Sebuah tribut untuk grup komedi paling terkenal se-Indonesia. Apakah remake ini memuaskan? Berikut ulasan dari kontributor kami, Odagoma.

Tidak menuliskan Warkop DKI dalam sebuah catatan perjalanan pekarya komedi Indonesia tentu akan menimbulkan sebuah tanda tanya besar. Siapa pun tahu, trio lawak yang dihidupi oleh Dono, Kasino, dan Indro itu adalah nama legendaris yang memiliki peran teramat besar dalam perjalanan dan perkembangan karya komedi Indonesia, sejak menjadi penyiar di radio hingga muncul dalam begitu banyak karya sinema. Maka, ketika kabar pembuatan tribut untuk mereka dalam bentuk film tersebar awal tahun ini, pembicaraan terjadi di mana-mana.
Keberhasilan Warkop DKI Reborn rasanya diawali dari naskahnya yang ditulis dengan tepat. Naskah yang ditulis bersama oleh Andi “Awwe” Wijaya, Bene Dion Rajagukguk, dan Anggy Umbara telah berhasil ditulis dengan baik, sesuai dengan karakter komedi Warkop yang semua orang tahu. Keberhasilan yang tentu tidak mudah dicapai karena menulis materi komedi yang baik saja sudahlah sulit. Pengalaman Awwe dan Bene dalam menulis materi sebagai komika di stand up comedy rasanya telah membuat mereka terlatih dan siap menulis materi naskah film komedi yang baik. Pun demikian dengan kedekatan karakter komedi Awwe dan Bene denganWarkop yang tentu juga sangat membantu. Debut penulisan naskah yang sangat mengesankan. Menarik rasanya menantikan film mereka setelah ini.

Berbicara tentang Warkop adalah berbicara tentang Dono, Kasino, dan Indro. Maka, ketika DKI dikaryakan kembali dengan karakter yang sama, salah satu kunci keberhasilannya ada pada kemampuan menghadirkan kembali karakter Dono, Kasino, dan Indro sedekat mungkin dengan ingatan setiap orang. Di sinilah Abimana Arisatya (Dono), Vino G. Bastian (Kasino), dan Tora Sudiro (Indro) layak diberi standing applause. Sebuah apresiasi yang pantas diberikan untuk keberhasilan ketiganya menghidupkan tiga karakter utama yang legendaris itu. Ketiganya, terutama Vino dan Abimana mampu menggunakan segala hal yang melekat pada karakter, mulai dari gestur, mimik, dan suara untuk berlaku sedekat mungkin dengan ingatan yang kita punya tentang Warkop. Selain naskah dan akting, kemampuan Anggy selaku sutradara untuk merinci setiap hal terkait Warkop dan menuturkannya dengan segala hal yang dekat dengan ingatan akan membuat orang-orang yang tumbuh bersama kebesaran Trio DKI tersenyum dan terpingkal-pingkal.
Warkop DKI Reborn bukanlah hadir tanpa celah. Caranya memotong cerita dalam dua bagian film yang cukup kasar, selayaknya memang sudah direncanakan untuk dibuat bersambung, alih-alih menutupnya dengan sebuah sub-ending, akan terasa cukup mengganggu. Bertebarannya kritik sosial mungkin juga cukup aneh bagi sebagian orang. Namun, Warkop DKI Reborn adalah sebuah keberhasilan yang menarik. Sebuah angin yang segar bagi perkembangan karya komedi Indonesia yang masih dapat disebut begitu-begitu saja. Pembuktian yang dihasilkan dari persiapan yang matang, dimulai dari poster dan teaser yang memperlihatkan penawar rindu, diikuti usaha menghasilkan hype yang cukup besar. Sebuah nostalgia yang sungguh gila. Luar biasa.
Update: Hingga hari keenam penayangannya, Warkop DKI Reborn sudah meraih 2.370.000 penonton. Tanda betapa Trio Warkop masih dicintai dan dihargai oleh seluruh penonton Indonesia.
