Paramount Pictures hadirkan kembali film franchise The Ring dengan latar waktu yang lebih modern.

The Ring atau Ringu adalah salah satu film horor Jepang yang sukses menebar teror di seluruh dunia. Sadako dan video yang mengutuk telah menjadi ikon dari franchise ini. Hollywood pun tak ketinggalan menampilkan hantu yang mengutuk dengan nama Samara dalam franchise-nya.
Februari ini, Paramount Pictures kembali membawa franchise The Ring ke babak baru yang lebih modern. Masih menghadirkan Samara dan video yang mengutuk, F. Javier Gutiérrez berusaha menghidupkan kembali franchise ini dengan kengerian yang berbeda. Kali ini, Samara tak lagi berada pada masa video tape masih populer, melainkan pada masa ketika penggunaan internet untuk berbagi file sangatlah lumrah.
Jadi, di sinilah Rings, berusaha membawa Samara ke kehidupan modern. Ide ceritanya patut diapresiasi, mengingat video tape yang mengutuk seharusnya sudah sangat ketinggalan zaman pada era modern seperti sekarang ini. Sayangnya, eksekusinya tak sesuai harapan.
Rings tak lagi menampilkan Naomi Watts, melainkan Julia (Matilda Lutz) sebagai pemeran utamanya. Julia berusaha menyelamatkan pacarnya, Holt (Alex Roe) yang menonton video terkutuk sebagai bagian dari penelitian. Gabriel, dosen yang menemukan video tersebut di pasar loak, melakukan penelitian mengenai video tersebut.

Gabriel berhasil menemukan bahwa kutukan bisa dipatahkan selama masih ada orang yang menontonnya (dia menyebutnya sebagai ekor). Namun, bagi Julia, dia ingin kutukan tersebut benar-benar dipatahkan agar tak ada lagi orang yang perlu dikorbankan. Sejauh ini, Rings masih cukup asyik dinikmati, apalagi Julia ternyata melihat video lain yang tak pernah dilihat siapa pun.
Berikutnya, Jelata akan diajak meneliti Samara. Mulai dari sini, Rings menjadi film yang membosankan. Mungkin Gutiérrez ingin membawa Rings kembali ke akarnya dengan kembali menampilkan tokoh heroine yang berhasil mengungkap masa lalu Samara. Sayangnya, dia melupakan bahwa Rings merupakan film tentang kengerian dan okultisme.
Rings melupakan bahwa Sadako atau Samara adalah jiwa yang penuh kebencian karena masa kecilnya yang sangat tidak bahagia. Dalam versi aslinya, Sadako adalah anak yang dikucilkan dan dijauhi lingkungannya karena ibunya dianggap sebagai penyihir. Karena itu, wajar jika pada akhirnya Sadako ditenggelamkan dalam sumur karena masyarakat saat itu takut pada dirinya.
Dalam Rings, yang lebih banyak disorot justru adalah ibunya yang bukan siapa-siapa. Kebencian Samara jadi terkesan tak cukup kuat untuk membuatnya mengutuk orang-orang melalui sebuah video. Terlalu banyak plot hole, terlalu banyak adegan yang membuang-buang waktu.

Untuk sebuah film horor, Rings minim ketegangan. Terlalu banyak yang ingin diangkat dalam film berdurasi 117 menit ini sehingga porsi kengeriannya sangat berkurang. Rings pada akhirnya jadi film horor yang kisahnya akan mudah dilupakan.
Ikatan yang ingin diangkat di dalamnya, yaitu perasaan sedih mendalam yang disebut-sebut Julia ada dalam videonya, sama sekali tak terlihat. Pada akhirnya, Rings berakhir seperti franchise lainnya yang sudah terlalu banyak disisipi cerita: tak original dan terlalu sibuk bereksperimen. Jangan lupakan penampakan Samara yang seperti acara televisi rusak, sama sekali jauh dari kata mengerikan.
Namun, bagi penggemar fanatik franchise The Ring, agaknya semua itu akan termaafkan.