Pengulangan Hidup dalam Before I Fall yang Klise

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Pengulangan Hidup dalam Before I Fall yang Klise
EDITOR'S RATING    

Lagi-lagi kelakuan anak remaja yang membuat semuanya jadi bencana

Genre remaja tanggung memang masih menyimpan banyak cerita untuk bisa dieksplorasi menjadi ladang uang bagi rumah produksi Hollywood. Namun, kebanyakan gagal di pasaran karena berbagai hal, biasanya terjadi karena eksekusi cerita yang tidak mumpuni. 

Before I Fall juga mengalami hal yang sama. Diangkat dari karya laris Lauren Oliver yang berjudul sama, film ini gagal memberikan cerita yang memuaskan bagi para penontonnya. Padahal jika melihat dari premis cerita yang dibawakan, potensi untuk menjadi film yang bagus sangat terbuka. Seharusnya Ry Russo-Young bisa memanfaatkan hal ini untuk membuat film remaja keren seperti Project Almanac (2015).

Premis film saat tokoh utama mengalami pengulangan waktu yang sama berkali-kali sudah pernah dan sering kali dibuat. Mulai dari film aksi blockbuster seperti Edge of Tomorrow (2014) hingga drama seperti Groundhog Day (1993). Namun, tampaknya hanya Before I Fall ini yang membuatnya menjadi membosankan. Film remaja harusnya berisi banyak hal seru karena mereka masih memiliki rasa keingintahuan yang besar, apalagi jika menghadapi hal aneh seperti hari yang berulang berkali-kali. 

Awalnya mungkin akan takut dan cemas, tapi jiwa pemberontak ala remaja pasti akan menemukan cara untuk membuat hal ini menjadi seru dan asyik. Sesuatu yang tidak ditangkap dengan baik oleh karakter Samantha Kingston (Zoey Deutch). Atau mungkin karakter tokohnya memang adem ayem.


Samantha yang dibawakan eutch terasa datar, karakternya yang seolah paling baik dalam “geng gaul” SMU-nya membuatnya tampak idealis dengan semua yang terjadi. Agak janggal melihat orang yang mengalami kejadian berulang setiap hari malah meributkan tetek bengek seperti pacaran, bercinta, dan lain-lain. 

Ini bisa menjadi drama sci-fi flick yang oke tapi yah ternyata hingga akhir film tak ada hal yang menarik terjadi. Ujung kunci yang harusnya menjadi twist dan menguak segalanya pun ternyata hanyalah persoalan remaja yang entah kenapa tidak substansial karena justru jarang disinggung sepanjang film. Akhirnya, setelah film selesai, hanya rasa kantuk yang menghinggapi penonton.

Secara performa akting keempat pemain utama film ini, Deutch (Vampire Academy), Halston Sage (Goosebump), Cynthy Wu (Kong: Skull Island), dan Medalion Rahimi (XOXO) tidak bisa dibilang jelek juga. Mereka tampak natural dan menikmati peran mereka hanya justru porsi ketiganya seperti tempelan untuk bergaul saja. Tidak ada eksplorasi lebih mendalam. 

Saya belum membaca novelnya dan merasa apakah memang ceritanya hanya begitu saja atau mungkin sutradara Russo-Young tidak berani bermain-main dengan membuat cerita ini lebih dewasa dan dalam. Sungguh sayang karena film ini punya tema yang sangat menarik. Singkat kata film ini menambah panjang daftar film-film remaja yang gagal untuk memuaskan penggemarnya, setidaknya kami. 

Artikel Terkait