Ouija: Origin of Evil - Awal Mula Papan Pembawa Petaka yang Penuh Drama Keluarga

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Ouija: Origin of Evil - Awal Mula Papan Pembawa Petaka yang Penuh Drama Keluarga
EDITOR'S RATING    

Mencoba permainan mistik tentunya akan mendatangkan konsekuensi tersendiri. Keluarga Zander akan mengetahui itu dengan cara yang menyeramkan.

Mendekati perayaan Halloween sudah pasti banyak film horor yang antri untuk rilis di pasaran. Salah satunya adalah Ouija: Origin of Evil yang “meleset” dua hari dari perawaan Halloween, yaitu 2 November 2016. Temanya sendiri mungkin terasa seperti pengulangan, yaitu sebuah keluarga yang mendapatkan gangguan dari entitas gaib yang merasuki salah satu anggota keluarga mereka. Namun, apakah Ouija: Origin of Evil menawarkan hal yang baru?

Dari segi cerita, jelas fokus utama ada pada papan Ouija yang awalnya hanya mainan, tetapi pada akhirnya malah berbalik. Premis semacam ini jelas bukan hal yang baru, bahkan di perfilman lokal sendiri. Namun, alih-alih mengetengahkan sekelompok remaja sok tahu, Ouija: Origin of Evil memilih single mother dengan dua puterinya yang menjadi sasaran gangguan. Mengingatkan kita pada dwilogi Conjuring? Jelas. Sayangnya, apa yang disajikan Mike Flanagan di sini tidak sanggup menyamai, bahkan melampaui Conjuring.

Film berjalan dengan lambat, berfokus pada usaha Alice membesarkan kedua buah hatinya pasca sang suami meninggal. Hingga pertengahan cerita, bisa jadi penonton akan mulai bosan karena jumping moment yang biasanya sudah muncul ¼ awal cerita tidak terlihat. Tensi cerita baru meningkat saat Doris mulai memainkan Ouija sendirian dan mengalami gangguan. Namun, momen-momen setelah itu pun tidak membuat penonton sampai menjerit ketakutan, paling maksimal hanya terlonjak sesaat melalui ekspresi-ekspresi Doris yang menyeramkan daripada menghadirkan sosok hantu yang nyata.

Dari segi suara juga tidak membuat penonton merasa terteror karena Flanagan nyaris tidak memberikan petunjuk melalui sound kapan si hantu akan muncul. Akting Elizabeth Reaser sebagai seorang single mother yang berusaha membesarkan kedua puterinya dengan segala cara juga terasa kurang meyakinkan dan minim chemistry dengan Annalise Basso (Lina) dan Lulu Wilson (Doris).

Meskipun bisa dibilang mengecewakan bagi penonton Asia yang sudah terbiasa dengan kejutan-kejutan lewat film horor mereka, namun di Amerika sendiri film ini mendapat banyak pujian dan saat ini sudah mengumpulkan $27,5 juta dari bujet $9 juta. Tidak menutup kemungkinan bahwa dua tahun lagi kita akan melihat sekuel dari Ouija. Mungkinkah Michael Bay yang kali ini turun tangan menyutradarainya?

Artikel Terkait