Midnight Special: Sci-Fi Bernuansa Man of Steel yang Minim Aksi

by dr. kawe

Midnight Special: Sci-Fi Bernuansa Man of Steel yang Minim Aksi
EDITOR'S RATING    

Anak-anak yang memiliki kekuatan tentunya bukanlah sebuah tema yang asing dalam kancah perfilman Hollywood. Umumnya hal itu diangkat ke dalam kisah sains-fiksi yang sarat adegan aksi dan pace cerita yang cepat. Namun, tidak demikian halnya dengan Midnight Special. Apa yang ditawarkan dari penyutradaraan teranyar Jeff Nichols ini?

Anak-anak yang memiliki kekuatan tentunya bukanlah sebuah tema yang asing dalam kancah perfilman Hollywood. Umumnya hal itu diangkat ke dalam kisah sains-fiksi yang sarat adegan aksi dan pace cerita yang cepat. Namun, tidak demikian halnya dengan Midnight Special. Apa yang ditawarkan dari penyutradaraan teranyar Jeff Nichols ini?

Alton Meyer adalah seorang bocah yang terlihat biasa saja. Senang membaca komik dan kerap mengenakan kacamata renang ke manapun ia pergi. Namun, di balik penampilannya itu, Alton ternyata memiliki kemampuan luar biasa. Kemampuan inilah yang menjadi incaran banyak orang, mulai dari sebuah kelompok agama relijius yang menganggapnya sebagai juru selamat hingga pemerintah yang melihatnya sebagai sebuah senjata hidup. Dibantu Ray Tomlin (Michael Shannon), Lucas (Joel Edgerton), dan Sarah (Kristen Dunst), Alton berusaha melarikan diri dari mereka semua dan menemukan jawaban siapa dirinya sebenarnya.

Meskipun sains-fiksi menjadi tema utama dalam film ini, namun jangan bayangkan kisah semenegangkan 10 Cloverfield Lane. Selain muatan ilmiahnya sendiri tidak terlalu kental, film ini juga memasukkan unsur drama keluarga hingga agama. Berbagai faktor tersebut membuat film ini terasa beralur lambat pada awalnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, satu per satu pertanyaan mulai dilemparkan ke benak penonton. Siapa Alton Meyer? Kenapa keberadaannya begitu dicari berbagai pihak? Apa kekuatan yang ia punya? Jawabannya sendiri tidak disajikan secara gamblang, melainkan tertebar sepanjang film sehingga Jelata harus memperhatikan film ini dengan cukup cermat. Salah satu hal yang bisa dibilang terasa sulit karena minimnya aksi dan karena alur lambat tadi. Meskipun beberapa pertanyaan terjawab di akhir film, namun Jelata bisa jadi akan merasa ada beberapa plot hole, seperti asal-usul Alton serta apa yang terjadi pada kelompok agama tersebut pascagagal mendapatkan Alton kembali.

Untunglah, lambatnya alur dan beberapa lubang dalam kisahnya agak tertanggulangi dari sektor akting. Lima aktor utama yang ada mampu menampilkan akting yang menarik dan tentu saja kredit lebih patut disematkan pada Jaeden Lieberher sebagai Alton. Tampilannya akan mengingatkan kita pada Macaulay Culkin muda minus pecicilannya dan Haley Joel Osment dalam The Sixth Sense.

Salah satu hal yang menarik adalah sinematografinya yang akan mengingatkan Jelata pada salah satu film keluaran Warner Bros. Pictures juga, yaitu Man of Steel. Warna-warna oranye, latar belakang tanaman gandum yang melambai tertiup angin, dan suasana tenang khas pertanian akan membuat pikiran Jelata kembali ke film Superman garapan Zack Snyder tersebut. Uniknya, di salah satu adegan, diperlihatkan Alton sedang membaca komik Superman dan bertanya apa itu Kryptonite seakan-akan memang ingin menegaskan bahwa nuansa dalam film ini sedikit “mencontek” Man of Steel.

Secara keseluruhan, Midnight Special bukanlah film sains-fiksi yang bisa memikat banyak orang seperti halnya 10 Cloverfield Lane. Namun, berbagai misteri yang ditumpuk perlahan dari awal hingga akhirnya terjawab di akhir film tetap menarik untuk disimak. Tapi ingat, jangan tonton film ini dalam keadaan lelah atau tidak fokus karena film ini tidak bisa dikatakan ringan dan butuh pikiran segar untuk menyaksikannya.

Artikel Terkait