Bangun Lagi Dong Lupus

by Joedi Dance

Bangun Lagi Dong Lupus
EDITOR'S RATING    

Baca ulasan film Indonesia terbaru, Bangun Lagi Dong Lupus, di sini!

Generasi remaja Indonesia yang tumbuh besar di tahun 1986 pasti setidaknya mengenal karakter Lupus, seorang remaja sekaligus wartawan dengan rambut berjambul dan gemar mengunyah permen karet dimanapun, kapanpun. Karaternya sendiri diciptakan oleh Hilman Hariwijaya, dan sudah diangkat ke layar lebar dan sinetron. Filmnya yang terakhir adalah buatan tahun 1991 sebelum akhirnya berhenti dibuat sama sekali. Kini, 22 tahun berselang maka kembali dibuatlah film terbarunya, Bangun Lagi Dong Lupus.

Lupus (Migdad Addausy) baru saja pindah bersama adiknya Lulu (Mela Austen) dan Mami (Ira Maya Sopha) sepeninggal sang ayah. Di sekolah barunya, Lupus berkenalan dengan Poppy (Acha Septriasyah) dan langsung dimusuhi oleh pacar Poppy yang kaya, Daniel (Kevin Julio). Namun bukan Lupus namanya kalo tidak langsung beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mendapatkan sahabat yaitu Boim (Alfie Alfandy) dan Gusur (Jeremy Christian). Di tengah persaingan dengan Daniel untuk mendapatkan hati Poppy, Lupus berniat untuk membuat bangga sang Mami sekaligus nama sekolah SMA Merah Putih dengan merencanakan sebuah proyek di lomba Go Green. Berhasilkah Lupus? Dan akankah dia berhasil merebut hati Poppy?

Pertama-tama, mau tidak mau kita harus mengapresiasi usaha Hilman dan Benni Setiawan selaku sutradara dan penulis naskah dalam membangkitkan kembali karakter Lupus yang sudah lama koma. Hal ini tentu saja sebagai bentuk nostalgia sekaligus bertujuan untuk memperkenalkan kembali karakter Lupus kepada generasi muda yang mungkin lebih mengenal Justin Bieber, One Direction, Edward Cullen, dan Super Junior. Dengan banyak referensi dari karya-karya Lupus sebelumnya sekaligus banyak memasukkan kritik sosial, Hilman di dalam acara Press Conference mengakui banyak menghindari jenis komedi slapstick untuk naskah, diganti dengan banyak humor yang dirasanya lebih padat berisi. Dan di satu sisi, hal ini berhasil. Di paruh pertama film Lupus, sisi kelucuannya berhasil, membuat banyak penonton di media screening tertawa terbahak-bahak, namun kemudian jadi melempem di pertengahan hingga ke akhir.

Oke, boleh-boleh saja memasukkan banyak hal di dalam naskahnya, namun ketika ada terlalu banyak hal, yang kadang-kadang tidak saling berkesinambungan, malah menjadi kurang tergali dan tidak maksimal. Dan memang, porsi drama di dalam Lupus ini banyak, terlampau banyak malah. Ada kisah percintaan Lupus-Poppy, pertengkaran Poppy-Daniel, kisah keluarga Lupus yang mengharukan, plus niatan dan kerja keras Lupus untuk membangun proyek Go Greennya itu. Sudah? Belum, karena masih diselipkan pula konflik yang dihadapi oleh sahabat-sahabat Lupus, Boim dan Gusur, plus memaksimalkan potensi komedi dengan karakter Guru Olahraga yang diperankan Eko Patrio dan Kepala Sekolah SMA Merah Putih yang diperankan oleh Deddy Mizwar. Apakah lucu? Beberapa, tapi sayangnya lebih banyak yang melempem. Terlalu banyak sehingga tidak jelas dan tidak fokus, mau kemana arahnya. Andai Hilman-Benni lebih fokus, mungkin hasilnya tidak akan tumpang tindih seperti ini.

Yang patut diapresiasi juga adalah usaha para pemain baru untuk memerankan karakter yang boleh jadi sangat legendaris sekaligus punya nyawa di ingatan banyak orang. Wigdad berakting lumayan sebagai Lupus, lalu ada Acha yang ternyata masih cocok bermain sebagai remaja SMA. Malahan, Acha terlihat menonjol karena berhasil mengantarkan karakterisasi dan konflik yang dialami tokoh Poppy. Sebagai Gusur yang senantiasa bersastra-ria, Jeremy Christian nampak masih kaku dan kurang meyakinkan, tapi saya acungkan jempol untuk Alfie Alfandy, yang menurut Saya juga sama seperti Acha, terlihat menonjol sebagai Boim, dengan gesture dan wajahnya yang mengenaskan tetapi lucu. Praktis, setelah selesai film yang ada di benak saya bukan karakter Lupus, justru Boim. Dan dengan penampilan dari para senior seperti Ira Maya Sopha, Eko Patrio, Didi Petet, dan Deddy Mizwar, walau dengan porsi sedikit tapi menampilkan kharisma yang maksimal.

Secara keseluruhan, film Bangun Lagi Dong Lupus ini bukanlah film yang jelek. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya utarakan di atas, film ini cocok bagi kita semua yang ingin bernostalgia dengan karakter Lupus dan kawan-kawan, juga untuk semua penonton baru dengan cerita remaja yang khas dan ceria tanpa tendensi apa-apa. Dan seperti kata Hilman mengenai filosofis permen karet, Bangun Lagi Dong Lupus ini memang ibaratnya permen karet yang memberikan sekilas rasa manis kepada para penontonnya.

 

Artikel Terkait