Cinta sejati tidak butuh kekerasan
Tema domestic violence atau kekerasan dalam rumah tangga saat ini sedang ramai diperbincangkan. Banyak penyintas yang berani berbicara sehingga kondisi ini pun banyak disorot. Memang, tidak mudah bagi para penyintas untuk mengakui bahwa mereka berada dalam hubungan tidak sehat atau toxic relationship dan berusaha untuk keluar dari sana. Kebanyakan berharap bahwa pasangannya akan berubah seiring dengan berjalannya waktu, tapi pada kenyataannya, itu tidak terjadi.
Diadaptasi dari novel laris karya Colleen Hoover, It Ends With Us mengangkat isu tentang kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi pada karakter Lily dan Ryle. Dua insan yang awalnya saling mencintai, tapi lambat-laun memiliki sisi gelap dalam hubungan mereka. Blake Lively, Justin Baldoni (pemain utama sekaligus sutradara), dan Brandon Sklenar.
Lily Bloom adalah wanita muda yang bermimpi memiliki toko bunganya sendiri. Suatu hari, saat sedang menyendiri di atap sebuah apartemen, ia berkenalan dengan ahli bedah, Ryle Kincaid. Mereka langsung merasakan ketertarikan, tapi pertemuan mereka terpaksa berakhir saat Ryle dipanggil untuk operasi darurat. Setelah berhasil menyewa tempat, Lily pelan-pelan mulai mewujudkan impiannya memiliki toko bunga dengan bantuan sahabat barunya, Allysa. Tak diduga, Lily kembali bertemu Ryle yang ternyata adalah kakak Allysa. Pertemuan ini pun berlanjut hingga akhirnya mereka sepakat menjalin hubungan. Suatu hari, saat sedang membuat sarapan, Ryle tidak sengaja terkena luka bakar dan memukul Lily yang mencoba membantunya. Meski syok, tapi Lily berusaha menerima itu sebagai sebuah kecelakaan.
Di tengah hubungannya dengan Ryle, Lily bertemu mantan kekasihnya di SMA, Atlas, yang kini memiliki restoran bernama Roots. Saat melihat mata Lily yang lebam dan tangan Ryle yang diperban, Atlas meminta Lily untuk meninggalkan pria itu. Hal ini membawa Atlas pada pertengkaran besar dengan Ryle. Beberapa hari kemudian, Atlas mendatangi Lily di toko bunganya dan memberikan nomor telepon untuk keadaan darurat. Ryle yang tidak sangat menemukan nomor tersebut marah. Pertengkaran mereka di tangga darurat berakhir buruk karena Ryle mendorong Lily dari tangga hingga terluka di kepala. Dari sini, situasi mereka semakin buruk dan Lily harus segera memutuskan apakah mau bertahan atau memilih pergi.

Bagi orang-orang yang tidak pernah mengalami domestic violence dalam hubungannya, mungkin akan bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang susah dan berat meninggalkan pasangannya yang melakukan kekerasan? Film ini memberikan jawaban dari pertanyaan itu. It Ends with Us tidak terburu-buru dalam menggambarkan hubungan toxic Lily-Ryle. Malahan, kita disuguhi pertemuan pertama mereka, flirting, hingga keromantisan yang akan membuat kita teringat saat-saat naksir seseorang. Ryle digambarkan sebagai pria yang mapan, tampan, seksi, romantis, dan pintar memasak. Tipe karakter yang membuat siapa pun akan langsung jatuh cinta, tidak terkecuali Lily. Namun, ternyata, di balik itu, ia memiliki masa lalu yang kelam sehingga berujung pada amarah yang selama ini ia tekan di dalam dirinya dan bisa meluap tak terkendali. It Ends with Us menggambarkan dengan baik bahwa memang tidak semudah itu bagi seseorang untuk lepas dari pasangannya yang abusive, terutama jika cinta yang dimiliki sangat besar.
Meski film ini cukup didominasi hubungan Ryle dengan Lily, namun tokoh utama lain, yaitu Atlas cukup mendapat porsi yang besar, terutama saat penceritaan beralih ke masa saat Lily masih SMA. Meski porsi Atlas dewasa tidak begitu banyak, tapi dengan paparan kisah masa lalu Lily, penonton mendapat gambaran akan sosok Atlas yang sekarang dan hubungan manis yang terjalin.
Akting para pemain utamanya menjadi tumpuan utama film ini dan bisa dibilang ketiganya tampil tidak mengecewakan. Kredit lebih patut diberikan kepada Baldoni yang tidak hanya menyutradarai, tapi juga menghidupkan karakter Ryle. Ia bisa menghadirkan sosok Ryle dengan segala kelebihannya yang bisa membuat wanita jatuh cinta, tapi juga punya sisi gelap yang membuat siapa pun ragu untuk melanjutkan hubungan dengannya.
Pada akhirnya, It Ends with Us mengajarkan kita bahwa bagi mereka yang berada dalam hubungan yang mengalami domestic violence, keluar dari hal tersebut tidak mudah. Dibutuhkan kemauan keras dan bantuan dari orang-orang di sekitarnya yang memberikan dorongan dan semangat karena sering kali mereka tidak mau mengakuinya. Untuk kalian yang sedang berada dalam hubungan toxic, baik itu abusive secara fisik maupun mental, jangan ragu untuk stand up dan speak up karena semua itu harus berakhir. Seperti kata Lily Bloom: kita hentikan siklusnya atau siklusnya yang menghentikan kita.
