Dibuka dengan misteri, diakhiri dengan drama.
Where the Crawdads Sing adalah adaptasi novel Delia Owens yang masuk ke dalam buku terlaris New York Times . Di Indonesia sendiri, novel ini sudah diterjemahkan oleh Elex Media Komputindo dan bisa dibeli di Gramedia.
Film ini memiliki dua timeline. Satu adalah di masa sekarang yang mengisahkan penyelidikan pembunuhan salah satu pria populer di kota Berkeley Cove, Chase Andrews. Sementara, timeline kedua adalah kisah tentang perjuangan hidup Kya saat ditinggal orangtuanya dan hubungannya dengan Tate serta Chase. Dua timeline ini sebenarnya sederhana asal kita fokus menontonnya karena tidak ada perubahan warna yang menandakan perbedaan timeline. Namun, perbedaan timeline ini tentu tidak dibuat serumit Tenet karena ini adalah drama misteri.
Dibuka dengan temuan yang mengejutkan, sesosok tubuh di paya, plot pun mulai bergulir. Dengan durasi sekitar dua jam, penceritaan Where the Crawdads Sing terasa berjalan cukup lambat. Beberapa konflik yang seharusnya bisa dibuat lebih dramatis terasa datar, seperti saat Kya ditinggal keluarganya atau saat menunggu kehadiran Tate yang tidak kunjung pulang.

Menghadirkan film drama berbalut misteri seperti ini memang bisa dibilang pisau bermata dua. Fokus pada misteri, maka drama akan terasa dikesampingkan. Begitu juga sebaliknya. Dalam Where the Crawdads Sing ini, misteri pembunuhan yang disajikan di awal ternyata hanyalah pengantar pada kehidupan Kya yang sunyi di tengah paya. Penonton yang berharap bahwa misteri ini akan berjalan beriringan dengan dramanya mungkin akan kecewa dan bosan. Tiga perempat film hanya diisi drama mengenai Kya serta hubungannya dengan Tate dan Chase yang penuh tarik-ulur dan minim konflik sampai ke seperempat akhir film.
Kebosanan ini untungnya cukup terselamatkan setiap kali timeline berpindah ke masa saat Kya disidang. Untuk yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya: benarkah gadis ini membunuh Chase berdasarkan bukti dan saksi mata yang diajukan di sidang? Namun, bagi yang sudah baca bukunya, tentu tahu bagaimana ujungnya dan twist yang dihadirkan. Selain adegan di pengadilan, akting Daisy Edgar-Jones sebagai Kya juga patut dapat pujian. Filmografinya saat ini memang belum terlalu mencolok, tapi tidak heran kalau di masa mendatang, dia akan mendapat peran di film-film besar mengingat kemampuan aktingnya yang cukup mencuri perhatian.

Meski mungkin orang yang tidak baca bukunya dan saat menonton berharap bahwa film ini akan menghadirkan misteri atau ketegangan di ruang pengadilan akan kecewa, tapi dramanya bisa jadi pilihan. Dengan menghadirkan kesunyian paya dan rawa, Where the Crawdads Sing mengajarkan kita bahwa dunia ini punya banyak rahasia yang tidak harus selalu diketahui manusia.
