Toy Story 5: Benarkah Era Mainan Mulai Tersingkir oleh Gadget?

by Redaksi

Toy Story 5: Benarkah Era Mainan Mulai Tersingkir oleh Gadget?
EDITOR'S RATING    

Perjuangan para mainan untuk bertahan di zaman teknologi

Meski banyak yang beranggapan bahwa kisah Toy Story sudah selesai di film ketiga yang rilis pada 2010, namun kenyataan berbicara lain. Pada 2019, Disney-Pixar merilis Toy Story 4. Tidak perlu ada tambahan subjudul apa pun, cukup angka saja. Dan, seperti yang sudah-sudah, selalu ada "villain" dari dunia yang sama dan menjadi lawan dari para mainan kesayangan kita ini. Pemasukannya bahkan menyentuh angka $1 miliar, membuktikan bahwa film petualangan para mainan ini masih ditunggu kemunculannya. Selang tujuh tahun kemudian, Toy Story kembali dengan film kelima. Kali ini, tema yang diangkat terasa sangat relevan karena menyinggung seputar gawai dan penggunaannya pada anak. Dan, geng mainan kembali mendapat lawan kuat: sebuah tablet bernama LilyPad. 

Jessie, Buzz Lightyear, dan mainan-mainan lain menjalani hidup yang menyenangkan di rumah Bonnie. Suatu saat, situasi berubah saat orang tua Bonnie menghadiahkan gawai LilyPad kepada putrinya itu. Pertengkaran pun terjadi antara mainan lama dengan "si anak baru". Lilypad yakin yang Bonnie butuhkan adalah teknologi untuk bisa mendapatkan teman. Sementara, para boneka percaya bahwa mainan adalah alat terbaik dalam mendapatkan teman. Sayang, di tengah usaha mencari teman untuk Bonnie, Jessie dan Bullseye malah terbawa ke rumah pertanian yang merupakan rumah lama Jessie. Jika dulu Jessie tinggal di sana bersama pemiliknya, Emily, kini rumah itu ditempati oleh gadis kecil bernama Blaze. Menyadari ada kemiripan antara Bonnie dengan Blaze yang juga suka berimajinasi, Jessie pun berjuang mempertemukan mereka berdua meski dihadapkan pada kemungkinan akan kalah dari gawai modern dan tersingkir untuk selamanya.

Jika film ketiga dan keempat berfokus pada perpisahan, tema di film kelima ini, bisa dibilang jauh lebih ringan, tapi tetap relevan dengan situasi sekarang. Toy Story 5 menghadirkan realita yang menohok (khususnya untuk orang tua), yaitu di masa sekarang ini, anak-anak sudah terlalu asyik dengan gawai masing-masing sehingga lupa caranya bermain. Mereka lebih fokus menatap layar, memainkan game digital, dan menjalin pertemanan online daripada bermain di luar, mencari teman-teman baru di sekitar rumah, atau berimajinasi dengan berbagai hal di sekitarnya. Meski disajikan dalam bentuk animasi, tapi kenyataan yang dihadirkan seakan memberi tamparan keras kepada orang tua zaman sekarang yang lebih memilih menyodorkan gawai untuk mengembangkan kreativitas mereka.


Lalu, apakah pesan yang ada hanya untuk orang tua saja? Tentu tidak, malah bisa dibilang "sindiran" yang ingin disampaikan bersifat universal: manusia tidak bisa lepas dari gawai. Di salah satu adegan, Bonnie diundang ke acara menginap di rumah temannya. Namun, saat sampai di sana, mereka malah sibuk sendiri dengan perangkat masing-masing. Terasa familiar? Ya, ini bisa jadi teguran terhadap orang dewasa yang kerap janjian untuk berkumpul bersama, tapi ujung-ujungnya malah sibuk dengan ponsel masing-masing. Situasi yang sangat sesuai dengan kehidupan sekarang, bukan?

Tidak hanya menyinggung realita bahwa waktu anak-anak lebih banyak tersita untuk gawai, Toy Story 5 juga menghadirkan satu lagi permasalahan yang sering kita temui sehari-hari. Bahwa, bukan perangkatnya yang "jahat", tapi manusialah yang membuatnya jadi jahat. Seiring berjalannya cerita, penonton akan sadar bahwa LilyPad tidak jahat, tapi teman-teman Bonnie yang memang tidak bisa menerima bahwa Bonnie masih bermain dengan boneka-bonekanya dan melontarkan komentar-komentar mengejek. 

Secara cerita, fokus kini bergeser kepada Jessie dan Bullseye, sementara Woody dan Buzz bisa dibilang hanya jadi pelengkap saja. Memang, tidak menampilkan keduanya jelas bukan pilihan karena identitas Toy Story adalah boneka koboi dan space ranger ini. Namun, kisah Woody dan Buzz sendiri, bagi sebagian kalangan, memang sudah selesai di Toy Story 4 sehingga jika cerita setelahnya masih mengetengahkan mereka berdua akan sangat aneh. Karena itu, pilihan yang tepat untuk menjadikan Jessie sebagai karakter utamanya dan memberikan sudut pandang yang baru terhadap situasi yang terjadi.

Selain animasi yang keindahannya sudah tidak perlu diragukan lagi dan pesan universal yang terkandung di dalamnya, lelucon Toy Story 5 juga bisa dinikmati oleh semua umur. Tingkah laku setiap mainan sangat menghibur dan mengundang tawa. Bahkan, karakter baru, seperti Smarty Pants, Snappy, dan Atlas juga mendapat waktunya sendiri untuk bersinar. Sebagai film keluarga untuk mengisi waktu liburan, Toy Story 5 jelas pilihan yang tepat.


Artikel Terkait