Inferno: Saat Manusia Diharuskan untuk Memilih

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Inferno: Saat Manusia Diharuskan untuk Memilih
EDITOR'S RATING    

Robert Langdon kembali berhadapan dengan teka-teki yang tidak hanya mengancam satu kota atau negara tetapi seluruh umat manusia di muka Bumi.

Meskipun satu buku diloncat, toh Inferno tetap ditunggu oleh para pencinta karya-karya Dan Brown dan mereka yang tidak sabar menyaksikan sepak-terjang Robert Langdon di layar lebar. Setelah Perancis dan Vatikan, kini Langdon akan mengusut teka-teki mulai dari jalanan ramai Firenze hingga Hagia Sophia, Istanbul.

Inferno yang disutradarai Ron Howard ini bisa dibilang bukan buku yang dipindahkan ke layar lebar. Ada beberapa bagian yang diubah dan ditiadakan. Namun, momen-momen penting untunglah tidak dihilangkan Howard sehingga pembaca bukunya tidak akan kecewa. Bagi Jelata yang membaca bukunya, tentu sudah tahu twist apa yang ada menjelang akhir buku. Untunglah, Howard dengan ciamik membawa Jelata tetap penasaran bagaimana caranya menghadirkan twist yang cukup mengejutkan tersebut.

Langdon jelas tidak perlu diperkenalkan lagi. Penonton yang mengikuti perjalanan profesor simbologi ini sudah tahu asal-usulnya. Karena itu, Howard tidak berbasa-basi mengenai Langdon dan langsung menggeber filmnya dari menit pertama. Hal ini bisa jadi akan membuat bingung penikmat film awam yang baru pertama kali ini menyaksikan adaptasi Dan Brown. Siapa Langdon? Kenapa ia begitu diinginkan banyak pihak? Dan, masih banyak lagi.

Pace-nya pun lebih cepat dibandingkan buku karena beberapa deskripsi panjang dijelaskan dengan singkat, seperti organisasi apa yang dipimpin Sims, kenapa WHO mengejar-ngejar Bertrand Zobrist, dan hal-hal yang bisa dijelaskan hingga berhalaman-halaman di karya aslinya kini dipadatkan oleh Howard. Bagi Jelata yang merasa sudah tahu akhir dari film ini, lebih baik tidak keburu jumawa karena bisa jadi akan terkejut dengan beberapa adegan pamungkasnya.

Inferno mungkin bukan film terbaik dari jajaran adaptasi petualangan Langdon ke layar lebar, namun teka-teki menyelamatkan umat manusia ini tetap enak untuk dinikmati. Dan, saat melangkah keluar dari bioskop, Jelata akan terbelah: menghancurkan setengah populasi dunia demi keberlangsungan umat manusia atau membiarkan manusia punah 100 tahun lagi?

Artikel Terkait