Blue Beetle: Pahlawan Super Serangga Biru yang Cinta Keluarga

by Redaksi

Blue Beetle: Pahlawan Super Serangga Biru yang Cinta Keluarga
EDITOR'S RATING    

Minggir kelelawar, waktunya Blue Beetle beraksi

Blue Beetle akan menjadi penutup film DC di tahun ini jika Aquaman and the Lost Kingdom jadi digeser ke 2024. Berbeda dari superhero DC yang selama ini diangkat ke layar lebar, Blue Beetle bisa dibilang bukanlah superhero kelas utama. Tidak banyak yang tahu sosoknya dan tentunya ia masih kalah pamor dengan rekan-rekannya, seperti Batman, Superman, Wonder Woman, atau Flash. Meski begitu, trailernya yang menarik membuat orang-orang penasaran seperti apakah performa Blue Beetle ini di layar lebar.

Jaime Reyes adalah seorang pemuda yang kembali ke Palmera City untuk berkumpul lagi dengan  keluarganya setelah menamatkan kuliah. Di tengah usahanya mencari kerja karena kondisi keuangan keluarga yang sedang sulit, ia tidak sengaja bertemu dan menolong Jenny Kord dari ancaman bibinya. Sebagai ucapan terima kasih, Jenny mengundang Jaime ke kantornya untuk diberi pekerjaan. Namun, bukan pekerjaan yang ia dapat, melainkan sebuah kotak berisi kumbang mekanik berwarna biru yang mengubahnya menjadi Blue Beetle. Bingung dan panik dengan kekuatan barunya, Jaime masih harus berhadapan dengan Victoria Kord, bibi Jenny, yang berencana merebut kumbang tersebut untuk disatukan dengan teknologi militer miliknya dan tidak segan-segan mengancam keluarga Jaime.


Memang tidak berniat menjadi superhero, Blue Beetle memotret dengan pas bagaimana seorang pemuda biasa menerima kekuatan besar yang berpotensi menjadi senjata penghancur dunia. Menghancurkan banyak hal, merusak atap rumah, bahkan tidak mau menerimanya menjadi hal-hal yang diperlihatkan di sini dan itu terasa wajar. Jaime hanya ingin hidup normal bersama keluarganya, bekerja, dan mencari wanita yang ia sukai, tanpa harus menanggung beban berat.

Mengangkat karakter Jaime Reyes yang merupakan Blue Beetle ketiga dalam jagat komik DC merupakan pilihan tepat. Penonton akan melihat sisi lain superhero yang bukan miliuner, remaja canggung Amerika, atau pemuda jenius, melainkan pemuda biasa-biasa saja asal Meksiko dengan keluarga yang normal. Semua itu membuat karakternya lebih terasa dekat dengan penonton. Tidak hanya itu, Angel Manuel Soto juga dengan piawai memotret budaya warga Meksiko yang juga akrab dengan Indonesia (terutama bagi generasi '90-an), yaitu telenovela. Sebelum drakor mewabah, memang opera sabun Meksiko ini menjadi tontonan yang paling disukai warga Indonesia.


Dari segi aksi, Blue Beetle menghadirkan adegan pertarungan yang sekilas mengingatkan kita pada serial tokusatsu atau sentai Jepang. Gerakan berkelahinya cepat dan kostumnya pun juga mirip. Sentuhan segar untuk kita yang sudah bosan dengan cara bertarung superhero yang itu-itu saja. Selain itu, terlepas apakah WB Pictures dan Zack Snyder sudah berpisah jalan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa gaya pengambilan gambar Snyder banyak memengaruhi film-film DC akhir-akhir ini, termasuk Blue Beetle.

Salah satu keunggulan film ini bisa dibilang dari segi karakter. Penonton dibawa mengenal keluarga Jaime Reyes yang masing-masing punya karakter tersendiri. Paman Rudy yang slenge'an, Milli yang bandel dan ceplas-ceplos, Nenek yang bijak, serta ibu dan ayah yang penyayang. Interaksi mereka di layar lebar terlihat hangat, seru, dan menyenangkan sehingga saat dalam situasi sulit, kita juga merasa simpati pada mereka. Sebuah keputusan yang cukup berani dari Angel Manuel Soto dengan mengedepankan sisi keluarga. Mungkin, karena itulah, sosok villain Victoria Kord jadi kurang tergali. Hanya melalui ucapan Jenny saja tentang bagaimana bibinya iri karena perusahaan yang diyakini akan dikelolanya malah dihibahkan ke Ted Kord.

Blue Beetle tidak perlu taburan cameo untuk menjadikannya film yang seru, hangat, dan menyentuh. Meski di beberapa adegan atau kostum akan mengingatkan kita pada film superhero lain, tapi kumbang biru ini patut mendapat film lanjutan dengan kisah yang sama menariknya.


Artikel Terkait