Pelukan hangat untuk single parents yang mencari cinta.
Hari Valentine sudah datang, saatnya merayakan dengan film romantis nan gemas yang ada di bioskop. Tahun ini, si manis Bridget Jones hadir kembali lewat bagian keempat dari seri film Bridget Jones, dengan subjudul Mad About the Boy. Masih menghadirkan karakter utama Bridget Jones dan dua pria yang selama ini mewarnai naik turun kehidupannya: Mark Darcy dan Daniel Cleaver. Namun, kali ini, muncul karakter baru yang membuat Bridget (dan juga penonton) ikut merasa gemas, haru, dan kembali merasakan cinta. Tidak cuma satu, tetapi dua: Roxter si berondong penuh pesona dan guru Biologi Mr. Walliker yang berkarisma.
Bridget Jones: Mad About the Boy mengisahkan Bridget (Renée Zellweger) yang kini menjalani hidup sebagai single parent dengan dua anak, Billy (Casper Knopf) dan Mabel (Mila Jankovic) setelah Mark Darcy (Colin Firth) meninggal dunia. Menjalani hari sebagai ibu sambil mengurus banyak hal, dan juga masih diselimuti duka, membuat Bridget tidak memikirkan asmara. Namun, tidak dengan keluarga dan teman-temannya yang sangat suportif. Akhirnya Bridget memberanikan diri, mencoba mulai fokus pada dirinya sendiri. Ia pun kembali bekerja sebagai produser acara TV, ‘merelakan’ anaknya diasuh nanny, dan tentu saja mulai berkencan.. dimulai dari menginstal Tinder. Perlahan, Bridget mulai menemukan dirinya yang sempat hilang.
Secara keseluruhan, Bridget Jones: Mad About the Boy bisa dibilang paling menyentuh hati. Unsur komedi khas Bridget masih ada namun terasa lebih toned down. Bisa jadi karena menyesuaikan usia Bridget yang sudah masuk kepala 5. Belum lagi keadaannya sebagai ibu dua anak yang sesekali masih merindukan sosok mendiang suami. Ditambah karakter Billy, putra pertama Bridget yang pemurung, yang secara psikologis dijabarkan sebagai anak yang merindukan sosok ayah. Riuh-ramai, rapuh, dan jelas butuh pertolongan. Itulah kondisi Bridget dan keluarga kecilnya.

Setengah durasi film kita dibuat merasakan betapa lelah dan payahnya Bridget menjalani hidup sendirian tanpa partner. Begitu muncul Roxter (Leo Woodall) yang secara visual tampak muda, bertenaga, dan tegap bagai gapura, unsur romance khas Bridget Jones akhirnya muncul kembali. Sosok Mr. Walliker (Chiwetel Ejiofor) yang juga sebagai love interest, namun selalu berjarak setiap bertemu dengan Bridget, cukup mencuri perhatian. Membuat penasaran hal apa yang kiranya membuat keduanya saling suka sehingga saat gong-nya mereka berdua merasakan benih cinta, penonton bisa bertepuk tangan.
Jika disesuaikan dengan judul, kisah Bridget Jones di Mad About the Boy bukanlah Bridget Jones yang tergila-gila (atau dibikin gila) oleh laki-laki. Justru hadirnya para lelaki ini membuat ibu ini lebih bisa menemukan diri dan passion-nya yang hilang. Ditambah lagi lewat terbukanya obrolan soal kehilangan, kematian, dan bagaimana kita yang hidup harus tetap bergerak meski dunia terasa berhenti. Bukan obrolan penuh teori, namun yang bisa langsung terasa masuk ke hati.
Bisa dibilang, Bridget Jones: Mad About the Boy seperti rangkuman perjalanan hidup seorang Bridget Jones yang menemukan dirinya sekali lagi.
