Hati-hati saat kalap berbelanja, bisa jadi kita akan menerima akibatnya
Jauh sebelum dipaksakan untuk dibuat sekuelnya terus-menerus, pada masanya, Scream adalah salah satu film slasher remaja yang mengundang rasa ketertarikan penonton. Diteror sosok bertopeng tanpa bisa melawan dan sibuk menerka siapa pembunuh sebenarnya adalah keunggulan film yang memasangkan Neve Campbell dengan Courtney Cox ini. Setelah itu, film sejenis pun bermunculan, salah satunya I Know What You Did Last Summer. Menggabungkan tema 'anak-anak remaja ceroboh yang berbuat kelewat batas hingga mencelakakan orang lain dan harus menerima pembalasan akan hal tersebut' yang rupanya diketengahkan Eli Roth dalam film terbarunya, Thanksgiving.
Sehari sebelum Thanksgiving, Jessica Wright menyelundupkan teman-temannya ke supermarket sang ayah di tengah-tengah ramainya para warga Plymouth yang menunggu toko dibuka demi berbelanja obral besar-besaran dalam rangka Black Friday. Kelakuan mereka yang masuk duluan dan menggoda calon pembeli di luar supermarket tentu membuat geram sehingga kerusuhan pun tak terelakkan, berbuntut pada orang-orang yang terluka, bahkan hingga meregang nyawa. Setahun kemudian, menjelang Thanksgiving, seorang pria dengan topeng John Carver mulai meneror satu demi satu orang yang terlibat dalam kerusuhan berdarah tersebut, termasuk Jessica dan teman-temannya.

Jika Indonesia kerap memakai istilah-istilah di agama Islam untuk dijadikan judul film horor, maka di Amerika, hari-hari besarlah yang menarik minat para pembuat film, terutama yang bergenre slasher. Bukannya menghadirkan keceriaan, tapi malah membawa teror dan ketakutan. Bahkan, hal ini termasuk ke dalam subgenre di dunia horor, yaitu Holiday Horror, yaitu film-film horor yang ber-setting pada masa liburan. Beberapa yang cukup terkenal, di antaranya My Bloody Valentine, Halloween, Krampus, dan masih banyak lagi. Kali ini, Thanksgiving menjadi hari libur yang dipilih Roth untuk "dipelintir" sedemikian rupa.
Sekuens pembukanya mungkin salah satu yang terliar dan tidak terduga, menggambarkan bahwa panic buying (baik itu dalam keadaan darurat atau pun kalap karena diskon besar-besaran) bisa mendatangkan kengerian. Dan, bukan Roth namanya kalau tidak menghadirkan adegan penuh darah, namun entah kenapa memaksa penonton untuk tertawa. Menertawakan kebiadaban manusia saat dihadapkan pada nafsu untuk mendapatkan benda-benda termurah, tanpa peduli bahwa di sekitarnya ada yang sedang meregang nyawa, terinjak-injak, bahkan butuh bantuan medis.

Adegan teror yang berlangsung setahun kemudian pun tidak main-main. Roth menggambarkan betapa si pelaku memiliki dendam mendalam terhadap orang-orang di dalam toko karena alasan tertentu. Kalau kita merasa adegan pembuka terasa liar, tunggu sampai melihat yang dilakukan Si Topeng John Carver terhadap korban-korbannya. Siksaan yang membuat ngilu, bergidik, ngeri, jijik, bahkan sampai membuat kita berteriak di dalam bioskop karena tidak percaya bahwa Roth bisa sekreatif itu dalam menampilkan pembunuhan. Percayalah, film ini bukan untuk yang berjantung lemah, takut darah, mudah jijik, apalagi membawa anak kecil. Big no no!
Menariknya, di tengah banjir darah dan kengiluan tersebut, masih terselip lelucon di sana-sini yang membuat kita tertawa. Tidak lupa pula, Thanksgiving ditutup dengan revelation dari siapakah sosok pelaku yang sebenarnya dan apa motif di balik itu. Ending-nya akan mengingatkan kita pada kepuasan saat menyaksikan Scream untuk pertama kali dan sadar betapa briliannya film itu dalam mengungkap Ghostface. Memang tidak se-wow itu menjelang akhir, tapi kita tetap diajak untuk menebak-nebak sepanjang film.

Kalau kalian penggemar slasher remaja yang penuh kekerasan, suka menebak-nebak pelaku sebenarnya, dan senang dengan twist di akhir, Thanksgiving salah satu yang patut ditonton. Mengundang tawa di atas penderitaan orang lain. Tapi, tentu saja siap-siap menutup mata dan ngilu sepanjang film dengan segala "ide kreatif" Roth dalam membunuh orang.