A Haunting in Venice: Misteri Berbalut Horor yang Sukses Membuat Bosan

by Redaksi

A Haunting in Venice: Misteri Berbalut Horor yang Sukses Membuat Bosan
EDITOR'S RATING    

Menontonnya seperti dituntun hingga akhir, tidak ada momen penonton menebak-nebak

Semakin ke sini, adaptasi novel Agatha Christie oleh Kenneth Branagh semakin terasa membosankan. Murder on the Orient Express memberikan standar tinggi yang tidak bisa dicapai oleh film-film setelahnya. Death on the Nile masih cukup seru dan penonton dibuat penasaran bagaimana sang pelaku melakukan aksinya. Sementara itu, A Haunting in Venice, terasa seperti salah satu plot komik Kindaichi, berputar-putar hanya di satu lokasi dan penyebabnya pun ternyata sepele. Dan tolong, untuk film-film seperti ini jauhkan keterlibatan karakter anak-anak. Selain annoying, biasanya karakter anak-anak bisa menjadi biang kebetulan dari terjadinya kasus atau pun pemecahannya.

Awalnya sangat seru memperlihatkan Hercule Poirot yang sudah pensiun dan bosan menangani kasus-kasus kejahatan. Pertemuannya dengan kawan lama, Ariadne Oliver, membawa Poirot ke sebuah acara pemanggilan arwah. Situasi mistis di awal seakan menjadi nuansa segar dan berbeda dari dua film sebelumnya. Tetapi, setelah kasus terjadi, kita dibawa berputar-putar di rumah yang denahnya saja tidak jelas seperti apa. Karakter keluar masuk ruangan/ kamar yang cukup membingungkan untuk diingat, padahal kasus ini hanya terjadi di satu lokasi. Banyaknya ruangan yang bisa tembus atau terhubung dengan satu ruangan lainnya membuat penonton susah mengikuti alur kasus ini. 

Dari awal semua karakter dibuat ambigu dan punya motif masing-masing. Memang membuat penonton susah untuk menebak siapa pelakunya. Namun, saat pelaku diungkap, tidak ada kesan wah dan mengejutkan. Penonton dipaksa terpukau oleh trik-trik yang dipecahkan oleh Poirot tanpa punya rasa ikut andil untuk menebak-nebak siapa pelakunya. Setelah itu sang detektif akan menjelaskan semua alasan pembunuhan berikut triknya dan kita hanya bisa mengangguk-angguk seolah dipaksa untuk mengakui kalau Poirot itu cerdas.


Yang paling menarik dari film ini adalah unsur horor yang muncul di film. Karena bukan film horor, unsur tersebut menambah kejutan yang terjadi di tengah penyelidikan. Beberapa kali, unsur horor ini berhasil membuat penonton terkejut. Sayangnya, ini tidak dibawa sampai akhir. Sepertinya harus selalu ada penjelasan logis untuk semua hal, padahal ada beberapa aspek yang dibiarkan tidak terjawab akan menambah rasa penasaran pada penonton.

Jarak rilis yang lumayan dekat dengan Death on the Nile di tahun 2022 dan lokasi yang cuma satu, sepertinya memberi pertanda kalau film-film adaptasi Agatha Christie memiliki pemotongan bujet yang signifikan. Pemain kelas A yang bergabung pun semakin menurun. Memang di satu sisi, ini menambah sisi otentik dengan memakai pemain yang tidak terkenal, di sisi lain kita tahu kualitasnya akan biasa-biasa saja. Apakah jarak rilis yang terlalu dekat ini juga berpengaruh pada cerita? Karena waktu untuk mempersiapkan script juga terbatas. Jika begini terus, film-film adaptasi Agatha Christie kualitasnya tidak lebih baik dari film-film yang langsung rilis di platform streaming.