Temanya menarik, namun dieksekusi dengan cara yang sudah pernah dipakai film lain.
Dari dulu hingga sekarang, kasus perundungan atau bullying memang tidak ada habisnya.
Mulai dari yang sederhana seperti mengejek kondisi tubuh teman hingga serangan
fisik seperti pemukulan, penamparan, penjambakan, dan masih banyak lagi.
Berbagai film Indonesia pun sudah sering mengangkat kisah mengenai bullying ini yang umumnya terjadi di
ranah remaja (SMP-SMA). Kini, sebuah film terbaru produksi Surya Films dan
Anami Films kembali mengangkat tema tersebut dengan judul Aib #CyberBully.
Dengan menggunakan video
call sebagai media para karakter berinteraksi, film pun bergulir. Satu demi
satu, tiap karakter mendapat “panggung” untuk dibuka aibnya oleh sosok
misterius bernama Bianca. Tidak cukup membongkar aib ketujuh sahabat itu, satu
per satu pun mati dengan cara yang mengenaskan. Siapakah Bianca ini? Benarkah
dia salah satu teman mereka yang sudah meninggal bunuh diri karena tidak kuat
menghadapi bullying dari
teman-temannya.
Dari segi cerita, film ini mencoba memotret maraknya
fenomena perundungan di kalangan remaja. Pengambilan gambar pun dibuat seunik
mungkin karena menggunakan media video
call yang mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan kids jaman now untuk tetap terhubung ke teman-temannya yang
terpisah jarak. Dialog antarpemain pun dibuat “senatural” mungkin dengan
menyelipkan kata-kata kasar yang mungkin bisa jadi terlontar saat kita ngobrol
dengan teman yang sudah sedemikian akrab.
.jpg)
Namun, hal-hal yang disajikan dalam film ini bisa jadi
membuat para penikmat film mengerutkan kening. Masalahnya, film ini nyaris
mirip dengan sebuah film produksi Universal Studios pada tahun 2015 dengan
judul Unfriended. Temanya serupa,
yaitu cyberbullying. Yang di-bully, cewek yang kemudian arwahnya
gentayangan untuk membalas dendam dengan menggunakan akun anonim. Karakter yang
dihadirkan pun sama: sepasang kekasih, satu pria gendut yang pandai komputer,
satu cowok jagoan, dan tiga karakter cewek lainnya dengan masalah
masing-masing. Konfliknya pun bisa dikatakan nyaris serupa. Pengambilan gambarnya
pun sama, yaitu dengan media ala video call.
Entah apakah penulis naskah dan sutradara tidak sadar
bahwa film mereka mirip atau mereka sadar, tapi berharap para penonton tidak tahu?
Terlepas dari apakah mereka meniru atau tidak, penulis naskah tampak kebingungan
menghadirkan aib yang benar-benar membuat malu masing-masing karakter hingga
membuat mereka berkelahi hebat. Aib yang dihadirkan bisa dibilang 80% berkutat
di seputar hubungan seksual saja, mungkin bagi penulis naskah, aib ini tidak
termaafkan, sementara aib lain masih bisa dimaafkan.
Tidak hanya itu, tiap karakter terasa tidak
mendapatkan latar belakang yang cukup untuk membuat penonton bersimpati, marah,
atau kecewa dengan mereka. Mungkin hanya Sarah dan Anthoni yang digambarkan
sebagai sepasang kekasih saja yang membuat kita sedikit menaruh kasihan, itu
pun hanya sedikit. Alasan mereka mem-bully
sosok Caca hingga akhirnya tewas bunuh diri pun tidak jelas. Apakah Caca pernah
menyakiti salah satu di antara ketujuh sahabat itu? Apakah omelan Bondan bahwa
Caca menolak cintanya bisa dijadikan alasan yang kuat untuk mem-bully gadis ini?

Sayang memang, tema yang bisa “menyindir” kalangan
remaja sekarang bisa jadi akan backfire dengan
pemilihan bentuknya. Semoga respon masyarakat terhadap film ini jauh lebih
bagus dan tidak hanya sekadar melihat kemasannya yang dianggap meniru film
luar.