kebingungannya dengan budaya Jawa yang ia anggap aneh. Namun, sebagai lawan main, Ario Bayu terasa biasa saja bahkan pengucapan dialog berbahasa Inggris yang masih terdengar seperti membaca naskah. Pun dengan Rourke yang sangat dinantikan perannya menjadi seorang penjahat yang terasa kurang mengancam (mungkin karena doski tidak punya cambuk listrik dan burung kakaktua).

Tidak hanya itu, beberapa adegan terasa terlalu panjang dan seharusnya bisa dipadatkan, seperti misalnya kedatangan Jake ke klub malam yang agak bertele-tele atau penyergapan ke tempat Faruq al-Hasan. Selain itu, pemilihan Rudy Wowor sebagai Sultan Yogyakarta agak miscast mengingat tampangnya yang lebih mirip orang Belanda daripada Jawa. Sebelum mencapai klimaks, para penonton sudah dibawa berputar-putar sehingga kelelahan di tengah jalan dan bisa jadi kurang peduli dengan adegan klimaks yang mengambil tempat di Candi Borobudur.

Namun, di balik kekurangan dari segi plot, tensi cerita yang kurang terjaga, dan pemilihan aktor yang kurang pas, kita mungkin akan dibuat kagum dengan beberapa adegan aksi yang cukup menarik, seperti ledakan dan perkelahian di depan Bank BNI (oops, nyebut merek). Selain itu, para wanita tentunya akan senang karena dihibur dengan penampakan otot-otot Lutz yang berlumuran keringat.  Connor Allyn sendiri bisa dikatakan sukses menghadirkan nuansa Jawa dalam film ini dengan menghadirkan delman, becak, suasana kota Yogyakarta, tugu, dan juga budaya Jawa seperti memanggil orang dengan sebutan 'mas' dan juga kebiasaan mencium tangan orangtua. Unik juga menyaksikan budaya Jawa dari kacamata wong londo.

Kita tentu berharap bahwa film-film semacam ini akan menjamur di masa yang akan datang dan tidak hanya Yogyakarta, tapi juga kota-kota lain. Dan, tentu saja tidak hanya Lutz yang mau main di film-film lokal. Kristen Stewart dan Robert Pattinson mungkin?

Artikel Terkait