Live-action ini sebenarnya baik di beberapa aspek, sayangnya beberapa pengubahan membuatnya jadi kurang berjiwa.
Ya, aman karena film berusaha sebisa mungkin memadatkan tiga volume manga dalam satu film. Akhirnya, daripada dianggap terburu-buru dalam alurnya dengan menghilangkan beberapa bagian, sang sutradara, Kentaro Hagiwara, bermain dengan alternatif lain, yaitu sedikit improvisasi dalam alur dasarnya. Secara garis besar, live-action ini memang cukup setia terhadap manga-nya, namun juga tak sepenuhnya begitu.
Tokyo Ghoul merupakan adaptasi dari manga karya Sui Ishida yang berjudul sama. Manga-nya mengisahkan tentang Ghoul, ‘monster’ pemakan manusia, yang wujudnya menyerupai manusia dan hidup di antara manusia. Ghoul hanya bisa memakan manusia dan mereka bersembunyi di balik bayang-bayang Tokyo. Di antaranya ada Kaneki Ken, seorang manusia yang nyaris dimakan oleh Ghoul bernama Rize, namun berhasil bertahan hidup setelah mendapatkan transplantasi organ. Setelah itu, Kaneki harus menerima kenyataan bahwa dia harus memakan manusia untuk bertahan hidup, sekaligus beradaptasi dengan dunia barunya yang dipenuhi para Ghoul.

Mudah
menjelaskannya dalam sebuah tulisan, namun sebenarnya sulit menggambarkan
situasi yang menimpa Kaneki dalam sebuah film. Dalam sebuah adaptasi, tak hanya
plot, penggambaran karakter yang sesuai juga sangat penting. Sayangnya, Tokyo Ghoul tak bisa disebut sukses di
kedua bagian ini. Tidak gagal, tapi juga tidak sukses.
Setelah ini akan ada major spoiler.
Sesungguhnya, dalam film ini ada cukup banyak plot hole yang akan membingungkan penonton awam. Pertemuan Kaneki Ken (Masataka Kubota) dan Rize Kamishiro (Yuu Aoi) di Anteiku, misalnya. Tanpa diketahui alasannya, tiba-tiba saja keduanya berkencan. Lalu, pada malam hari kencan mereka, Rize yang mengajak Kaneki pulang bersama membawa Kaneki ke lorong yang gelap dan sepi. Saat itu, dalam manga dan anime, Touka Kirishima (Fumika Shimizu), salah satu Ghoul yang bekerja di Anteiku, melihat mereka berdua. Dalam live-action ini, Tak ada satu pun orang di Tokyo yang melihat Rize dan Kaneki meski mereka hanya pergi ke bawah jembatan.
Selanjutnya,
mengenai transplantasi organ yang dilakukan kepada Kaneki. Sejujurnya, bagian
ini benar-benar membuat bingung penonton awam karena penjelasan mengenai
transplantasi organ hanya diberikan melalui liputan televisi yang dilihat oleh
Kaneki. Untungnya, proses Kaneki yang mulai tak bisa menerima makanan manusia
sampai dia ‘kelaparan’ bisa tergambarkan dengan baik berkat akting Kubota yang
patut diacungi jempol.

Ya, akting para pemerannya memang benar-benar menyelamatkan film ini. Bisa dikatakan bahwa casting-nya dilakukan dengan sangat baik. Meski Rize tidak ditampilkan berambut ungu seperti dalam anime, Yuu Aoi bisa menggambarkan Rize dengan sangat baik. Dia bisa berperan menjadi gadis yang manis, lalu berubah menjadi seperti seorang psikopat kelaparan saat akan memakan Kaneki. Pemeran lainnya pun berhasil merepresentasikan karakter mereka dengan baik. Sayangnya, Amon Kotaro yang diperankan oleh Nobuyuki Suzuki lebih terlihat seperti pria galak dibandingkan dingin dan menjunjung tinggi keadilan. Tapi, terlepas dari itu, secara keseluruhan, pemilihan para pemerannya sudah sangat tepat.
Namun, itu saja tak berhasil menyelamatkan live-action ini dari menjadi-kurang-berjiwa. Hal penting seperti Rize yang selalu menghantui Kaneki dan membuat Kaneki hampir kehilangan dirinya tak ditampilkan di film ini. Akibatnya, perubahan karakter Kaneki jadi tidak terasa. Kentaro Hagiwara bermain aman dengan membuat karakter Kaneki Ken menjadi kuat, paling tidak cukup kuat untuk mengalahkan Amon Kotaro. Padahal, Kaneki seharusnya masih lemah saat melawan Amon. Dia menjadi kuat berkat bantuan Rize. Tapi, apa serunya menonton film yang pemeran utamanya lemah? Mungkin hal inilah yang menjadi pertimbangan.

Live-action ini
memang tidak buruk, tapi juga bukan yang terbaik. Efek CGI untuk menghidupkan kagune tak cukup membangkitkan aksi yang dibutuhkan. Kagune Touka dan Kaneki membuat Ghoul terlihat
seperti alien dalam Parasyte. Tapi, sekali
lagi, secara keseluruhan, usaha Hagiwara untuk membuat live-action ini setia terhadap manga-nya
patut diberi penghargaan. Yang pasti, wardrobe-nya
sama sekali tak mengecewakan. Topeng Kaneki benar-benar terlihat keren di film
ini.