Kisah seorang gadis remaja yang sakit parah yang ingin mengetahui kehidupan sesungguhnya sebelum meninggal.

Dear Tancepers, sejak pertama kali nontonin aksi tengilnya di film Uptown Girls bareng ama Brittany Murphy yang udah dipanggil Sang Hyang Widhi, saia langsung kesemsem (not in a pedophile way… but … well a little bit or ….. maybe a denial pedophile way perhaps… uppsss >0<;) ama aktris baseta (bawah sepuluh taun) ini. Nama Dakota Fanning langsung istilah sepakbolanya saia marking ketat dan akhirnya segala film-filmnya sebisa mungkin ga ada yang boleh kelewat, meski itu kudu nempuh jalur yang ga halal dan sangat ga nikmat sekalipun. Ga salah prediksi, si anak baseta itu emang gedenya jadi aktris yang jempolan. Apesnya, doski kemasuk aktris yang seneng maenin peran yang menantang, walhasil film-filmnya dia jarang yang nongol di bioskop negeri kalian tercinta ini (kalian, karena saia sejujurnya ga cinta ama negeri ini). Makanya, you know lah bagaimana perasaan yang keluar ketika melihat penampakan film doski di sebuah bioskop. Langsung deh atur schedule buat nonton …. Kebetulan watashi no hime lagi nyambang ke mari saat itu.
Singkat cerita. Setelah ngskip perjuangan ringan buat nyari lahan parkir, bagian sesi poto-poto narsis di depan poster filmnya, ngasiin tiket yang langsung secara senang hati disobek sebagian ama mbak-mbak yang lagi tugas jaga di pintu. Disambung sesi bincang-bincang mesra ... (ini sih bukan singkat cerita, masnya… Oh iya, ya? Ok deh, lanjut) dimulailah filmnya.
Diadaptasi dari novel berjudul Before I Die nya Jenny Downham, di sini Fanning berperan jadi Tessa Scott; gadis 17 tahun yang menderita leukimia parah, sampe- sampe divonis dokter bahwa usianya tinggal menghitung bulan. Tessa yang darah mudanya tengah cetarr membahana dan sadar ga punya waktu lama lagi berusaha muasin dahaga keremajaannya semaksimal mungkin dengan membuat daftar berisi hal-hal beresiko tinggi yang ingin dilakukannya, termasuk melepas keperawanannya. Disupport penuh temen baiknya, Zoey (Kaya Scodelario -si psycho eksentrik Effie Stonem dari serial kontroversial SKINS) Tessa mulai mewujudkan apa yang ada di daftarnya sambil menahan tekanan dari anggota keluarganya yang masing-masing merespon penderitaannya dengan treatment berbeda, terlebih ketika Tessa mulai menjalin hubungan dekat dengan Adam (Jeremy Irvine), tetangganya.

Dari segi akting, seperti biasa, Fanning over the top para pemaen lainnya, meski ini bukan performa terbaiknya. Paling-paling yang bisa ngimbangin hanya Paddy Considine (pemeran bapaknya). Karakter Tessa yang dimaenin dibuatnya jadi karakter orang sakit parah yang rapuh di satu sisi tapi juga keliatan psiko di sisi laennya. Mata sayunya, nada bicaranya yang kadang kaya orang ga waras, moodnya yang berubah-ubah, bahasa tubuhnya… aksen Inggrisnya…pokonya cara dia membuat karakter ini hidup … bener-bener bikin hidup.
Well, kalo secara cerita, sebenernya sih yang disajikan di sini standar banget dengan stereotip film-film bikinan Hollywood yang ceritanya mirip-mirip, gitu juga dengan adegan-adegannya, banyak yang klise. Cuman faktor settingnya dan emang dibuat di Inggris bikin nuansa filmnya jadi lumayan segar di mata saia, terutama faktor lokasi-lokasinya.
Minusnya, untuk ukuran film bertema abege (seenggaknya itu yang keliatan di posternya), penuturannya mungkin bisa bikin mereka serasa abis angkat barbel, karena jalur yang diambil lebih ke arah penceritaan dan penuturan film festival daripada ke tipe film selera abege (kecuali kalo si abegenya demen tipe film festival). Secara keseluruhan, kalo dari segi filmnya, buat yang cuman nonton film seukur buat hiburan Now Is Good ga se “Good” apa yang keliatan di posternya, seperti kelakuan tiga orang penonton yang sepertinya ngrasa salah milih tontonan dan akhirnya memutuskan keluar setengah jam sebelum filmnya abis. Tapi, so pasti kalo bagi saia film ini sangatlah “Good”, dan kalo memungkinkan pengen ditonton lagi dan lagi. Ga perlu dijelasin lagi alesan nya kan?
