The Lego Ninjago Movie Terasa Ringan, namun Tetap Punya Nilai

by Irna Gayatri

The Lego Ninjago Movie Terasa Ringan, namun Tetap Punya Nilai
EDITOR'S RATING    

Semua orang bisa dipastikan akan menikmati petualangan para ninja melindungi Ninjago ini.

Setelah meluncurkan film originalnya, The Lego Movie, pada 2014, disusul The Lego Batman Movie pada Februari 2017 lalu, para kreatornya kembali menghadirkan petualangan dari dunia Lego. Kali ini, The Lego Ninjago Movie yang disutradarai disutradarai oleh Charlie Bean, Paul Fisher, dan Bob Logan diproduksi sebagai film Lego pertama yang diangkat dari karakter original Lego. Film ini diproduksi oleh Warner Animation Group dan digarap berdasarkan naskah yang ditulis oleh Fisher, Logan, Dan dan Kevin Hageman, serta Hilary Winston.

The Lego Ninjago Movie merupakan spin-off kedua dari franchise The Lego Movie. Film ini mengisahkan Lloyd Garmadon (Dave Franco) yang merupakan anak musuh terbesar Ninjago, Lord Garmadon (Justin Theroux). Menjadi anak seorang public enemy bukanlah hal yang mudah bagi Lloyd. Orang-orang di jalan menjauhinya. Di sekolah pun tak ada yang mau berteman dengannya, kecuali Kai (Michael Pena), Nya (Abbi Jacobson), Cole (Fred Armisen), Jay (Kumail Nanjiani), dan Zane (Zach Woods). Mereka berenam menyimpan rahasia yang sama, yaitu merupakan ninja yang selalu melindungi Ninjago dari berbagai serangan Garmadon.

Lloyd yang juga merupakan Ninja Hijau alias “Green Ninja” selalu bisa mengusir pulang Garmadon ke gunung apinya di tengah lautan. Namun, saat masalah yang datang jadi lebih personal, Lloyd juga harus menghadapi kenyataan bahwa masalah terbesarnya adalah dia tak pernah bisa berkomunikasi dengan ayahnya seperti anak lainnya. Namun, dengan sedikit nasihat dari Master Wu (Jackie Chan), Lloyd mulai menyadari hal paling penting yang harus dilakukannya untuk memperbaiki keadaan.


The Lego Ninjago memang punya cerita yang cenderung ringan dan mudah dicerna, khususnya oleh anak-anak. Menghibur, jelas. Namun, selain itu, film ini juga mengupas banyak hal yang lebih bermakna, seperti generasi milenial yang terlalu bergantung pada teknologi, komunikasi antara anak dan orang tua yang tak terjalin dengan baik, sampai kebesaran hati untuk memaafkan.

Lloyd dan teman-teman ninjanya harus mencari kekuatan terpendam mereka, jauh di dalam diri masing-masing. Untuk melakukan itu, Master Wu menempatkan mereka dalam posisi genting, saat mereka tak bisa lagi mengandalkan robot hebat mereka. Robot adalah teknologi yang bisa rusak dan mati, tapi jalan ninja harus ditemukan dalam diri mereka sendiri dan sesuatu yang ada diri mereka adalah hal yang lebih kuat dari teknologi mana pun. Dan sebagaimana film lain dalam franchise-nya, The Lego Ninjago Movie juga mengakhiri kisahnya dengan akhir yang menyentuh dan pencapaian yang membahagiakan.


Di samping itu, meski cukup fokus mengisahkan Lloyd yang tak bisa berhubungan baik dengan ayahnya, karakter-karakter lain dalam film ini tak terlihat seperti sekadar tempelan. Karakter sekecil apa pun tampil untuk mendukung cerita. Bahkan, Ninja Fuschia yang hanya muncul sekelebat sukses mengundang tawa lepas para penonton. Setiap karakter digarap dengan serius dan pada akhirnya namun tampil sesuai porsinya.

The Lego Ninjago Movie bisa dikatakan sangat lengkap menyajikan semua yang dibutuhkan untuk menghibur semua kalangan. Film ini punya cerita yang sederhana dan mudah dipahami, namun tetap memiliki makna yang berharga di dalamnya. Film ini juga punya humor yang tak menjual slapstick, namun lebih bermain dengan karakter yang hidup. Dave Franco, Justin Theroux, dan Jackie Chan bisa dibilang berhasil membangun humor segar di dalamnya. Rangkaian aksinya juga sangat menarik. Dan terakhir, tentu saja twist yang tak terduga yang akan membuat semua penonton terpingkal-pingkal.