Mortal Engines: Dunia Dystopia dalam Mesin Raksasa

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Mortal Engines: Dunia Dystopia dalam Mesin Raksasa
EDITOR'S RATING    

Masih menghadirkan dunia pascabencana yang kelam, namun Mortal Engines menawarkan sesuatu yang baru.

Setelah A Darkest Minds, kini satu lagi sebuah film berlatar dunia dystopia di masa depan tayang di layar lebar. Masih menggunakan sosok perempuan sebagai heroine-nya, Mortal Engines merupakan buku pertama dari empat novel karangan Phillip Reeve menjadi film panjang.

Dengan mengusung nama Peter Jackson, film ini menampilkan visualisasi yang fantastis. Namun, jangan salah sangka. Jackson di sini hanya bertindak sebagai produser dan penulis naskah. Kursi sutradara sendiri dipegang oleh Christian Rivers, storyboard artist Jackson sedari mengerjakan Braindead hingga sekarang. Meski hanya bertindak sebagai produser dan penulis naskah, namun penonton tentu sudah bisa membayangkan bahwa Jackson sedikit-banyak terlibat dalam film yang menelan biaya 100 juta dollar ini. Pasalnya, efek spesial yang dihadirkan akan mengingatkan kita dengan kemegahan The Lord of the Rings atau pun The Hobbit.

Harus diakui membuat film dengan taburan efek spesial seperti ini memang membutuhkan imajinasi yang luar biasa. Mungkin, hanya ada dua orang lain yang bisa mewujudkan dunia Mortal Engine dengan spektakuler, yaitu Guillermo del Toro dan James Cameron. Kota-kota berjalan yang dihadirkan memang tampak luar biasa dengan segala kelebihannya. Sayangnya, film ini hanya fokus pada London dan kurang menggali karakteristik kota-kota yang lebih kecil Jika film pertama ini dianggap cukup menguntungkan, maka bisa dipastikan film kedua akan memuat lebih banyak lagi kota.


Selain itu, guna menyingkat durasi, tim Mortal Engines tidak memasukkan bagaimana kota-kota itu berdiri, teknologi apa yang mereka gunakan, dan apakah ada kota besar lain selain London yang menjadi kota berjalan. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya untuk penonton yang tidak membaca bukunya. Siapakah Pandora Shaw, bagaimana Thaddeus Valentine bisa mendapat kedudukan tinggi di London, dan simbol yang terdapat di kotak yang diperebutkan Shaw dan Valentine juga tidak dijelaskan.

Meski menghadirkan dunia dystopia yang kurang lebih sama dengan beberapa film sejenis, namun kehadiran mesin-mesin raksasa sanggup memberikan warna baru. Meski ceritanya mungkin tidak terlalu spesial dan rasanya sudah terlalu banyak berulang, tapi sebagai salah satu film akhir tahun, Mortal Engines cukup bisa menjadi pilihan. 


Artikel Terkait