Lelah dengan horor lokal yang lebih suka berkutat di komedi daripada membuat penontonnya ketakutan? Munafik bisa menjadi pilihan untuk membuat Jelata sulit tidur setelah menontonnya.

Horor sekarang ini mungkin lebih sering disatukan dengan thriller, komedi, atau seks. Jarang disandingkan dengan religi seperti horor-horor Indonesia pada tahun 1970-1980an. Namun, negara tetangga kita, Malaysia, rupanya berani menyuguhkan horor religi dan bisa dikatakan sukses menggedor jantung banyak orang melalui Munafik.
Kisahnya sama seperti horor pada umumnya. Seorang perempuan muda diganggu oleh penampakan-penampakan mengerikan dan kemudian mendapat bantuan dari ustad muda untuk menguak apa yang mengganggunya. Meski dari segi premis, cerita yang diangkat terasa usang, namun muatan religinya yang kental melalui ayat-ayat suci Al-Quran yang dilantunkan seperti menjadi angin segar. Tidak ada anak-anak muda yang bermain-main dengan benda keramat atau sok melanggar aturan. Yang ada hanyalah orang-orang yang diuji keimanan mereka oleh Sang Maha Kuasa.
Pujian tentu saja patut dilayangkan kepada Syamsul Yusof yang di sini mengambil banyak tanggung jawab. Selain sutradara, ia juga bertindak sebagai pemain hingga penata musik. Masing-masing divisi tersebut pun tergarap dengan baik, kecuali musik yang terlampau berisik, keras, dan dipaksakan muncul di semua adegan. Untuk Jelata yang penakut, dengarkan saja scoring yang ada karena Yusof menggunakannya sebagai penanda kapan saatnya kita harus menutup mata atau menjerit. Musik akan berhenti tiba-tiba sebelum akhirnya menghentak lagi. Hal ini beberapa kali diulang sehingga polanya mudah terbaca.

Selain Yusof, pujian juga patut diberikan kepada Nabila Huda. Anak penyanyi Ami Search yang terkenal dengan lagu “Isabela”-nya ini berhasil memerankan Maria, seorang gadis muda yang kerasukan setan dan bertindak aneh. Kami jamin, Jelata akan ketakutan saat menyaksikan akting Huda yang begitu menjiwai perannya.
Di saat menurunnya kualitas film horor di Indonesia, menyaksikan Munafik seperti membawa kita kembali bernostalgia dengan masa-masa ratu horor Suzanna berjaya. Kalau Jelata bosan dengan film horor yang menempatkan setan sebagai objek penderita dan mengumbar paha serta dada, Munafik jelas wajib ditonton dengan segala keseramannya.