Warcraft: The Beginning - Hanya Nikmat Ditonton Sekali

by dr. kawe

Warcraft: The Beginning - Hanya Nikmat Ditonton Sekali
EDITOR'S RATING    

Film-film adaptasi game kerap kali gagal dalam perilisannya. Namun, bukan berarti hal itu menjadikan surut berbagai rumah produksi untuk mengangkat game ke layar lebar. Setelah Angry Birds, kini hadir Warcraft: The Beginning. Sanggupkah mereka menjawab ekspektasi para penggemarnya?

Satu lagi game fenomenal yang diangkat menjadi film blockbuster oleh sineas Hollywood. Kali ini, yang mendapat kesempatan untuk unjuk gigi adalah Warcraft. Siapa tak kenal Warcraft, game real time strategy  keluaran Blizzard Entertainment ini sudah populer di seluruh dunia. Sekarang, Legendary Pictures dan Universal Studios mencoba mengangkat kisah epik ini ke layar lebar. Hasilnya? Sebelum mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, mari kita lihat dulu apa yang ditawarkan film ini.

Warcraft adalah sebuah game penuh dengan elemen fantasi berlatar belakang di wilayah bernama Azeroth yang ditinggali oleh manusia dan beragam jenis makhluk lainnya yang hidup damai. Namun, kondisi ini tidak bertahan lama karena makhuk ganas ras Orc menjajah tempat tersebut guna mencari rumah baru karena dunia mereka sudah punah. Tema pertempuran inilah yang coba ditampilkan di layar lebar oleh sutradara Duncan Jones (Source Code). Sudah bisa dipastikan, tampilan CGI kelas tinggi bertebaran di mana-mana sehingga dari segi efek jelas tidak perlu diragukan lagi. Silakan saksikan versi 3D-nya dan manjakan mata Jelata dengan keindahan Azeroth.

Untuk para pemerannya sendiri Travis Fimmel yang populer lewat serial Vikings didapuk menjadi pemeran tokoh sentral Lothar. Selain itu, adapula nama-nama beken seperti Paula Patton (Garona), Ben Foster (Medivh, sang penyihir), dan Dominic Cooper (King LLane). Apakah dikarenakan lebih mementingkan sisi fantasi atau faktor lain, yang jelas para pemain di sini tampak berakting kaku. Tidak ada pendalaman karakter yang dilakukan para aktor sehingga semua tampak biasa. Bahkan emosi antarkarakter pun terlihat kurang tergali sehingga adanya konflik yang muncul tidak meninggalkan bekas di pikiran penonton.

Bagi para penggemar game-nya mungkin mengetahui apa yang akan diangkat di Warcraft: The Beginning ini. Namun, bagi penonton awam tentu harus familiar terlebih dahulu dengan dunia yang ada serta para karakternya. Untunglah, Jones dan timnya mau bersusah-payah menceritakan konflik dan latar beberapa tokoh untuk dikembangkan sepanjang cerita tanpa langsung menuju ke konflik utama. Sayangnya, beberapa karakter dibiarkan begitu saja tanpa disinggung latar mereka. Bisa jadi disebabkan banyaknya karakter serta keterbatasan durasi, Jones memilih seperti itu atau memang disengaja untuk dijelaskan di film berikutnya.

Secara keseluruhan, cerita yang ditawarkan memiliki potensi untuk menjadi besar seperti Lord of the Rings atau Saga Harry Potter karena banyak elemen bagus yang bisa digali. Akan tetapi, tampaknya Warcraft: The Beginning tidak akan mendapat kesempatan itu. Pace penceritaannya lambat, editing yang lompat-lompat, serta karakterisasi yang lemah walaupun ditunjang dengan cerita dan efek yang mumpuni tetap saja memberikan hasil yang sedikit membosankan. Warcraft jelas bukanlah film yang jelek. Film ini masih bisa dinikmati para penonton awam maupun penggemar game-nya, tapi cukup sekali saja.

Artikel Terkait