The Bye Bye Man: Gagal Menjadi Ikonis

by Ireuna

The Bye Bye Man: Gagal Menjadi Ikonis
EDITOR'S RATING    

Film horor bisa lebih berkesan jika menampilkan lebih dari sekadar teror.

Sebagai film horor yang berusaha mengangkat sebuah urban legend menjadi sesuatu yang mengerikan, The Bye Bye Man sayangnya tak cukup berhasil. “Don’t say it. Don’t think it.” adalah dua kata yang cukup penting dalam film ini. Saat melihat tulisan yang berisi larangan semacam itu, entah kenapa film-film horor penebar teror semacam ini selalu berakhir dengan konyol. Saat ada yang mengatakan jangan menyebutkan dan memikirkannya, kenapa harus menyebutkannya? Akhirnya, para tokohnya terjebak dalam kengerian yang dibuat sendiri.

Elliot (Douglas Smith) pindah ke sebuah rumah tua bersama pacarnya, Sasha (Cressida Bonas), dan temannya, John (Lucient Lavisvount). Sama seperti The Conjuring dan The Amityville Horror, rumah tua yang dijual dengan harga murah selalu punya masa lalu yang mengerikan. Uniknya, kali ini, bukan rumah tua itu yang jadi masalah, melainkan perabotan di dalamnya. Untuk hal yang satu ini, sayangnya, film ini tanggung dalam menggali sejarah dan membiarkan informasi mengenai Bye Bye Man menguap dan tetap jadi rahasia.

Pertanyaan terbesar untuk film ini adalah, sejak awal, rumah siapa yang mereka tempati? Tak jelas apakah itu adalah rumah tempat kejadian mengerian terjadi, seperti The Conjuring yang menyajikan sejarah mengenai rumah tempat penyihir mengerikan Bathsheba melakukan ritualnya ilmu hitamnya. Pasti pernah ada yang tinggal di sana dengan semua perabotannya. Dengan kata lain, pasti ada peristiwa mengerikan yang juga pernah terjadi di sana. Di sinilah teror yang ingin disampaikan melalui sosok Bye Bye Man justru gagal ditonjolkan. Jika mau melihat sosok mengerikan yang memengaruhi pikiran seseorang untuk melakukan hal mengerikan, Bathsheba adalah contoh terbaik.

Film ini bahkan melupakan satu hal penting, siapakah Bye Bye Man? Ada apa dengan anjingnya (terlepas dari efek CGI-nya yang menyedihkan)? Kalau memang mau mengangkat urband legend, mitos, atau sejenisnya—seperti mungkin yang disuguhkan di Candyman—tentu perlu lebih banyak latar belakang dibandingkan hanya sejarah ringkas yang terjadi tahun 1960-an. Apakah dia arwah ataukah iblis, seperti yang dikatakan Kim (Jenna Kannell)? Bye Bye Man bahkan gagal menjadi sosok yang mengerikan karena kemunculannya yang terlalu sering dan sangat jelas. Sosok pria misterius dengan jubah? Oh, ayolah! Freddie Krueger bahkan bisa lebih mengerikan dengan topinya!

Akhirnya, Stacy Title hanya bisa membawa The Bye Bye Man menjadi film horor yang menebar teror semata. Teror yang ingin ditampilkan pun akhirnya tak cukup kuat untuk bisa membekas setelahnya. Apakah Bye Bye Man adalah iblis yang mengutuk siapa saja yang memikirkan dan menyebutkan namanya, seperti Sadako dan Kayako? Atau dia adalah arwah jahat yang hanya ingin bermain-main dengan para korbannya, seperti Freddy Krueger? Untuk sosok iblis yang namanya menjadi sebuah judul film, Bye Bye Man gagal menjadi sosok yang ikonis. Jika benar film ini akan menjadi film seri dengan Bye Bye Man sebagai sosok mengerikannya, film berikutnya harus menawarkan cerita yang menyajikan teror, bukan teror yang didukung cerita.

Artikel Terkait