Yandy Laurens kembali berjaya dengan sihirnya.
Rasanya baru kemarin kita dibuat melongo kemudian tepuk tangan di bioskop saat menonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2024). Dari tangan Yandy Laurens, kita jadi merasakan sensasi baru dalam menonton film Indonesia, terutama di genre drama. Bagaimana satu film dengan premis sederhana bisa dibuat sampai sebegitunya, meninggalkan pengalaman dan rasa yang ‘wah’ begitu lampu ruang teater menyala.
Kini, Yandy bersama rumah produksi Cerita Films hadir membawa kisah drama baru, Sore: Istri dari Masa Depan. Berangkat dari Sore the Series rilisan Youtube Tropicana Slim tahun 2017 (yang juga disutradarai dan dibuat naskahnya oleh Yandy), versi layar lebar ini lebih kompleks, namun lebih utuh dari segi cerita dan pengemasannya. Terasa sekali film ini dibuat serapi mungkin dan diperhatikan setiap detailnya. Mulai dari mood yang dibangun, pencahayaan, wardrobe, hingga deretan lagu yang dipakai untuk soundtrack.
Sore: Istri dari Masa Depan membawa premis simpel, namun menarik. Berkisah tentang Sore (Sheila Dara) yang secara ajaib datang dari masa depan karena ingin mengubah gaya hidup suaminya Jonathan (Dion Wiyoko) yang berantakan. Sebagai orang yang tidak tahu apa-apa, Jonathan jelas merasa terganggu. Hidupnya sebagai pria single yang awalnya baik-baik saja, diusik oleh orang yang tiba-tiba datang. Sore pun, dengan muka lempeng namun teduh penuh kesabaran, tetap bersikeras menemani sambil memastikan bahwa jalan hidup Jonathan kini bisa dilalui dengan lebih baik dibanding sebelumnya. Sayangnya, ada satu hal yang Sore lupa. Manusia tidak bisa berubah jika dipaksa. Manusia hanya bisa mengubah nasibnya jika kemauan itu datang dari dirinya sendiri. Dan, di sinilah kisah besar Sore yang bertarung dengan Sang Waktu dimulai.

Jika sudah menonton versi series-nya, tentu ada antisipasi besar dan rasa ingin membandingkan. Semirip apa jalan cerita film ini dengan versi series-nya? Bakal lebih bagus atau malah biasa saja? Apakah akting Sheila Dara bisa se-ikonik Tika Bravani saat memerankan karakter Sore? Untungnya, film ini digarap oleh orang yang sama sehingga paham betul di bagian mana poin penting dan titik magis ceritanya bisa dirasakan. Hasilnya, jelas lebih indah. Masih memberi rasa seperti Sore yang rilis delapan tahun lalu, tetapi juga berhasil berdiri sendiri dengan kekuatan ceritanya yang utuh dan lebih powerful.
Soal akting dan chemistry? Ini juga bisa diadu. Sheila Dara bersama Dion Wiyoko mampu membangun cerita dari yang awalnya asing sampai "kawin banget" di sepanjang durasi 119 menit. Sore dan Jonathan versi film bisa hadir dengan hangat dan tidak dipaksa mirip atau menandingi versi series. Sheila juga sangat luwes untuk urusan dialog panjang dengan bahasa Kroasia seolah memberi fakta secara halus, bahwa Sore memang sudah sangat familiar dengan lingkungan dan kehidupan di sana.
Hadirnya jajaran aktor dan aktris Kroasia di film Sore: Istri dari Masa Depan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Goran Bogdan sebagai Carlo, sahabat sekaligus manajer Jonathan, Livio Badurina sebagai bos Sore, hingga Lara Nekic sebagai Elsa membuktikan kolaborasi para aktor ini benar-benar cair. Semua pas, tidak ada adegan yang terasa kaku atau ‘yang penting ada dialog bahasa asing bareng aktor bule’. Humor antara Carlo dan Jonathan terasa hangat. Pelukan Sore dengan bosnya pun juga terasa menyembuhkan.

Dari sisi audio visual dan artistik, film ini juga wajib mendapat ruang pujian tersendiri. Mulai dari sinematografi dan kontrasnya pencahayaan yang super apik, sound membahana, pemilihan soundtrack yang tiap ketukannya benar-benar mengiringi jalan cerita, sampai urusan wardrobe dengan color palette-nya yang nyaman di mata. Ditambah setting kota kecil di Kroasia yang mengisi 80% cerita, serta satu sisipan lagu bahasa lokal, lengkap sudah.
Keputusan untuk memberi nostalgia lewat lagu “Forget Jakarta” dan “Gaze” dari Adhitia Sofyan memberi rasa familiar bagi yang mengikuti series-nya. Lalu gebrakan pun muncul dari “Pancarona” dan “Terbuang dalam Waktu” dari Barasuara. Dua lagu ini benar-benar memberi nyawa yang kuat untuk adegan dramatis yang dilalui dua karakter utama. Ditutup dengan alunan “Hingga Ujung Waktu” dari Sheila on 7. Semua jadi terasa dan terlihat pas dalam membangun cerita besar yang dibawa Sore bersama Jonathan.
Secara keseluruhan, Sore: Istri dari Masa Depan berhasil jadi "sihir" baru di industri perfilman Indonesia, khususnya di genre drama yang sering dianggap menye-menye atau cinta-cintaan doang. Dari tangan dan isi kepala seorang Yandy Laurens, kita jadi bisa merasakan efek yang sebenarnya dari sebuah film. Menghanyutkan saat ditonton, beresonansi di dalam hati saat semuanya selesai. Membuat kita pulang dengan hati terasa hangat dan merasakan perasaan berbeda dibanding sebelumnya. Satu lagi, pastikan sudah duduk manis sebelum film dimulai karena ada setitik detail di menit awal yang baru terasa nyambung dan ‘klik’ di akhir film jika kita memperhatikan.
