Masih dihiasi lagu-lagu yang mengundang kita untuk sing-along
Siapa
sangka kisah grup akapela kampus Barden Bellas ternyata mendapat sambutan
meriah saat diputar pertama kali hingga akhirnya diteruskan menjadi trilogi?
Dengan menghadirkan lagu-lagu yang kekinian, Pitch Perfect menjadi salah satu film musikal yang disukai para
penikmat film. Di akhir tahun 2017 ini, kisah Barden Bellas akan disudahi lewat
babak ketiga filmnya. Akankah masih seseru dua tahun sebelumnya?
Tiap
anggota Barden Bellas mulai meniti karier di bidang kesukaan mereka setelah lulus
kuliah. Ternyata, awal karier mereka tidak berjalan lancar. Saat mendapat
undangan reuni, mereka pun dengan semangat datang untuk kembali dikecewakan. Di
saat itulah, Aubrey memberi usul untuk mengikuti tur dalam rangka menghibur
tentara Amerika di Eropa. Namun, bukan Barden Bellas namanya kalau tidak punya
saingan. Kali ini, bukan sesama grup akapela, namun band yang memperebutkan
tempat menjadi pembuka show DJ Khaled. Akankah Barden Bellas berhasil
mewujudkan mimpi mereka?
Sama
seperti kisahnya yang lebih dewasa, gadis-gadis akapela ini juga harus
menghadapi tantangan yang lebih besar lagi, yaitu menghadapi band. Hal ini
cukup menjadi penyegaran bagi penikmat film yang sebelumnya hanya disuguhi
dengan kelompok-kelompok akapela.

Tidak
hanya sekadar upaya mereka berkompetisi, penonton juga dibawa untuk mengenal Ayah
Fat Amy, kisah cinta Chloe dan Lilly, hingga keinginan Becca untuk menjadi
produser musik ternama. Namun, bukan berarti dengan kisah yang lebih dewasa,
kelakukan konyol dan aneh para Bellas menghilang. Fat Amy masih dengan omongannya
yang terkadang tidak disaring, Chloe dengan sikap dramanya, dan Lilly dengan
keunikanny. Yang lebih kalem sepertinya hanya Cynthia Rose Adams (Esther Dean),
si kulit hitam yang kerap melontarkan komentar berbau seksual atau Flo Fuentes
yang minim kalimat sarkas.
Sangat
disayangkan bahwa band Evermoist yang menjadi saingan mereka terasa hanya
ditaruh sebagai sosok antagonis dan tidak digali lebih dalam lagi. Grup akapela
cowok yang dimunculkan dalam film pertama dan keduanya, Treblemaker, juga
dikisahkan memilih jalan masing-masing sehingga ditiadakan dari alur Pitch Perfect 3.
Meski
disajikan dengan kisah yang lebih ‘wah’ dari film sebelumnya, namun Pitch Perfect 3 terasa diakhiri dengan ending yang biasa saja. Dibandingkan
film pertama dan kedua, penghujung film, meski membuat haru, tapi tidak terasa
megah. Mungkin karena tidak ditutup dengan adu akapela seperti di dua film
sebelumnya. Namun, dari segi musik, Pitch
Perfect 3 tetap sanggup membuat kita ingin ikut bergoyang dan bernyanyi
karena lagu-lagu yang di-remake adalah
lagu yang sudah kita kenal.
Sebagai
film penutup tahun, Pitch Perfect 3 adalah
sebuah hiburan komplit yang tidak hanya membuat kita tertawa, dan menangis, bahkan
juga ikut sing-along sepanjang
filmnya. Tonton dan kita pasti akan sedih karena harus kehilangan para Bellas
yang memutuskan untuk menjadi dewasa.
