Walau telah tiada, Bapak akan selalu ada. Tagline ini jelas sudah menggambarkan ke mana arah cerita Sabtu Bersama Bapak. Meskipun begitu, nikmat sekali menyaksikan roller coaster perasaan yang dibuat oleh Monty Tiwa kali ini.

Adhitya Mulya langsung kondang saat novel Jomblo-nya sukses diadaptasi ke layar lebar. Setelah itu, ia berhasil mengantarkan Acha Septriasa menjadi Aktris Terbaik FFI 2012 lewat naskah Test Pack yang diangkat dari novel sang istri tercinta, Ninit Yunita. Kini, menyambut Lebaran 2016, sebuah film kembali diangkat dari novel larisnya yang dikabarkan sudah mengalami cetak-ulang hingga 22 kali, Sabtu Bersama Bapak. Disutradarai Monty Tiwa, film ini disesaki jajaran aktor dan aktris berkualitas, seperti Acha, Arifin Putra, Ira Wibowo, Abimana Aryasatya, Deva Mahenra, Sheila Dara, hingga Ernest Prakasa dan Jennifer Arnellita.
Hidup Gunawan Garnida (Abimana) tidak lama lagi karena ia didiagnosis menderita kanker. Ketakutan tidak dapat melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, membuat Gunawan memutuskan membuat video yang diputar setiap hari Sabtu untuk anak-anaknya, Satya (Arifin) dan Saka (Deva) dibantu sang istri, Itje (Ira). Satya dan Saka pun beranjak dewasa dan mulai menemukan tambatan hati. Namun, bagaimana seandainya nasihat-nasihat Bapak yang selama ini keduanya pegang hingga dewasa ditangkap dengan cara yang berbeda?
Bisa dibilang, di antara lima film Lebaran lain, Sabtu Bersama Bapak (SBB) begitu sederhana dari segi cerita. Tidak mengisahkan biopik tokoh masyarakat, cerita cinta dua remaja, usaha menyembuhkan patah hati, hingga perjalanan keliling dunia. SBB hanya bercerita tentang keluarga, tapi dengan kisahnya yang heart-warming, film ini bagi saya pribadi adalah film juara di Lebaran tahun ini.
Naskah yang begitu apik dibalut dialog-dialog menawan, beberapa di antaranya bahkan mungkin akan melekat di benak Jelata sehingga bisa jadi quote tersendiri. Adhitya Mulya kembali menunjukkan kepiawaiannya tidak hanya sebagai penulis novel, tetapi juga penulis naskah. Bagi Jelata yang mungkin belum membaca bukunya, jangan takut. Sayapun belum membaca buku fenomenal ini, namun bisa menikmati filmnya dengan baik. Monty Tiwa juga berhasil menuangkan bahasa-bahasa tulisan penulis Gege Mencari Cinta tersebut ke dalam layar lebar dengan memasukkan musik-musik yang didominasi biola dan terdengar menyayat di beberapa bagian. Manis, tapi sekaligus menimbulkan rasa haru. Akting para pemainnya juga juara. Semua mendapat porsi yang pas, bahkan untuk Ira Wibowo sekalipun. Sayang, meskipun Abimana sudah berupaya menumbuhkan kumis dan jenggot agar tampak tua, tapi tetap terlihat bahwa Ira Wibowo sudah lebih berumur dibanding “suaminya” tersebut. Begitupula dengan Acha. Meskipun aktingnya sebagai pasutri di negeri orang dengan Arifin memiliki chemistry yang menarik, namun terasa tidak meyakinkan sebagai ibu beranak dua dengan anak-anak yang usianya sekitar 10 tahun. Kurang karismatik kalau menurut saya.

Monty juga mencoba menggambarkan dunia SBB tidak murni penuh haru, namun juga menyelipkan unsur komedi dalam menggambarkan kehidupan Saka yang masih terus menjomblo hingga akhirnya bertemu Ayu, pujaan hatinya. Leluconnya begitu segar sehingga mampu membuat kita tertawa terbahak-bahak. Namun, sayangnya hal ini seakan menjadi koin dengan dua sisi, di mana kehidupan pernikahan digambarkan berat dan minim tawa, sementara bagi mereka yang belum menikah, kejombloan dijadikan olok-olok. Namun, meskipun begitu, Monty berhasil melakukan perpindahan adegan dengan smooth dan tidak terasa jomplang meskipun Jelata dibawa tertawa dan menit berikutnya sendu.
Kekurangan selalu ada dan itu juga dialami film ini. Jika dalam segi naskah dan akting bisa dibilang bagus, namun adanya plot hole di beberapa adegan membuat saya mengerutkan kening. Ambil contoh, saat kedua anak Rissa (Acha) diajak makan roti oleh orang asing. Ini negara asing, di mana tidak semua orang bersahabat. Jangankan di negeri orang, negeri sendiri pun kita harus berhati-hati. Apakah anak-anak Rissa tidak penah diajari untuk mau menerima ajakan dari orang asing? Pencahayaan pun juga menjadi faktor yang cukup mengganggu di film ini. Flare yang kerap muncul di beberapa adegan membuat saya teringat dengan film-film Soraya Intercine Films yang sering menggunakan hal serupa atau film Super 8.
Terlepas dari segala kekurangan itu, SBB berhasil menyajikan kisah yang hangat mengenai sebuah keluarga. Bahwa nasihat seorang Bapak itu adalah hal terpenting yang akan selalu dipegang oleh anak-anaknya, namun bisa diterima dalam dua sudut pandang yang berbeda. Jangan lupakan pula lantunan suara Wizzi yang catchy saat menyanyikan soundtrack film ini di salah satu adegan. Benar-benar akan teringat sampai Jelata keluar bioskop.
