Belajar Bahagia Melalui Christopher Robin

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Belajar Bahagia Melalui Christopher Robin
EDITOR'S RATING    

Sahabat-sahabat dari Hutan Hundred Acre akhirnya hadir di layar lebar

Saat anak-anak tumbuh menjadi dewasa, mereka akan kehilangan kepolosan dan keluguan. Hanya masalah pekerjaan dan bagaimana menyenangkan orang lain yang akan orang dewasa pikirkan. Apakah kata ‘bermain’ benar-benar sudah hilang dari benak mereka? Itulah tema yang diangkat dalam Christopher Robin, film live action terbaru Disney.

Dari judulnya, sudah jelas bahwa film ini mengangkat kisah yang mungkin kurang diketahui, tapi karakternya dicintai seluruh orang di dunia. Mereka adalah Winnie the Pooh dengan kawan-kawannya, seperti Eeyore, Tigger, Piglet, Owl, Rabbit, Kanga, dan Roo. Tidak ketinggalan, satu-satunya sahabat manusia mereka yang dijadikan judul film ini: Christopher Robin.

Semua tahu kisah-kisah Christopher Robin dan kawanan unik ini di Hutan Hundred Acre. Namun, apa jadinya saat sahabat terdekat Pooh ini harus pergi untuk masuk sekolah asrama, lulus, ikut perang, jatuh cinta, dan akhirnya menikah? Kenangan terhadap Hutan Hundred Acre dikubur dalam-dalam. Terlalu banyak beban dan tanggung jawab yang harus dipikirkan daripada hanya mengenang kisah lama.


Tidak ada yang tahu bagaimana pertemanan Christopher Robin berlanjut dengan Winnie The Pooh dan kawan-kawan saat dia tumbuh dewasa. Semua itu dihadirkan dalam film ini. Sebuah sindiran bahwa perlahan tapi pasti, orang-orang dewasa akan melupakan sahabat masa kecil mereka. Tenggelam dengan kesibukan dan beban pekerjaan yang menumpuk. Namun, ada saatnya kenangan itu akan kembali dan “mengacak-acak” semua yang sudah tersusun rapi.

Efek CGI dalam film ini patut diacungi jempol karena berhasil menghadirkan Winnie, Eeyore, Tigger, Piglet, Owl, Rabbit, Kanga, dan Roo yang begitu hidup. Pengisi suaranya pun juga adorable karena sanggup menghidupkan masing-masing karakter sesuai dengan imajinasi para penontonnya. Eeyore yang muram, Winnie yang pemalas, Piglet yang penakut, dan Tigger yang hiperaktif. Semua tampil dengan sangat memukau dan lucu di layar lebar. Anda yang sangat menyukai oara karakter ini dijamin akan ikut sedih dan tertawa bersama mereka.

Namun, kisahnya sendiri cenderung berat untuk dipahami anak kecil. Film ini sepertinya memang bukan diperuntukkan bagi anak-anak. Namun, lebih ke orang dewasa yang tumbuh bersama kisah-kisah Christopher Robin dan teman-temannya. Warna-warnanya juga tidak secerah film-film tentang boneka lain, namun hal ini tentu tidak menutupi kualitas yang dihadirkan.


Jika Ted dikenal sebagai boneka beruang penuh sumpah-serapah dan Paddington boneka yang selalu membuat kekacauan, maka Winnie The Pooh hadir sebagai boneka beruang yang lucu dan mengingatkan kita untuk tidak pernah melupakan sahabat lama.

Artikel Terkait