Sepertinya Hutch cocok untuk jadi tag-team John Wick!
Nobody menjadi film mengejutkan di bulan ini. Film dengan deretan pemain tidak terkenal ini memang efektif dalam bercerita dan tidak memusingkan. Bob Odenkirk, yang berperan sebagai Hutch Mansell, sepintas hanya terlihat seperti karyawan biasa. Namun, karena kejadian perampokan di rumahnya (yang dia “biarkan”) dan tidak sengaja harus “membereskan” preman Rusia yang mengganggu seorang penumpang di dalam bis, maka dia harus terlibat dalam berbagai petualangan yang kejam dan penuh aksi. Catat, petualangannya melibatkan pertarungan tangan kosong dan minim CGI, jadi terlihat sangat nyata.
Mafia Rusia yang diganggu oleh Hutch ternyata bukan mafia sembarangan. Mereka mengurusi uang ratusan juta dolar serta punya banyak anak buah yang kejam dan siap menghadang. Ditambah dengan bungkus komedi, film yang awalnya seolah hanya Hutch yang krisis maskulinitas ini kemudian termanifestasi pada balas dendam yang kejam dan melibatkan banyak orang. Rupanya, di balik pembawaan Hutch yang “biasa saja,” tersimpan masa lalu dan energi kekejaman yang melimpah.
Ide bahwa kekejaman menjadi solusi masalah paruh baya memang terdengar aneh dan konyol, namun Nobody mampu mengemasnya menjadi hiburan untuk dewasa. Penonton mendapatkan apa yang diinginkan, yakni deretan aksi minim dialog dan kekejaman maksimal. Jika plot ini terdengar familiar, tidak mengherankan sebab penulis naskah film ini, Derek Kolstad, adalah penulis naskah John Wick.

Nobody adalah film soal laki-laki yang diam-diam membutuhkan penyaluran akan aksi kekejaman atau bahkan alasan untuk melakukan itu. Mereka adalah laki-laki yang terlihat biasa, namun jika dipicu kejadian sederhana, bisa meledak dan merusak banyak hal.
Sebagai tambahan aksi, ayah Hutch, David (Christopher Lloyd), juga “sama” seperti Hutch, yakni terlihat biasa saja, bahkan dia adalah penghuni panti jompo. Namun, David mampu mengejutkan penonton dengan aksinya. Ini menandakan bahwa masa lalu ayah dan anak ini adalah masa lalu penuh aksi yang ditutupi dari keluarga mereka sendiri. Dalam beraksi, Hutch juga tidak diperlihatkan sebagai “terlalu jago, banyak kesempatan ketika Hutch justru malah harus digebuki dan berdarah-darah. Ini menambah derajat realisme dalam film ini.
Kekerasan pada film ini sangat mendominasi dengan pisau, pistol, senapan laras panjang hingga bom yang mengoyak-ngoyak banyak manusia siap membuat penonton meringis. Dengan memasang aktor paruh baya sebagai pemeran utana, film ini juga mengikuti jejak aksi aktor paruh baya lain yang tidak segan beraksi kejam, seperti Liam Neeson lewat Taken (2008) yang disusul Kevin Costner, Pierce Brosnan, dan Guy Pearce. Lalu, puncaknya lewat Keanu Reeves dalam John Wick.

Bagi penikmat serial TV, nama Bob tidak asing, dia sudah pernah bermain dalam serial Breaking Bad dan Better Call Saul. Seiring berjalannya film, rasa penasaran penonton kenapa Bob pandai berkelahi dan pintar dalam menggunakan senjata akan terjawab. Sebuah alasan yang sebenarnya bisa ditebak dengan mudah,
Walau beberapa adegan aksi cukup kejam, tapi pengemasannya kreatif, seperti perkelahian di dalam bus dan tentunya keributan dan tembak-tembakan di akhir film juga sangat menghibur. Karena genre ini memang cukup lawas, kisah balas dendam tanpa basa-basi adalah khas film aksi tahun ‘80 dan ’90-an yang menghibur. Namun, dalam kondisi pandemi seperti ini, film-film yang menghibur dan tidak perlu banyak berpikir pasti lebih diminati.
