Missing: Jadi Detektif Virtual Lewat Jejak Digital

by Redaksi

Missing: Jadi Detektif Virtual Lewat Jejak Digital
EDITOR'S RATING    

Film yang penuh ketegangan meski hanya lewat layar

Di zaman modern ini, manusia selalu dihadapkan pada teknologi. Setiap hari, setiap jam, menit, dan detik, kita selalu terhubung dengan teknologi. Mulai dari bangun tidur, di perjalanan, bekerja, hingga akhirnya beristirahat di malam hari. Bisa dibilang, jejak digital kita ada di mana-mana dan kalau tahu di mana dan ke mana harus mencarinya, apa yang kita lakukan seharian bisa ditelusuri. 

Kesuksesan Searching (2018) memunculkan sebuah sekuel yang berdiri sendiri (stand alone) dengan premis yang nyaris mirip, Missing. Sama-sama mencari orang tersayang yang menghilang berbekal jejak digital mereka, film ini ditulis dan disutradarai duet Will Merrick dan Nick Johnson berdasarkan cerita yang dibuat Sev Ohanian dan Aneesh Chaganty (otak di balik kesuksesan Searching).

June Allen seperti remaja kebanyakan: menjaga jarak dengan ibunya yang menurut dia suka mengatur. Saat sang ibu dan kekasihnya, Kevin Lin, memutuskan untuk berlibur ke Kolombia selama akhir pekan, June memanfaatkan dengan berpesta di rumahnya. Saat menjemput sang ibu di bandara pada hari Senin, June mendapati bahwa ibunya tidak pernah naik pesawat pulang ke Amerika. Dengan kemampuan teknologi khas anak muda, June berusaha menelusuri jejak digital sang ibu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Jika Searching mengisahkan pencarian ayah terhadap putrinya, Missing mengetengahkan usaha pencarian seorang putri terhadap ibunya. Sama seperti film sebelumnya, Missing memakai metode screenlife, yaitu cara penceritaan dengan memakai layar perangkat teknologi, seperti laptop, komputer, tablet, dan ponsel. Meski temanya umum, tapi dengan gaya bertutur seperti ini membuat kita merasa dekat dengan filmnya. Layaknya memelototi perangkat milik kita pribadi, ketegangan yang disajikan pun jadi terasa personal. 

Berbagai jenis aplikasi yang selalu menemani kita sehari-hari ikut disajikan, mulai dari Siri, Whatsapp, Facetime, video call, Google Maps, G-Mail, sampai aplikasi pemeriksa kamera keamanan di luar rumah. Bikin takjub, tapi di satu sisi juga takut karena kita diperlihatkan bahwa jejak digital kita ada di mana-mana. Jika punya niat untuk menelusurinya, apa yang kita lakukan pasti akan bisa diketahui siapa pun. 

Missing unggul dari segi penceritaannya yang mengalir. Tidak ada momen yang membosankan. Setiap petunjuk yang muncul di layar membawa penonton untuk ikut berpikir, membantu June mencari ibunya. Tidak selalu serius, kadang diselipkan juga lelucon yang sering kita temui saat sedang berselancar di dunia maya, salah satunya captcha yang membingungkan. Twist-nya pun berlapis-lapis yang membuat kita semakin seru menebak-nebak dan pada akhirnya puas saat semuanya terungkap di akhir.


Suka film misteri dengan gaya penceritaan yang tidak biasa? Missing jelas jadi salah satu film yang wajib tonton karena akan memuaskan semangat detektif dalam diri kita.

Artikel Terkait