Kisah tentang disleksia tidak perlu diceritakan secara cengeng dan penuh uraian air mata. Wonderful Life memaparkannya melalui road trip yang membuat kita ikut bercermin.

Jika sebelumnya kita disuguhkan roadtrip mengenai sepasang muda-mudi yang pernah jatuh cinta (ehem...Cinta-Rangga), maka roadtrip dalam film ini agak berbeda. Pasalnya, perjalanan kali ini dilakukan oleh seorang ibu dan anak laki-lakinya yang didiagnosis mengidap disleksia. Diangkat dari buku berjudul Wonderful Life karya Amalia Prabowo, Jelata akan diajak menyaksikan bagaimana sebuah perjalanan dapat menyadarkan bahwa setiap anak terlahir sempurna.
Sebuah roadtrip movie bertumpu pada para pemerannya. Mereka harus punya kharisma dan akting yang bagus sehingga penonton tidak bosan. Dan, rasanya memang tidak salah menggunakan Atiqah Hasiholan yang mampu menghidupkan berbagai karakter. Dia sanggup berperan sebagai ibu muda yang frustasi mencari “penyembuh” bagi anaknya yang didiagnosis mengalami disleksia. Sinyo sebagai Aqil pun untunglah sanggup mengimbangi akting Atiqah dan tidak terlihat kaku di layar lebar.
Lansekap pemandangan kota Yogyakarta yang menjadi pemanis juga terlihat enak dipandang meskipun tidak banyak menampilkan budaya kota di Jawa Tengah itu. Tapi, mata Jelata dijamin segar melihat hutan, danau, hingga jalanan dengan penjual sayur di tepinya alih-alih gedung bertingkat dan kemacetan kota. Sayangnya, perubahan sikap Amalia yang sadar bahwa Aqil sama sempurnanya seperti anak lain terasa kurang menggigit. Seperti ada adegan yang hilang dan tidak terjelaskan.
Namun Wonderful Life seperti judulnya, berhasil menyajikan film yang indah mengenai rasa mengerti yang akhirnya tumbuh pada diri sang ibu terhadap anaknya yang mengalami disleksia. Tidak perlu ada air mata, yang perlu hanya tawa.
