The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes - Asal-Muasal Tirani Coriolanus Snow di Panem

by Redaksi

The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes - Asal-Muasal Tirani Coriolanus Snow di Panem
EDITOR'S RATING    

Dunia The Hunger Games, tapi tidak seglamor era Katniss

Berselang delapan tahun setelah kisah para Tribute melawan Presiden Snow yang tiran, dunia The Hunger Games kembali lagi melalui prekuel dari trilogi original karya Suzanne Collins. Kali ini, kisah menyoroti masa muda Presiden Snow saat masih menjadi murid miskin yang berjuang mencari nama di Capitol. Deretan pemerannya pun mencampur aktor-aktris muda dengan pemain senior, seperti Rachel Zegler, Hunter Schafer, Tom Blyth, Peter Dinklage, dan Viola Davis. 

Coriolanus Snow adalah murid miskin di Akademi dan berusaha memenangkan hadiah Plinth untuk membayar uang sewa dan membeli makanan bagi keluarganya. Namun, perubahan aturan pada The Hunger Games ke-10 membuat Snow terpaksa menjadi mentor dari Tribute Distrik 12, Lucy Gray Baird. Bertekad membuat Lucy Gray disukai para penonton dan menang serta berusaha memberi kesan yang baik pada sang Gamemaker, Dr. Volumnia Gaul, Snow pun mulai menyusun rencana yang bisa menguntungkannya. Di tengah ketegangan dalam menyusun strategi untuk The Hunger Game ke-10, pemberontakan para Distrik, dan juga berbagai upaya untuk naik ke lapisan atas Capitol, Snow jatuh cinta dengan Lucy Gray. Cinta yang mengubahnya menjadi seorang tiran seperti yang kita kenal sekarang.

Menarik kembali Francis Lawrence sebagai sutradara The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes jelas adalah keputusan tepat. Lawrence kembali menghadirkan Panem, Capitol, kondisi District yang penuh pemberontakan, hingga Hunger Games yang sudah kita kenal selama ini. Seperti bertemu kawan lama, tapi dengan cerita yang lebih kelam dan permainan yang tidak "semenghibur" film orisinalnya. Ya, dikarenakan kisahnya yang mengambil masa 64 tahun sebelum era Katniss Everdeen, Hunger Games di sini pun belum memiliki konsep "hiburan". Misalnya, arena yang masih berupa colloseum sempit tempat para Tribute bertarung, bantuan untuk Tribute masih berupa poin dari para donatur untuk kemudian ditukar sang mentor sesuai kebutuhan Tribute, tidak ada senjata atau perbekalan yang disiapkan di awal, para Tribute tidak dijamu dan dielu-elukan layaknya superstar, melainkan diperlakukan seperti binatang dengan dimasukkan ke dalam kandang kebun binatang dan dipertontonkan kepada para pengunjung, serta pertarungannya sendiri bisa berlangsung cepat karena lokasi yang itu-itu saja. 


Dari yang dihadirkan dalam prekuel ini, kita tahu bahwa dalam perjalanannya, Hunger Games berubah menjadi sebuah tontonan yang dianggap "acara ragam" bagi masyarakat Capitol. Sayangnya, Songbirds and Snakes tidak memperlihatkan proses perubahannya meski mungkin akan menarik untuk melihat bagaimana Gaul dan Snow bekerja sama untuk mengubah berbagai aturan permainan hingga menjadi seperti yang kenal. Namun, dengan segala kesederhanaannya, Hunger Games versi awal ini masih memperlihatkan situasi yang miris serta ironis. Bahwa, orang-orang di arena dipaksa membunuh untuk menyelamatkan diri meski tidak ada dendam pribadi dan semua itu dilakukan dalam kondisi terbatas. 

Meski berdurasi cukup panjang, 2 jam 37 menit, film ini tidak menampilkan sisi membosankan. Pace-nya berjalan cepat dan membuat kita semakin penasaran bagaimana Snow yang memiliki sisi lembut di dalam dirinya bisa menjadi tiran yang kejam. Belum baca bukunya? Tidak perlu khawatir. Film ini sangat enak diikuti tanpa ada kewajiban terlebih dulu untuk membaca bukunya. Tapi, dengan catatan, kita sudah tahu tentang dunia The Hunger Games dari buku-buku sebelumnya.


Peter Blyth sukses berperan sebagai Coriolanus Snow muda yang terjebak antara ambisinya untuk mencari nama di Capitol atau menjadi pria bebas bersama gadis yang ia cintai. Rachel Zegler pun memberikan akting memikat sebagai Lucy Gray, gadis yang berusaha tetap mempertahankan nuraninya di tengah-tengah kegilaan permainan saling bunuh. Viola Davis pun, seperti biasa, tidak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya sebagai Volumnia Gaul, pengajar yang kekejamannya menanamkan benih kediktatoran dalam diri Snow.

Kekurangan mungkin akan terasa menjelang akhir. Kalau kita mengharapkan ada perang besar-besaran antara Distrik dan Capitol, maka bersiaplah untuk kecewa. Dengan fokus cerita pada Lucy Gray dan Snow, konflik puncak yang terjadi pun hanya di antara mereka berdua. Selain itu, mungkin sebagian akan merasa bahwa alasan Snow menjadi sosok yang tiran seperti sekarang tidak terlalu kuat. Apa dia kecewa karena dikhianati Lucy Gray? Apakah memang dari awal ambisi yang begitu kuat membutakannya? Sepertinya, masih ada masa lalu Snow yang belum diceritakan. Termasuk, perubahan Hunger Games yang cukup signifikan. Mungkin, Suzanne Collins tertarik untuk membuat kelanjutannya mengingat masih banyak yang bisa digali dari hidup seorang Coriolanus Snow.


Artikel Terkait