Horor lokal dengan taste internasional
Kesuksesan
Sebelum Iblis Menjemput membuat film
kedua ini memiliki beban, yakni harus lebih seru. Walau dari segi cerita
berbeda dengan film pertama, namun soal keseruan dan momen-momen jeritan tentu
tidak kurang.
Kalau
hanya mencari momen menjerit bareng pacar lalu si pacar minta dipeluk, ini
adalah film yang cocok. Tapi, kalau mencari kedekatan cerita dengan budaya
bangsa kita, ini tidak ada. Bahkan latar rumah panti asuhannya sangat Eropa.
Tidak salah sih, cuma mantra dalam bahasa Latin dan nama setan yang seperti
mitos Eropa membuat film ini seperti sedang makan Cesar Salad dengan Panna Cotta,
tapi di Palmerah.
Bahkan
buku mantra pemanggil setan-nya pun sudah canggih seperti smartphone zaman sekarang, fingerprint
unlock. Tapi, harusnya sudah pakai face
recognition supaya tidak sembarang jempol bisa mengakses bukan? Sayangnya, tidak
ada subtitle untuk menjelaskan isi
bukunya apa.

Chelsea
Islan menjadi kekuatan utama dalam film ini, dibantu oleh beberapa pemain
lainnya. Sayangnya, Shareefa Danish hanya muncul sebentar saja, padahal
aktingnya bagus. Kelebihan lainnya adalah CGI yang bagus dan rapi untuk
karakter setan, tapi agak kasar untuk adegan kebakaran. Momen-momen mengejutkannya
khas Indonesia, seperti muncul dari balik jendela, balik pintu, tiba tiba
keluar dari lemari, dan banyak lagi. Kekurangannya adalah chemistry para anak panti asuhan yang terlalu sebentar sebab satu
persatu keburu dikoyak-koyak iblis.
Apakah
Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 bisa
ditonton tanpa tahu film pertama? Bisa, apalagi kalau pas film pertama sama
gebetan A, film kedua sama gebetan B. Eh, tapi ngomong-ngomong, selama kejadian,
rumah listrik nyala terus. Yang bayar token listriknya siapa, ya? Semoga terpecahkan
di film ketiganya siapa pembayar token listrik rumah panti asuhan yang sudah
tidak dipedulikan itu.
