Tua-tua keladi. Otot kawat, tulang besi.
Sudah tua yang harusnya menikmati masa pensiun dengan tenang, Harrison Ford masih mau bermain kejar-kejaran dengan Nazi di Indiana Jones and the Dial of Destiny. Walau wajahnya bisa dibuat muda dengan efek digital, tapi gerak-gerik tubuhnya yang sudah lambat dan tertatih-tatih tidak bisa ditutupi lagi. Dan, ini mengganggu karena di adegan aksi yang harusnya cepat dan seru, terlihat pemain lain dan atribut dibuat lebih lambat agar bisa mengimbangi Ford. Tidak hanya itu, film ini juga tidak ditunjang dengan cerita yang segar, membuatnya terasa seperti pengulangan film yang sudah-sudah. Padahal, ending-nya mungkin bisa dibuat lain dan menjadi perpisahan yang epik untuk karakter Indi.
Masih bergelut soal artefak Nazi, film ini tidak menawarkan hal baru. Opening film masih menarik walau sedikit kepanjangan. Saat melihat judulnya, kita dibawa berpikir jika opening yang panjang ini akan memiliki fungsi di bagian belakang film, dan sepertinya cerita membawa kita ke sana, sampai akhirnya ternyata tidak dan itulah yang paling mengecewakan dari film ini. Perjalanan Indi seakan tidak ada impact-nya untuk cerita. Hanya sekedar seru-seruan semata. Bahkan, jika ditelaah lebih lanjut, semua petualangan Indi memiliki pola yang sama. Ada sumber masalah datang, kejar-kejaran di tengah kota, pindah negara, kejar-kejaran di negara orang, pindah negara, bertemu Nazi, lolos, pindah negara, kejar-kejaran lagi, final battle, twist, selesai.

Harusnya para tim pengembangan cerita bisa memanfaatkan usia Ford untuk menyesuaikan dia bertingkah layaknya orang tua. Dia bisa menjadi mastermind, bukan lagi petarung utama yang harus lari-lari ke sana kemari. Itu lebih masuk akal dibanding melihat kakek-kakek lompat dari bajaj ngebut dan pesawat dan selamat pula, dengan topi yang masih menempel di kepala. Harus diakui, era Indiana Jones muda sudah lewat, Harrison Ford juga bukan Tom Cruise, gaya baru yang lebih segar untuk karakter Indi akan membuat penonton bersemangat dibanding memakai formula kuno yang sudah terbukti gagal di Indiana Jones and the Crystal Skull.
Di luar Ford, Mads Mikkelsen, Antonio Banderas, dan aktor-aktor tua lainnya patut diacungi jempol. Begitu juga Phoebe Waller-Bridge yang bermain santai, rileks, dan menikmati perannya. Ia punya potensi yang besar jika Disney memutuskan untuk membuat spin-off Indiana Jones atau Indiana 6 dengan Ford mengambil porsi lebih banyak sebagai mentor dan Phoebe yang melompat ke sana kemari. Sayang, karakter Shia LaBeouf tidak lagi dimunculkan. Jika masih, maka ini bisa menjadi kombo yang menarik karena siapa yang akan menjadi penerus Indi sesungguhnya?

Terlepas dari semua kekurangan, film ini tetap asyik untuk dinikmati saat santai. Apalagi bagi mereka yang cinta berat dengan franchise Indiana Jones. Semua elemen yang membuat film ini terkenal dulunya masih ada. Tinggal kembali ke diri masing-masing apakah masih suka dengan rasa yang lama atau berharap film ini mengambil arah yang baru.