Kini, tugas menyelamatkan dunia diemban bocah berusia 12 tahun.
Kisah legendaris Arthur dan Ksatria Meja Bundar rasanya
merupakan salah satu legenda yang menarik minat, tidak hanya masyarakat Inggris
saja, tapi juga pencinta film di seluruh dunia. Berbagai film mengenai
kepahlawanan Arthur, yang dibantu Merlin, dalam melawan Morgana sudah sering
diceritakan di berbagai film. Terakhir, ada garapan Guy Ritchie dengan pemeran
utama Charlie Hunnam berjudul King
Arthur: Legend of the Sword. Di tahun 2019 ini, muncul lagi dramatisasi kisah
yang sama dengan penceritaan yang jauh berbeda.
Jika kebanyakan kisah-kisah King Arthur di layar lebar
mengambil waktu Abad Pertengahan, kini sineas Joe Cornish (Attack the Block) membawanya ke Inggris pada masa modern sekarang
ini lewat The Kid who would be King. Tidak
hanya itu, pencabut pedang Excalibur kini adalah seorang bocah bernama
Alexander yang ditakdirkan mencegah Morgana menguasai dunia.
Layaknya Attack
the Block, para pahlawan dalam kisah ini adalah anak-anak yang dibebani
tugas menyelamatkan dunia. Secara interpretasi, film ini memberikan sesuatu
yang baru karena menggabungkan kisah legenda dengan dunia modern. Mengingatkan
kita pada Percy Jackson yang
melakukan hal serupa. Meski nama-nama besar di film ini hanya Patrick Stewart
dan Rebecca Ferguson, akting keempat pemeran utamanya tetap menarik dan
menghibur. Namun, sosok yang mencuri perhatian tentu adalah Merlin (Angus
Imrie) dengan ucapan-ucapannya yang kerap mengundang tawa.

Film ini tidak melulu berkisah tentang perjalanan Alex
dalam mengumpulkan sekutu dan usahanya menghancurkan Morgana. Ada juga interaksinya
dengan sang ibu, kritik terhadap anak muda modern yang kerap tidak mau tahu
kondisi lingkungan sekitarnya, dan juga penindasan di sekolah. Meski begitu,
semua itu disampaikan secara halus dan nyaris tersirat sehingga penonton
mungkin tidak sadar dengan pesan-pesan yang dihadirkan.
Meski setengah film berjalan cukup menarik, namun
setengah durasi menjelang akhir terasa lambat dan memiliki banyak plot hole. Kekuatan Morgana dan
pasukannya pun juga tidak terasa mengancam meski memiliki bentuk fisik yang
cukup menakutkan. Bahkan, pasukan tengkorak berapi pun bisa dikalahkan oleh
sepasukan bocah yang baru berlatih beberapa jam sebelumnya. Morgana yang
digambarkan kuat dan menjadi lawan terberat King Arthur juga tampak lemah dan
tidak memiliki rencana rumit untuk menguasai dunia. Fokusnya hanya membunuh
Alex dan merebut Excalibur.
Dengan ratingnya yang aman untuk ditonton semua orang,
orangtua bisa membawa anaknya menyaksikan The
Kid who would be King ini tanpa harus khawatir ada adegan kekerasan. Namun,
kisahnya yang mudah ditebak mungkin akan membosankan bagi orang dewasa yang
menontonnya.
