Film ini mungkin bukan film musikal terbaik yang pernah ada. Namun, opening yang megah membuatnya cukup layak menyandang judul tersebut.
Film
musikal digabungkan dengan biopik mungkin bukan hal yang biasa. Tapi, mau
bagaimana lagi, The Greatest Showman memang
harus menjadi film biopik dengan unsur musikal kental di dalamnya. Dan sebagai sebuah
karya musikal, film produksi 20th Century Fox ini mungkin memang bukan yang
terbaik, namun film ini jelas sangat menghibur dan mudah dinikmati oleh
khalayak yang lebih luas.
Untuk
sebuah proyek debut, The Greatest Showman adalah proyek yang
bisa dibilang cukup berhasil. Film musikal garapan Michael Gracey ini
menghidupkan kembali kisah kesuksesan P.T. Barnum yang berangkat dari seorang
anak penjahit menjadi pebisnis pertunjukan terbesar pada masanya. Barnum yang
sensasional diperankan dengan baik oleh Hugh Jackman yang berhasil membuat film
ini jadi sebuah pertunjukan yang hidup.

The Greatest Showman dibuka dengan opening yang menjanjikan. Petunjukan megah, perasaan bangga dan haru, semua tergambarkan dalam opening singkat itu. Masa kecil Barnum ditunjukkan dalam alur yang padat, namun tetap bisa dinikmati. Sayangnya, gereget saat pembuka ini tak bertahan lama karena mendadak alurnya jadi terasa lambat menjelang pertengahan dan film ini pun terasa hilang fokusnya. Kesuksesan Barnum membuatnya kehilangan fokusnya. Saat Barnum mulai tak fokus dengan bisnisnya, film ini pun terlihat tak fokus dengan konflik yang ingin disorot. Namun, hal tersebut segera termaafkan setiap kali sebuah pertunjukan ditampilkan dan suasana yang dibangun dalam setiap pertunjukan selalu berhasil bikin merinding.
Sebagai
film musikal, The Greatest Showman memilih orang-orang terbaik
untuk menggarap musiknya. Benj Pasek dan Justin Paul—duo di balik kesuksesan La La Land—jelas telah membuat film ini
menjadi sebuah karya musikal yang bernilai. Musik yang asyik dinikmati berbagai
kalangan, kolosal, dan megah membuat setiap pertunjukan dalam film ini menjadi
tontonan yang menarik. Kisah dan konfliknya memang tak berat, tapi sangat
menghibur dengan cara yang unik.

Yang
juga luar biasa adalah Hugh Jackman yang sekali lagi membuktikan kemampuan
akting dan bernyanyinya dalam karya musikal ini. Saya pertama kali jatuh cinta
dengan gaya bermainnya di film musikal adalah saat Les Miserables. Dan dalam film ini pun, Jackman kembali memukau
dengan musikalitasnya yang semakin baik. Jackman membuat adegan demi adegan
layak diikuti. Dia berhasil menjadi Barnum yang berani mengambil risiko dan memiliki
banyak ide yang siap meledak kapan saja. Dan lagi, saat menyanyikan lagu “From
Now On”, Jackman berhasil membawa suasana mengharukan, sebuah kehadiran yang
besar, dan bagian ini membuat pertengahan film yang tadinya terasa membosankan
mulai kembali mendapatkan langkah pastinya.
Selain itu, saya juga sangat jatuh cinta dengan sinematografinya. Membuat film tentang mewujudkan mimpi, Seamus McGarvey cukup lihat menghadirkan warna-warna lembut yang membuat beberapa tempat dalam film ini terasa seperti di negeri dongeng. Selain itu, sudut pengambilan gambar yang dinamis, khususnya saat para karakternya berada dalam pertunjukan atau sedang bernyanyi, menghadirkan suasana kolosal yang dibutuhkan.
Tentu
saja ini bukan film untuk kalian yang ingin penggambaran kisah P.T. Barnum yang
mendekati 100% tepat. Namun, jika kalian adalah tipe penonton yang mencari film
yang asyik dinikmati karena musik dan keajaiban dalam ceritanya, maka film ini jelas
untuk kalian. Musik yang ikonik, belum lagi Jackman yang bisa dibilang sangat
menikmati perannya di film ini, telah membuat film ini menjadi sebuah
pertunjukan yang layak. Film ini bahkan bisa dibilang menghadirkan penampilan terbaik
Zac Efron yang memerankan Phillip Carlyle, rekan bisnis Barnum.

Sebagai sebuah film musikal, mungkin The Greatest Showman memang tak bisa dikatakan sebagai yang
terbaik. Namun, film ini tetap asyik dinikmati karena kisahnya yang ringan dan
menyoroti tokoh yang mewujudkan mimpinya dengan berbagai risiko yang menanti.
Film ini juga mengeluarkan kemampuan bernyanyi dan akrobatik Zendaya dan Keala
Settle dan itu layak diikuti. Film ini menyentuh, mengajarkan bagaimana
keunikan yang masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang bisa menjadi hal
positif di tangan orang yang tepat.
The Greatest Showman saat
ini telah masuk jam tayang midnight dan
siap dinikmati sepenuhnya pada 29 Desember 2017.