Yang suka digombalin mungkin akan tersipu-sipu
Masih dalam suasana PSBB, film-film baru terus dirilis
di Disney+ Hotstar. Kali ini, film adaptasi dari novel Boy
Candra yang
mungkin bikin
sebagian pembacanya
super galau, Malik & Elsa. Buat kalian yang suka
denger gombalan manis,
film ini gombal sejak lima menit
pertama. Kalau itu masih kurang, gombalannya terus
lanjut sampai
ke scene berikut,
berikutnya lagi, dan berikutnya lagi. Bisa dibilang, kalau gombalannya dibuang,
mungkin film ini selesai dalam 30 menit. Tapi, itu nggak masalah karena kalian
yang suka gombalan ala Dilan mungkin juga akan nyaman dengan gombalan ala Malik.
Meski penuh gombalan, Malik & Elsa mengangkat
keseharian para tokohnya yang bisa jadi terasa dekat buat yang sedang atau
pernah menjalaninya.
Berlatar tempat di Padang, sesekali kita akan dibawa ke pasar
tradisional, melihat aktivitas perkuliahan, hingga merasakan kehidupan anak
rantau desa di kota besar. Memang, karakter Malik sebagai pemuda dari desa yang
ingin mengangkat derajat hidupnya melalui pendidikan terlihat cukup klise.
Namun, hal ini justru menunjukkan nilai kelokalan yang dibutuhkan karena
masyarakat Minangkabau memang terkenal gemar merantau untuk mengadu nasib di
kota besar.

Sayangnya,
alur yang
putus-putus dan lompat-lompat tak beraturan membuat kita jadi nggak nyaman
menonton film ini, misalnya kehadiran keluarga Elsa yang
tiba-tiba.
Karakter Elsa yang dikatakan betah di rumah juga tidak dijelaskan
lebih detil. Hanya digambarkan melalui sifat Elsa menyeberang jalan
dianggap cukup menggambarkan kalau dia anak rumahan. Tidak hanya itu, kegiatan
perkuliahannya pun seakan terlupakan setelah 30 menit pertama karena
selanjutnya hanya berisi scene pertemuan Malik dan Elsa di tempat-tempat
wisata, kafe, atau venue konser.
Karakter Malik si anak rantau yang ingin menuntut ilmu di perantauan jadi
hilang karena tidak menggambarkan struggling-nya di dunia akademis. Apalagi, kegiatan perkuliahan
yang disorot hanya Filsafat sehingga kita yang nggak baca novelnya juga nggak paham Malik
dan Elsa ini kuliah apa. Perkuliahan apa yang posisi duduknya selalu sama di
kelas yang sama? Menjelang akhir, film ini pun seakan kebingungan untuk menentukan fokus cerita. Dari film romansa remaja berubah jadi
coming of age yang sayangnya terasa nanggung.
Untungnya,
kekurangan pada plot diselamatkan akting Endy Arfian dan Salshabilla Adriani
yang punya chemistry dan berhasil membuat
kita penasaran untuk terus mengikuti kisah cinta Malik dan Elsa. Selain itu, film ini juga cerdas dalam mempromosikan
Padang..
Sebagai kota besar, popularitas Padang mungkin tidak
sementereng Jakarta.
Namun, sesekali melihat kota selain Jakarta diangkat
ke dalam film rasanya
memang perlu. Penggambaran kafe yang kekinian, lokasi wisata
yang bersih dan sepi, serta jalanan yang lengang sudah cukup untuk membuat kita cuci
mata dan bisa jadi tertarik untuk berwisata ke sana.
